IHSG Rawan Turun Hari Ini, Analis Rekomendasikan Saham UNVR, BBTN, AADI, MBMA
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan masih rawan terkoreksi pada perdagangan hari ini (21/5). Meski begitu, analis merekomendasikan sejumlah saham seperti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) hingga PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Sejak awal tahun alias year to date (ytd), IHSG melorot 26,93%. Indeks ditutup turun 0,82% ke level 6.318 pada perdagangan kemarin (20/5) dan didominasi tekanan jual, setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato di rapat paripurna DPR.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan IHSG saat ini berada pada bagian wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam. Istilah wave [v], wave A, dan wave (2) merujuk pada metode analisis teknikal Elliott Wave Theory yang digunakan untuk membaca pola naik-turun pasar.
Ia mencermati area koreksi ke rentang 6.148 - 6.179. “Dengan area penguatan terdekat di 6.401 6.514,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (21/5).
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 6.148 dan 6.092. Sementara resistance terdekat berada di 6.459 dan 6.635.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dengan akumulasi beli di rentang Rp 406 – Rp 432 dan target harga di Rp 478 – Rp 520, sementara level stoploss di bawah Rp 396.
Ia juga merekomendasikan buy on weakness saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) pada area Rp 7.475 - Rp 7.825, dengan target harga di Rp 8.500 - Rp 9.125, serta stoploss di bawah Rp 7.350.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
Menurut Phintraco Sekuritas, pelaku pasar diperkirakan masih bersikap wait and see terhadap asumsi RAPBN 2027 maupun dampak kebijakan ekspor SDA tersebut terhadap emiten terkait.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei. Kenaikan ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 5%.
Kenaikan suku bunga acuan itu merupakan yang pertama sejak April 2024 dan diharapkan bisa menjaga stabilitas rupiah, meredam tekanan inflasi, serta mempertahankan inflasi dalam target pemerintah.
Meski demikian, pasar masih mencermati efektivitas kenaikan suku bunga terhadap pergerakan rupiah ke depan. Selain itu, kenaikan BI Rate berpotensi memberi tekanan terhadap sektor properti dan emiten dengan tingkat utang tinggi.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit menunjukkan akselerasi menjadi 9,98% secara tahunan atau year on year (YoY) pada April, dibandingkan 9,49% YoY pada Maret.
Phintraco Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih cenderung variatif di tengah sentimen domestik dan global. Secara teknikal, Stochastic RSI berada di area oversold dan berpotensi membentuk golden cross.
Namun, pelebaran histogram negatif MACD masih berlanjut sehingga IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran support 6.200 - 6.250 dan resistance 6.400 - 6.450.
