Gejolak MSCI Gerus Harta Konglomerat, Agus Projo Terdepak dari Orang Terkaya RI
Pasar modal Indonesia mengalami turbulensi setelah pengelola indeks global MSCI mendepak 18 saham Indonesia dari indeksnya. Hal ini ikut menyeret turun nilai kekayaan para konglomerat Tanah Air. Dampaknya, komposisi penghuni daftar 20 orang terkaya di Indonesia mengalami perubahan pada Mei 2026.
Salah satu yang paling terdampak adalah bos PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yaitu Agoes Projosasmito. Setelah sempat menembus jajaran 10 besar orang terkaya di Indonesia pada Januari lalu, kini posisi Agoes melorot ke peringkat ke-14.
Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Senin (18/5), kekayaan Agoes tercatat sebesar US$ 2,4 miliar atau setara Rp 42,3 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.628 per dolar AS. Nilai tersebut anjlok 62,5% dibandingkan kekayaannya yang sempat mencapai US$ 6,4 miliar pada awal tahun. Artinya, dalam empat bulan, kekayaan Agoes susut sekitar US$4 miliar.
Penurunan serupa juga dialami pendiri Tancorp Group yakni Hermanto Tanoko. Sebelumnya dia masuk dalam daftar 10 besar orang terkaya Indonesia, kini posisinya turun ke-17 dengan total kekayaan US$ 1,9 miliar.
Di jajaran teratas, Prajogo Pangestu memang masih bertahan sebagai orang terkaya di Indonesia. Namun, nilai kekayaannya tergerus signifikan. Harta kekayaan pemilik Grup Barito itu menguap US$ 20,3 miliar. Berdasarkan data, harta kekayaannya pada Januari sebesatr US$ 37,8 miliar kini menjadi US$ 17,5 miliar.
Di tengah tekanan yang dialami konglomerat tersebut, nama Anthoni Salim justru sedang terang benderang. Salim kini menempati posisi keempat orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai US$ 11 miliar atau setara Rp 193,9 triliun. Padahal, dalam daftar 10 orang terkaya versi Forbes pada Januari lalu namanya belum masuk.
Perombakan daftar orang terkaya Indonesia tak lepas dari koreksi tajam harga saham sejumlah emiten setelah MSCI menyoroti isu free float saham di BEI. Dalam hasil rebalancing yang diumumkan pada 12 Mei 2026, MSCI memutuskan tidak menaikkan status pasar saham Indonesia dan justru mengeluarkan 18 saham dari indeksnya.
Keputusan tersebut memicu tekanan jual di pasar, terutama pada saham-saham yang sebelumnya menjadi andalan portofolio investor asing. Karena sebagian besar kekayaan para konglomerat berasal dari kepemilikan saham perusahaan mereka, koreksi harga saham otomatis menggerus valuasi kekayaan mereka.
Sebelumnya, MSCI mendepak 18 saham dari indeks mereka. Sebanyak enam saham Indonesia dari daftar MSCI Global Indexes. Tiga di antaranya merupakan saham milik konglomerat Prajogo Pangestu yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Lalu mengeluarkan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Untuk PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), MSCI mengeluarkannya dari daftar indeks global dan menurunkannya ke MSCI Small Cap Indexes.
Adapun BREN dan DSSA merupakan emiten yang masuk dalam daftar pemegang saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). MSCI tidak menambah saham Indonesia dalam kategori indeks global cap.
Daftar 20 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes per Mei 2026:
- Prajogo Pangestu US$ 17,5 miliar
- Low tuck Kwong US$ 16 miliar
- R Budi Hartonoi US$ 15,7 miliar
- Anthoni Salim US$ 11 miliar
- Tahir dan Keluarga US$ 9 miliar
- Sri Prakash Lohia US$ 8,7 miliar
- Otto Toto Sugiri US$ 8,5 miliar
- Maria Budiman US$ 6,1 miliar
- Lim Hariyanto Wijaya Sarwono US$ 4,9 miliar
- Theodore Rachmat US$ 4,5 miliar
- Sukanto Tanoto US$ 4,3 miliar
- Haryanto Tjiptohardjo US$ 4,2 miliar
- Han Arming Hanafia US$ 4 miliar
- Agoes Projosasmito US$ 2,4 miliar
- Djoko Susanto US$ 2 miliar
- Bambang Susantio US$ 1,9 miliar
- Hermato Tanoko US$ 1,9 miliar
- Mochtar Riady dan Keluarga US$ 1,8 miliar
- Wirastuty Fangiono US$ 1,8 miliar
- Bachtiar Karim US$ 1,6 miliar
