Harga Pangan Dunia Naik Tiga Bulan Beruntun, Tertinggi Sejak 2023
Harga pangan dunia kembali mengalami kenaikan pada April 2026 dan mencatat tren naik selama tiga bulan berturut-turut. Kenaikan ini dipicu lonjakan biaya energi dan gangguan rantai pasok komoditas pangan imbas krisis di selat Hormuz.
Dalam laporan terbarunya, Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan indeks harga pangan global atau FAO Food Price Index berada di level 130,7 poin pada April 2026. Angka tersebut tercatat naik 1,6% dibandingkan Maret dan meningkat 2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan terutama didorong oleh harga serealia dan minyak nabati. Indeks harga serealia FAO naik 0,8% secara bulanan, seiring kenaikan harga gandum global sebesar 0,8% akibat kekhawatiran kekeringan di Amerika Serikat dan potensi curah hujan di bawah normal di Australia.
Selain itu, tingginya harga pupuk dan energi akibat gangguan di Selat Hormuz juga memicu kekhawatiran berkurangnya penanaman gandum pada 2026.
Chief Economist FAO, Máximo Torero mengatakan sistem pangan global sejauh ini masih cukup tangguh menghadapi tekanan geopolitik dan energi. Meski demikian, harga minyak nabati mengalami tekanan lebih besar karena tingginya harga minyak mentah meningkatkan permintaan biofuel.
“Harga serealia sejauh ini hanya naik moderat karena stok masih cukup kuat. Namun minyak nabati mengalami kenaikan lebih tinggi karena tingginya harga minyak mendorong permintaan biofuel,” ujar Torero dalam laporan FAO, dikutip Senin (11/5).
Harga jagung global juga naik 0,7% akibat pasokan musiman yang lebih ketat, cuaca kering di Brasil dan Amerika Serikat, serta tingginya permintaan etanol di tengah kenaikan harga minyak mentah. Sementara itu, indeks harga beras FAO naik 1,9% dipicu kenaikan biaya produksi dan distribusi di negara-negara eksportir beras.
Di sisi lain, indeks harga minyak nabati FAO melonjak 5,9% dibandingkan Maret dan menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan dipicu naiknya harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed.
Harga minyak sawit internasional tercatat naik selama lima bulan berturut-turut didorong peningkatan permintaan sektor biofuel serta kekhawatiran penurunan produksi di Asia Tenggara.
FAO juga mencatat indeks harga daging dunia mencapai rekor tertinggi baru pada April setelah naik 1,2% dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 6,4% secara tahunan.
Harga daging sapi naik akibat terbatasnya pasokan ternak siap potong di Brasil, sedangkan harga daging babi meningkat karena permintaan musiman di Uni Eropa.
Sebaliknya, indeks harga produk susu turun 1,1% akibat pasokan susu yang melimpah di Uni Eropa dan Oseania. Harga gula dunia juga turun 4,7% dibandingkan Maret dan anjlok 21,2% secara tahunan karena prospek pasokan global yang melimpah, terutama dari China, Thailand, dan Brasil.
FAO memperkirakan produksi serealia global pada 2025 mencapai 3,04 miliar ton atau naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun untuk produksi gandum 2026, FAO memangkas proyeksi menjadi 817 juta ton atau turun sekitar 2% dibandingkan tahun lalu akibat tingginya biaya energi dan pupuk di tengah gangguan perdagangan global terkait krisis Selat Hormuz.
