Menakar Bobot Saham Indonesia di MSCI Emerging Market Jelang Rebalancing Mei

Nur Hana Putri Nabila
12 Mei 2026, 14:53
Apa Itu Investasi Saham
Pexels
Apa Itu Investasi Saham
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets berpotensi berubah jelang rebalancing terbaru yang dijadwalkan Juni 2026. Pasalnya MSCI Inc disebut akan mereformasi status pasar modal di sejumlah negara, di antaranya adalah Korea Selatan dan Vietnam.

Perubahan status itu dinilai berpotensi mengubah peta aliran dana asing di kawasan Asia, termasuk terhadap pasar modal Indonesia. Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, mengaku perubahan klasifikasi negara dalam indeks MSCI Emerging Markets Index akan memengaruhi bobot Indonesia. 

Menurutnya, apabila Vietnam naik kelas dari Frontier Market menjadi Emerging Market, bobot Indonesia berpotensi berkurang karena porsi dana di indeks akan terbagi dengan masuknya negara baru.

Sebaliknya, jika Korea Selatan dipromosikan dari Emerging Market menjadi Developed Market, maka bobot Indonesia berpotensi meningkat karena memperoleh limpahan porsi dari keluarnya Korea dari indeks MSCI Emerging Markets.

Seandainya terjadi, bagaimana dan seberapa bobot Indonesia di emerging market?

Rudiyanto menyebut perubahan status negara dalam indeks MSCI Emerging Markets Index perlu waktu. Ia menjelaskan dalam prosesnya, baik untuk Vietnam maupun Korea Selatan, memerlukan waktu karena harus melalui tahapan Market Accessibility Review yang dilakukan setiap Juni. Sebelum kemudian penyesuaian dilakukan dalam Semi Annual Index Review (SAIR) maupun Quarterly Index Review (QIR) berikutnya.

Selain faktor klasifikasi negara, Rudiyanto mengatakan perubahan bobot saham dalam indeks MSCI juga terjadi secara alami seiring pergerakan kapitalisasi pasar. Perhitungan bobot tersebut dipengaruhi harga saham, jumlah saham beredar, free float, hingga nilai tukar dolar AS.

“Bobot negara adalah bobot dari seluruh saham di negara tersebut yang dijumlahkan, jadi bobot negara berubah mengikuti saham dan kurs juga,” tulis Rudiyanto dalam analisisnya, dikutip Selasa (12/5). 

Berdasarkan estimasi bobot per negara menggunakan ETF iShares MSCI Emerging Markets ETF, Rudiyanto, menjelaskan produk ETF tersebut berinvestasi pada saham-saham MSCI Standard dari 24 negara kategori emerging markets.

Per 8 Mei 2026, dana kelolaan ETF itu tercatat mencapai US$ 29,75 miliar atau sekitar Rp 513 triliun. Adapun hingga 7 Mei 2026, Taiwan menjadi negara dengan bobot terbesar di indeks MSCI Emerging Markets Index dengan porsi 25,26% yang terdiri dari 84 perusahaan.

Lalu saham terbesar dalam ETF tersebut yakni Taiwan Semiconductor Manufacturing Company dengan bobot mencapai 14,38%. TSMC sendiri merupakan produsen semikonduktor terbesar di dunia dengan pangsa pasar sekitar 70%. Termasuk memproduksi chip untuk perusahaan teknologi besar seperti NVIDIA dan Advanced Micro Devices.

Berikut daftar bobot MSCI Emerging Market (dalam %):

Negara31-Dec-2531-Mar-2630-Apr-267-May-26
Brazil4,375,24,694,32
Chile0,550,550,490,49
China27,3925,1822,7621,91
Colombia0,150,170,150,13
Czech Republic0,160,130,120,12
Egypt0,070,080,080,08
Greece0,560,510,480,47
Hungary0,320,330,360,34
India15,2312,511,9411,4
Indonesia1,150,910,740,71
Korea (South)13,3515,5718,6820,67
Kuwait0,680,650,590,55
Malaysia1,231,261,081,08
Mexico1,952,071,871,82
Peru0,370,430,370,34
Philippines0,390,360,310,31
Poland1,121,131,11,05
Qatar0,670,620,550,52
Saudi Arabia2,853,062,642,41
South Africa3,813,643,273,25
Taiwan20,622,5324,7825,26
Thailand0,991,151,051
Turkey0,430,480,450,42
United Arab Emirates1,431,331,181,14

Sumber: ishare.com/diolah Rudiyanto

Sementara itu, Cina menjadi negara dengan bobot terbesar kedua di indeks MSCI Emerging Markets Index dengan porsi mencapai 21,91%. Adapun tiga saham dengan bobot terbesar dari Cina yakni Tencent Holdings sebesar 3,08%, Alibaba Group 2,45%, serta China Construction Bank 0,86%.

