Kopdes Merah Putih Bikin Investor Waswas Masuk Saham Ritel, AMRT-DNET Terdampak?
Investor diperkirakan akan lebih berhati-hati masuk ke saham emiten ritel setelah program prioritas Presiden Prabowo Subianto yaitu Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) mulai beroperasi sebanyak 1.061 unit.
Analis Panin Sekuritas cabang Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, pasar mulai mencermati potensi dampak program tersebut terhadap ruang ekspansi ritel modern, khususnya di wilayah pedesaan. Saham yang menjadi perhatian antara lain PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) hingga PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).
Menurut Elandry, kekhawatiran investor semakin kuat setelah muncul pernyataan Menteri Koperasi yang meminta ritel modern membatasi ekspansi hingga ke desa-desa agar koperasi rakyat memiliki ruang berkembang.
“Sentimen ini yang menurut saya kemarin memicu tekanan cukup besar di saham-saham ritel karena market khawatir ruang pertumbuhan gerai baru akan menjadi lebih terbatas kedepannya,” kata Elandry kepada Katadata, Rabu (20/5).
Kendati demikian, dia menilai dampak kebijakan tersebut tidak akan sebesar yang dikhawatirkan pasar. Pemerintah disebut tetap memperbolehkan gerai yang sudah beroperasi untuk berjalan normal, sementara pembatasan lebih difokuskan pada ekspansi baru di wilayah pedesaan.
Elandry menilai AMRT dan MIDI menjadi emiten yang paling sensitif terhadap isu tersebut karena model bisnis keduanya bertumpu pada ekspansi gerai yang agresif, termasuk di wilayah tier 2 dan pedesaan. Jika izin pembukaan toko baru semakin selektif, pertumbuhan organik perusahaan berpotensi melambat.
Namun, ia menilai kekuatan jaringan distribusi yang dimiliki kedua emiten tetap menjadi penopang utama. Pertumbuhan laba dinilai tidak lagi hanya bergantung pada pembukaan toko baru, tetapi juga ditopang oleh same store sales growth, efisiensi distribusi, private label hingga pengembangan ekosistem digital dan omnichannel.
AMRT, misalnya, masih menargetkan penambahan sekitar 1.000 gerai baru tahun ini. Hal itu dinilai menunjukkan optimisme perseroan terhadap prospek pertumbuhan bisnis ke depan.
Sementara itu, dampak terhadap DNET diperkirakan relatif lebih kecil. Menurut Elandry, valuasi DNET tidak hanya ditopang bisnis Indomaret, tetapi juga aset digital dan ekosistem teknologi perusahaan.
Adapun ACES dinilai menjadi emiten paling defensif di sektor ritel. Hal ini karena bisnis perseroan lebih fokus pada segmen home living dan lifestyle retail perkotaan sehingga tidak berhadapan langsung dengan Kopdes Merah Putih yang berfokus pada distribusi kebutuhan pokok dan ekonomi desa.
Elandry menilai pelemahan saham ritel belakangan ini lebih banyak dipicu sentimen jangka pendek dibanding perubahan fundamental bisnis secara langsung.
Meski volatilitas diperkirakan masih berlanjut seiring pasar menunggu kejelasan regulasi dan implementasi Kopdes Merah Putih yang ditargetkan mencapai puluhan ribu unit, ia menilai pemain ritel modern besar masih memiliki keunggulan yang sulit disaingi.
Keunggulan tersebut mencakup rantai pasok, distribusi, teknologi, purchasing power, hingga efisiensi operasional.
“Jadi saya melihat Kopdes Merah Putih lebih berpotensi memperlambat laju ekspansi ritel modern di desa dibanding benar-benar mengganggu keberlangsungan bisnis mereka secara keseluruhan,” kata Elandry.
Ia menilai perusahaan ritel besar kemungkinan akan beradaptasi dengan memperkuat digitalisasi, layanan online, serta meningkatkan produktivitas toko yang sudah ada dibanding hanya mengandalkan ekspansi fisik.
Untuk prospek saham, Elandry memperkirakan AMRT masih menarik dengan target jangka menengah di kisaran Rp 2.000 – 2.200 apabila konsumsi domestik membaik dan tekanan sentimen mereda. MIDI diperkirakan berpotensi menuju Rp 380 – 420 karena valuasinya dinilai sudah cukup murah setelah koreksi.
Sementara itu, DNET diperkirakan masih memiliki ruang penguatan ke area Rp 9.400 – 9.800 berkat dukungan valuasi aset dan ekosistem digital. Adapun ACES dinilai tetap defensif dan berpeluang menuju Rp 400 – 450 apabila konsumsi rumah tangga serta sektor properti pulih lebih kuat.
Pandangan berbeda disampaikan Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama. Ia memberikan rekomendasi not rated untuk DNET, wait and see untuk ACES, maintain buy untuk AMRT dengan target harga Rp 1.525, serta buy untuk MIDI dengan target harga Rp 332.
Menurut dia, keberadaan program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) berpotensi memengaruhi ekspansi ritel modern, khususnya ke wilayah pedesaan.
Nafan menilai target pembentukan sekitar 80 ribu unit Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia akan meningkatkan persaingan di sektor distribusi dan perdagangan ritel.
“Sebenarnya sih ada sentimen negatifnya, tapi sebenarnya saya sudah surprise-in oleh kinerja downtrend. Tapi untung ada dua saham ini yang saya bisa rekomendasikan baik kan tadi kan, seperti itu,” kata Nafan.
Meski demikian, ia menilai sentimen negatif terhadap saham-saham ritel modern sebenarnya sudah lebih dulu tercermin dalam pergerakan harga saham yang mengalami tren penurunan. Menurut dia, tekanan tersebut kini mulai terbatas dan sejumlah saham ritel mulai memasuki fase sideways.
Nafan juga melihat daya beli masyarakat di wilayah perkotaan dan suburban masih relatif solid. Hal itu ditopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di kisaran 5%.
Ia menyoroti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal pertama 2026 yang mencapai 5,61%, didorong oleh konsumsi domestik yang kuat.
Menurut dia, kondisi tersebut masih memberikan ruang bagi emiten ritel modern untuk melanjutkan ekspansi usaha, meski kemungkinan akan ada pembatasan dari pemerintah terkait penetrasi ke wilayah pedesaan.
Gerak Saham Emiten Ritel Melambat
Jika melihat pergerakan saham emiten ritel sejak awal tahun, saham-saham yang memiliki ekspansi kuat di wilayah pedesaan seperti DNET, MIDI dan AMRT menunjukkan pergerakan yang bervariasi setelah muncul wacana pembatasan ekspansi ritel modern di desa.
Saham AMRT tercatat telah terkoreksi 28,10% secara year to date ke level Rp 1.420. Secara tahunan, saham perseroan juga turun 43,20%.
Kondisi serupa terjadi pada MIDI. Harga saham perseroan turun 18,46% sejak awal tahun, meski secara tahunan masih mencatat kenaikan 25,24%.
Berbeda dengan keduanya, DNET justru masih menguat terbatas. Saham perseroan naik 2,48% ke level Rp 9.300 secara year to date, meski secara tahunan masih terkoreksi 7,69%.
