Wall Street Rontok Imbas Gejolak Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak

Nur Hana Putri Nabila
5 Mei 2026, 06:29
Wall Street, dow jones, S&P500, nasdaq
ANTARA
Ilustrasi. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 557,37 poin atau 1,13% ke 48.941,90. Sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,41% ke 7.200,75 dan Nasdaq Composite melemah 0,19% ke 25.067,80.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa saham Wall Street Amerika Serikat (AS) terkoreksi pada perdagangan Senin (4/5) seiring eskalasi di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan  meningkatkan kekhawatiran pasar. 

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 557,37 poin atau 1,13% ke 48.941,90. Sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,41% ke 7.200,75 dan Nasdaq Composite melemah 0,19% ke 25.067,80.

Tekanan datang setelah Uni Emirat Arab mengonfirmasi telah mencegat sejumlah rudal dari Iran. Ini menjadi pertama kalinya sistem peringatan rudal negara itu aktif sejak gencatan senjata dengan AS bulan lalu.

Ketegangan ini langsung mendorong harga minyak melonjak, dengan West Texas Intermediate naik 4,39% ke US$ 106,42 per barel dan Brent melonjak 5,8% ke US$ 114,44 per barel.

Kenaikan harga energi juga dipicu laporan yang saling bertentangan soal dugaan serangan Iran terhadap kapal perang AS dan aktivitas di Selat Hormuz. Media Iran melaporkan adanya kapal yang dipaksa berbalik, sedangkan militer Iran mengklaim tengah menghalau kapal perang “Amerika-Zionis”. Namun, Komando Pusat AS menyatakan tidak ada kapal angkatan lautnya yang terkena serangan.

Di tengah situasi itu, Donald Trump mengumumkan inisiatif “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal kargo keluar dari Selat Hormuz, meski belum merinci mekanismenya.

Pernyataan ini muncul setelah Iran mengirimkan respons terbaru terkait proposal perdamaian, yang sebelumnya sempat memicu optimisme pasar.

Analis pun menilai konflik di Timur Tengah belum akan mereda dalam waktu dekat. CEO Infrastructure Capital Advisors Jay Hatfield memperkirakan ketegangan masih akan berlanjut dan berpotensi menekan pasar. Namun, ia tetap optimistis S&P 500 dapat mencapai level 8.000 hingga akhir tahun, ditopang musim laporan keuangan yang solid.

“Kami tidak berpikir Iran akan membuang kemampuan nuklirnya, dan kemungkinan besar harus dilakukan dengan paksa, dan itu tidak akan diterima dengan baik oleh pasar,” ungkap Hatfield dikutip CNBC International, Selasa (5/5).

Di sisi lain, saham sektor logistik tertekan setelah Amazon mengumumkan ekspansi jaringan logistiknya untuk bisnis. Saham GXO Logistics anjlok hampir 18%, sementara UPS dan FedEx masing-masing turun sekitar 10% dan 9%.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...