“Bobot China besar karena ada 579 saham dalam MSCI EM,” kata Rudiyanto. 

Rudiyanto mengatakan sebagian saham Cina di indeks MSCI Emerging Markets Index diperdagangkan melalui Hong Kong, meski Hong Kong sendiri telah masuk kategori developed market.

Sementara itu, Korea Selatan menempati posisi ketiga dengan total 80 saham dan bobot mencapai 20,67%, melonjak dibanding awal tahun yang sebesar 13,35%. Dua saham terbesar dari Korea Selatan adalah Samsung Electronics dengan dua kelas saham yang secara total berbobot 7,83%, serta SK Hynix sebesar 4,92%.

Menurut Rudiyanto, penguatan bobot Korea Selatan ditopang kinerja perusahaan chip seperti Samsung dan SK Hynix yang diuntungkan tingginya permintaan industri semikonduktor global.

Di sisi lain, bobot Indonesia terus turun dari 1,15% pada awal tahun menjadi 0,71%. Ia menilai penurunan tersebut dipicu oleh downgrade saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dari kategori standard menjadi small caps, serta koreksi harga saham akibat berbagai sentimen internal maupun eksternal.

Meski begitu, Rudiyanto menilai Indonesia berpotensi diuntungkan apabila Korea Selatan dipromosikan dari emerging market menjadi developed market. Hal itu karena porsi bobot negara tersebut akan didistribusikan kembali ke negara lain di indeks MSCI EM.

Dalam simulasi perhitungan Rudiyanto, total kapitalisasi MSCI EM lama tercatat sebesar US$ 11,68 triliun. Setelah Korea Selatan keluar dengan nilai US$ 2,18 triliun dan Vietnam masuk sebesar US$ 63,97 miliar, maka total kapitalisasi MSCI EM baru menjadi sekitar US$ 9,56 triliun.

Dengan asumsi kapitalisasi Indonesia tetap sebesar US$ 84,66 miliar, bobot Indonesia di MSCI EM berpotensi naik dari sekitar 0,72% menjadi 0,88%.

“Jadi efek dari Korea dan Vietnam promosi bersamaan adalah kenaikan dari 0,72% menjadi 0,88% Meski "cuma" +0.16%, tapi secara persentase naik 22%,” ucap Rudiyanto. 

Ia mencontohkan, apabila suatu ETF sebelumnya memiliki saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1 triliun, maka kenaikan bobot sekitar 22% berpotensi membuat ETF tersebut menambah kepemilikan hingga Rp 220 miliar.

Menurut Rudiyanto, kenaikan bobot Indonesia sekitar 0,16% saja sudah sangat berarti bagi pasar modal domestik. Ia mengaku Indonesia berpotensi diuntungkan apabila Korea Selatan dipromosikan menjadi developed market.

Namun, ia juga mengingatkan skenario berbeda jika Vietnam lebih dulu naik kelas ke emerging market sementara Korea Selatan tetap bertahan di MSCI EM.

Dalam simulasi perhitungannya, total kapitalisasi MSCI EM lama tercatat sebesar US$ 11,68 triliun. Setelah Vietnam masuk dengan kapitalisasi US$ 63,97 miliar, total kapitalisasi indeks menjadi sekitar US$ 11,75 triliun.

Dengan asumsi kapitalisasi Indonesia tetap, bobot Indonesia diperkirakan turun tipis dari 0,7291% menjadi 0,7253% atau melemah sekitar 0,0038 poin. Secara persentase, penurunan tersebut setara sekitar 0,52%.

Dengan demikian, Rudiyanto memproyeksikan bobot Indonesia di MSCI Emerging Market berpotensi naik sekitar 22% apabila Korea Selatan dan Vietnam sama-sama promosi. Namun bisa turun sekitar 0,52% apabila hanya Vietnam yang masuk lebih dulu ke indeks emerging market.

“Total Free Float Market Caps Indonesia masih sedikit lebih besar dari Vietnam, jadi efeknya terbatas, tapi ini posisi April 2026, ke depan tidak ada yang tahu,” ungkap Rudiyanto.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...