Pengumuman MSCI Kian Dekat, Ini yang Perlu Diperhatikan Emiten soal Refloat

Karunia Putri
11 Mei 2026, 15:18
MSCI
MSCI
Ilustrasi logo penyedia indeks global MSCI.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pengelola indeks global MSCI bakal mengumumkan hasil rebalancing indeks besok, Selasa (12/5). Seperti pengumuman yang disampaikan pada 21 April lalu, MSCI belum akan memasukkan saham-saham Indonesia ke dalam indeks terbarunya.

MSCI menyatakan masih membekukan seluruh kenaikan pada foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS) untuk saham-saham Indonesia. MSCI juga tidak memasukkan saham domestik baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

Tak hanya itu, MSCI juga belum membuka peluang migrasi saham antarsegmen indeks, termasuk dari kategori Small Cap ke Standard. Lembaga indeks asal Amerika Serikat itu juga menyatakan bakal menghapus sekuritas yang diidentifikasi otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Salah satu perhatian utama MSCI adalah persoalan free float atau porsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik. MSCI membuka ruang bagi masukan dari pelaku pasar, khususnya terkait penggunaan sumber data dan kebijakan baru yang diterapkan otoritas Indonesia untuk menilai tingkat investabilitas pasar domestik.

“MSCI berencana memberikan informasi lebih lanjut sebagai bagian dari tinjauan aksesibilitas pasar yang dijadwalkan pada Juni 2026,” tulis MSCI dalam pengumuman 21 April 2026.

Dalam evaluasinya, MSCI juga mencatat langkah reformasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) guna meningkatkan transparansi pasar modal Indonesia.

Adapun dari pihak pasar modal Indonesia, BEI telah melaporkan saham-saham yang belum memenuhi ketentuan free float 15% serta saham-saham apa saja yang masuk dalam daftar HSC.

Apa yang Perlu Dibenahi dalam Perbaikan Refloat?

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim menjelaskan, agenda peningkatan free float atau refloat menjadi tantangan besar bagi emiten-emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.

Menurut dia, hampir seluruh opsi yang tersedia untuk meningkatkan free float pada akhirnya menuntut keputusan strategis dari pemegang saham pengendali, terutama terkait kesediaan mereka mengurangi porsi kepemilikan.

“Strategi reflotasi yang efektif pada akhirnya mengharuskan pengurangan kepemilikan keluarga pengendali. Ini saatnya para pemilik mengambil keputusan,” ujar Shim dalam agenda Media Connect Samuel Sekuritas beberapa hari lalu.

Ia menilai persoalan utama saat ini terletak pada belum adanya kepastian parameter yang digunakan MSCI dalam menilai apakah suatu kepemilikan individu masih dianggap bagian dari kelompok pengendali atau benar-benar masuk kategori publik.

“Kalau kepemilikannya atas nama individu, kita belum tahu batasannya seperti apa. Itu yang menjadi persoalan,” kata dia.

Shim kemudian memetakan sejumlah opsi yang dapat ditempuh emiten untuk meningkatkan free float, namun masing-masing memiliki tantangan tersendiri.

Pertama, rights issue atau HMETD. Langkah ini dapat menambah porsi saham publik, tetapi berisiko menurunkan kepemilikan pemegang saham pengendali sekaligus menekan harga saham akibat dilusi.

Kedua, dual listing atau pencatatan internasional melalui depositary receipts. Opsi ini dinilai mahal karena membutuhkan biaya pencatatan tinggi serta kepatuhan pada regulasi lintas yurisdiksi. Selain itu, likuiditas berpotensi berpindah ke bursa luar negeri.

Ketiga, transfer saham ke special purpose vehicle (SPV). Cara ini belum tentu efektif karena jika pemilik manfaat akhirnya masih terafiliasi dengan pengendali, MSCI kemungkinan tetap tidak menghitungnya sebagai free float.

Keempat, transfer saham ke nominee individu. Strategi ini menghadapi tantangan operasional besar. Sebagai ilustrasi, untuk memindahkan saham senilai Rp 10 triliun dengan porsi Rp 10 miliar per akun, emiten membutuhkan sekitar 1.000 akun nominee.

Kelima, transaksi repo. Meski secara teknis dapat mengubah kepemilikan sementara ke perusahaan sekuritas, status free float tetap bergantung pada siapa pihak peminjam dan apakah terdapat afiliasi dengan pengendali.

Keenam, menjual saham ke investor strategis seperti sovereign wealth fund. Opsi ini dinilai paling jelas dari sisi pengakuan free float, namun konsekuensinya pemegang saham pengendali harus rela melepas sebagian kendali.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...