IHSG Diramal Koreksi Imbas Data PMI, Saham BUVA hingga INDF Direkomendasikan
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini, Selasa (5/5). Namun, analis merekomendasikan saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) untuk dikoleksi di tengah tekanan indeks.
IHSG berhasil ditutup naik 0,22% ke level 6.971 pada perdagangan kemarin, tetapi didominasi oleh tekanan jual. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan IHSG secara teknikal tengah berada pada bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2).
“Hal tersebut berarti, IHSG akan rawan terkoreksi ke rentang 6.645–6.838,” tulis Herditya dalam risetnya, Selasa (5/5).
MNC Sekuritas memperkirakan area support IHSG berada di level 6.838 dan 6.745, sedangkan area resistance terdekat berada di 7.022 dan 7.240.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness pada sejumlah saham. Salah satunya saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang dapat diakumlasi beli di rentang Rp 965–Rp 1.035 dengan target harga di Rp 1.155–1.270, dan level stoploss di bawah Rp 925.
Kemudian saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) direkomendasikan untuk dibeli saat melemah atau buy on weakness pada area Rp 1.770–Rp 1.820. Target harga di Rp 1.865–Rp 1.955, serta stoploss di bawah Rp 1.720
Sementara itu, Phintraco Sekuritas juga menilai secara teknikal, indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area oversold. Namun, pembentukan histogram negatif MACD masih berlanjut meskipun dengan laju mulai melemah.
“Sehingga IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi di kisaran level 6.900–7100,” tulis analisis Phintraco, Selasa (5/5).
Phintraco Sekuritas sejumlah sentimen juga mempengaruhi pergerakan IHSG, salah satunya aktivitas manufaktur Indonesia melemah pada April 2026. Indeks PMI manufaktur turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret 2026, masuk ke level kontraksi dan menjadi yang terendah sejak Juni 2025.
Pelemahan ini disinyalir dipengaruhi oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang menekan aktivitas global. Dari sektor eksternal, surplus neraca perdagangan tercatat menyusut menjadi US$ 3,32 miliar pada Maret 2026, dibandingkan US$ 4,33 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini dipicu oleh kontraksi ekspor sebesar 3,1% secara tahunan, sementara impor justru meningkat 1,51%. Meski demikian, surplus tersebut membaik dibandingkan Februari 2026 yang hanya US$ 1,28 miliar, masih di bawah ekspektasi pasar sebesar US$ 4,2 miliar.
Sementara itu, inflasi tahunan melandai ke level 2,4% pada April 2026 dari 3,48% pada Maret 2026, menjadi yang terendah sejak Agustus 2025. Penurunan ini terutama didorong oleh meredanya kenaikan harga pangan dan perumahan.
Adapun kedepannya pelaku pasar akan mencermati rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 yang diperkirakan terkontraksi 0,7% secara kuartalan, setelah sebelumnya tumbuh 0,86% pada kuartal IV 2025. Ekonomi diproyeksikan tumbuh 5,6%, secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan 5,39% pada kuartal sebelumnya.
“Sementara itu, diberitakan pemerintah akan segera memberlakukan bea keluar dan windfall tax untuk komoditas nikel dalam rangka menutup biaya subsidi BBM,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
