Laba TINS Melonjak 702% jadi Rp 1,5 Triliun Kuartal I, Bagaimana Prospeknya?

Karunia Putri
4 Mei 2026, 11:51
Seorang pekerja menghitung balok timah hasil produksi di gudang penyimpanan di PT Timah Tbk di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (16/10/2025). PT Timah Tbk menargetkan produksi bijih timah dan logam timah sebesar 21,5 ribu t
ANTARA FOTO/Andri Saputra/bar
Seorang pekerja menghitung balok timah hasil produksi di gudang penyimpanan di PT Timah Tbk di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (16/10/2025). PT Timah Tbk menargetkan produksi bijih timah dan logam timah sebesar 21,5 ribu ton dan volume penjualan 19,06 ton hingga akhir tahun 2025 untuk dapat mencapai target yang telah ditentukan
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten tambang timah pelat merah PT Timah Tbk (TINS) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka ini melonjak 702,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 187,48 miliar.

Naiknya rapor kinerja keuangan TINS juga tercermin dari EBITDA yang naik 450,84% menjadi Rp 2,1 triliun, dari Rp 380 miliar pada triwulan pertama 2025.

Lonjakan laba ditopang oleh kenaikan pendapatan yang signifikan. Pendapatan TINS tercatat naik 160% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 5,46 triliun, dibandingkan Rp 2,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro mengatakan pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan kinerja operasional di seluruh lini bisnis disertai strategi efisiensi yang dijalankan secara konsisten.

“Kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pencapaian kinerja operasional yang cukup signifikan serta konsistensi strategi optimalisasi dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis. Sehingga Perseroan berhasil melampaui target laba yang telah ditetapkan,” ujar Restu dalam keterangan resmi, dikutip Senin (4/5).

Menurut dia, pertumbuhan pendapatan juga didukung oleh pengetatan pasokan timah global dan penguatan sentimen spekulatif pasar. Meski demikian, momentum kenaikan mulai menghadapi tekanan akibat meningkatnya persediaan global dan indikasi pemulihan pasokan.

Selain itu, eskalasi risiko geopolitik turut meningkatkan ketidakpastian serta menambah tekanan terhadap biaya operasional dan kelancaran rantai pasok.

Pada kuartal pertama 2026, harga rata-rata timah berdasarkan Cash Settlement Price London Metal Exchange (LME) mencapai US$ 48.679,68 per metrik ton, naik 34,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 36.804,37 per metrik ton.

Dari sisi permintaan, sekitar 50% konsumsi timah global masih ditopang segmen solder yang terintegrasi dengan industri semikonduktor dan elektronik. Permintaan dari segmen ini diperkirakan tetap kuat seiring tren jangka panjang seperti pengembangan kecerdasan buatan (AI), ekspansi pusat data, penyimpanan energi dan investasi infrastruktur kelistrikan.

Sementara itu, persediaan timah di gudang LME pada akhir Maret 2026 mencapai 8.700 ton, naik 60,7% dibandingkan awal tahun sebesar 5.415 ton.

Mengacu pada CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada kuartal pertama 2026 mencapai 90.645 ton, sementara konsumsi diperkirakan sebesar 89.036 ton.

Dari sisi operasional, produksi bijih timah TINS naik 96% menjadi 6.312 ton Sn, dari 3.225 ton Sn pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan produktivitas dan bertambahnya unit operasi, termasuk Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP) serta tambang darat kemitraan.

Perseroan juga mulai mengoperasikan satu unit Kapal Keruk, yakni KK Singkep 1 yang belum beroperasi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, peningkatan produksi didukung penguatan pengawasan wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) serta dukungan satuan tugas pemerintah di area operasional.

Produksi logam timah naik 82% menjadi 5.630 metrik ton Sn, sedangkan penjualan melonjak 113% menjadi 6.009 metrik ton.

Sebanyak 97% penjualan perseroan berasal dari pasar ekspor, sementara pasar domestik berkontribusi 3%. Enam negara tujuan ekspor utama meliputi China sebesar 48%, India 11%, Korea Selatan 10%, Italia 6%, Singapura 5% dan Belanda 4%.

Ke depan, manajemen TINS menilai prospek perseroan tetap positif. Hal tersebut ditopang peningkatan volume produksi, optimalisasi penambangan darat dan laut serta tren harga timah global yang diperkirakan masih kuat di tengah ketatnya pasokan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...