Arah Ekspansi Bisnis Emiten Jagoan Lo Kheng Hong (ABMM) 2026, Intip Prospeknya

Nur Hana Putri Nabila
30 April 2026, 08:49
Lo Kheng Hong
Istimewa
Lo Kheng Hong (ke empat dari kiri) seusai menghadiri RUPST PT ABM Investama Tbk (ABMM), Rabu (10/5/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten portofolio investor kawakan Lo Kheng Hong, PT ABM Investama Tbk (ABMM), mengungkapkan arah bisnisnya untuk tahun ini. Perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga US$ 85 juta atau sekitar Rp 1,47 triliun pada 2026.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan anggaran tahun lalu. Investor Relations ABMM, Moh Ditto Ananta Nugraha menjelaskan, total capex pada 2025 sebesar US$ 131 juta yang digunakan untuk akuisisi PT Tambang Piranti Jaya Utama senilai US$ 57 juta.

Kedua, alokasi belanja modal lainnya difokuskan untuk pengembangan bisnis kontraktor pertambangan perseroan. “Jadi itu heavy equipment untuk mendukung kinerja operasional di kontraktor kami,” ucap Ditto dalam konferensi pers ABMM di Jakarta, Rabu (29/4). 

Dia menyebut belanja modal lebih rendah dibandingkan 2025 karena perusahaan mengakuisisi tambang. Apabila komponen itu dikeluarkan, capex operasional justru menunjukkan kenaikan, terutama pada segmen alat berat yang diproyeksikan lebih tinggi pada 2026.

Tak hanya itu, ia juga optimistis terhadap prospek bisnis perusahaan dan juga tidak menutup kemungkinan membuka peluang ekspansi maupun akuisisi pada 2026 apabila terdapat kesempatan yang dinilai menarik. 

“Jadi untuk nilai cash kami yang relatively lumayan tinggi US$ 200 juta di akhir Tahun 2025,” kata Ditto.

Adapun untuk 2026, Ditto mengatakan ABMM membidik pendapatan sekitar US$ 1 miliar. Perusahaan juga membidik laba bersih di kisaran US$ 80 juta–US$ 90 juta sepanjang 2026.

Sepanjang tahun lalu, ABMM merealisasikan sejumlah aksi strategis untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, terutama melalui pengembangan dan ekspansi bisnis pertambangan di Sumatra dan Kalimantan.

Direktur Utama ABMM, Achmad Ananda Djajanegara mengatakan, perusahaan telah mengakuisisi dua perusahaan tambang yakni PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) pada 2024 dan PT Piranti Jaya Utama (PJU) pada 2025.

Melalui anak usahanya, PT Reswara Minergi Hartama (Reswara), ABMM lebih dulu mengakuisisi NCN pada 2024 lewat PT Nagata Dinamika HidroPongko (NDHP). Akuisisi tersebut demi meningkatkan kapasitas produksi batu bara sekaligus memperkuat portofolio tambang di Sumatra. 

Tambang yang berlokasi di Meulaboh, Aceh Barat itu memiliki potensi cadangan sekitar 31 juta ton dengan kalori 3.000–3.100 kcal/kg. NCN juga telah mencatatkan penjualan perdana (first sales) pada Februari 2026. 

Dengan luas area mencapai 3.198 hektare dan total sumber daya sebesar 87,34 juta ton, tambang itu diproyeksikan menjadi salah satu penopang pasokan energi perseroan ke depan.

Selain itu, Reswara juga mengakuisisi PJU pada 2025. Tambang yang berlokasi di Kapuas, Kalimantan Tengah itu memiliki luas konsesi sekitar 4.800 hektare. Perseroan menargetkan PJU mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2026.

Adapun potensi sumber daya sebesar 83,4 juta ton dan cadangan sekitar 34 juta ton, dan kualitas batu bara dengan kalori 4.800–5.100 kcal/kg.

Andi mengatakan tengah mempersiapkan operasional PJU untuk mengantisipasi permintaan pasar Asia yang terus meningkat. Tak hanya itu, tambang tersebut diharapkan dapat memperkuat portofolio produksi sekaligus mendukung stabilitas pasokan energi ABMM dalam jangka panjang.

“Dan diproyeksikan menjadi aset bernilai tinggi dalam ekosistem grup perusahaan,” ungkap bos ABMM yang akrab disapa Andi itu dalam keterangannya. 

Di tengah tantangan eksternal sepanjang 2025, keberhasilan ABMM dalam melakukan efisiensi operasional memungkinkan perusahaan menjaga kinerja operasional dengan volume overburden removal mencapai 235,5 juta BCM. 

“Pencapaian ini menegaskan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan aset dan sumber daya di tengah kondisi pasar yang menantang untuk tetap memenuhi kebutuhan pelanggan,” ujar Andi.

Ke depan, ABM Investama juga terus memperluas lini bisnis melalui diversifikasi dan penguatan layanan logistik. Upaya ini tercermin dari kinerja anak usaha di sektor logistik dan fabrikasi yang menunjukkan tren positif.

Perusahaan mencatat CKB Logistics berhasil meningkatkan tingkat ketepatan waktu pengiriman (on-time delivery) secara signifikan. Sementara itu, Sanggar Sarana Baja memperluas pasar ekspor dengan mengirimkan side dump truck ke Mongolia.

Di sisi lain, ABMM juga terus menjaga kemitraan strategis dengan klien utama, termasuk Freeport Indonesia. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...