Katalis dan Prospek Saham TBS Energi (TOBA), Berapa Target Harganya?
Harga saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) ditutup melonjak 7,18% ke Rp 448 pada perdagangan hari ini, Jumat (22/5). Namun saham perusahaan waste management itu tercatat masih terkoreksi 19,28% dalam lima hari terakhir.
Penurunan saham TOBA diikuti dengan lesunya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang kian terpukul hingga merosot 28,74% secara year to date (ytd) dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 10.658 triliun. Meskipun begitu, Mirae Asset Indonesia menargetkan harga saham TOBA bisa naik ke Rp 710, Rp 780, dan Rp 875.
Sementara Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menilai harga saham TOBA saat ini sudah berada di bawah nilai wajarnya setelah tertekan koreksi IHSG secara keseluruhan. Menurutnya, lesunya saham TOBA lebih dipengaruhi sentimen makro pasar alih-alih perubahan fundamental perseroan.
"Ketika pasar berada dalam fase risk-off, valuasi saham sering kali terkoreksi lebih dalam dibandingkan perubahan nilai intrinsik perusahaan yang sebenarnya," ungkap Andhika dalam analisisnya, Jumat (22/5).
Salah satu sentimen yang menekan saham-saham berbasis komoditas belakangan ini yaitu pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) selaku badan yang menangani urusan ekspor sumber daya alam (SDA) RI, termasuk untuk sektor batu bara. Kehadiran entitas baru pelat merah tersebut ikut memicu koreksi pada mayoritas saham emiten batu bara di Indonesia.
Namun, Andhika menilai dampak kebijakan itu terhadap TBS Energi Utama seharusnya relatif terbatas. Menurutnya, struktur pendapatan TOBA mayoritas kontribusi bisnis perseroan berasal dari segmen non-batu bara.
“Ini perubahan struktural yang belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar saat ini," tambahnya.
Ia juga mengatakan, TOBA dalam beberapa tahun terakhir konsisten membangun portofolio bisnis baru sehingga tidak lagi bergantung pada batu bara. Saat ini, perseroan telah memiliki lini usaha pengelolaan sampah (waste management), kendaraan listrik, hingga energi terbarukan.
Andhika menilai portofolio bisnis tersebut relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar komoditas. Perubahan model bisnis itu terlihat dari kinerja kuartal pertama 2026.
Mayoritas pendapatan TOBA kini ditopang segmen bisnis baru, dengan waste management menjadi kontributor terbesar mencapai sekitar US$ 52 juta atau menyumbang sekitar 60% terhadap total pendapatan perseroan.
Selain memperluas sumber pendapatan, segmen waste management juga dinilai memberi keuntungan dari sisi mata uang. Pasalnya, kata Andhika, sebagian besar pendapatan bisnis ini dibukukan dalam dolar AS dan dolar Singapura seiring ekspansi TOBA ke Singapura.
Menurut Andhika, struktur pendapatan tersebut dapat menjadi natural hedge terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. “Ini menjadi nilai tambah yang relevan terutama di tengah kondisi makro saat ini," katanya.
Dengan valuasi yang sudah terdiskon Andhika menilai saham TOBA berada dalam posisi yang menarik untuk dicermati investor jangka menengah hingga panjang. "Kami melihat ada ruang untuk re-rating valuasi," ucap Andhika.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mengungkapkan Indonesia akan mengekspor listrik energi bersih ke Singapura dengan kapasitas 3 gigawatt. Proyek itu ditargetkan mulai berjalan akhir tahun ini.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Patria Sjahrir mengatakan, Pemerintah RI sudah bertemu dengan jajaran pemimpin di Singapura. Ia menyebut saat ini sudah ada sejumlah perusahaan yang sudah mengantongi izin sementara dari pemerintah negeri jiran itu.
Menurutnya, momentum itu diharapkan menjadi langkah awal dimulainya proyek ekspor listrik ke Singapura. Ia menyebut total nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$ 30 miliar atau Rp 522,79 triliun.
Pertanyaannya, apakah proyek jumbo ini menjadi katalis baru bisnis TOBA?
TOBA sendiri memiliki proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Tembesi di Batam yang dibangun di atas Waduk Tembesi milik BP Batam seluas sekitar 800 hektare.
Proyek ini memiliki kapasitas hingga 46 MW dan telah mengantongi kontrak jangka panjang selama 30 tahun dengan PLN Batam. Tak menutup kemungkinan masih ada ruang untuk pengembangan kapasitas kedepannya.
Secara geografis, jarak Batam dan Singapura sangat berdekatan. TOBA sebelumnya menyebut tengah melakukan penjajakan pada calon pembeli listrik atau off-taker untuk rencana ekspor listrik bersih ke Singapura.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas menyebutkan, prospek TOBA akan jauh lebih menarik jika ekspor listrik hijau terealisasi. Ia mengatakan, pergeseran TBS Energi Utama dari bisnis batu bara ke energi terbarukan menempatkan perusahaan pada jalur yang tepat. Menurutnya langkah ini sejalan dengan permintaan Singapura, yang hanya menerima pasokan listrik rendah karbon atau low-carbon electricity.
“Sehingga pemain green energy otomatis mendapat premium positioning,” ucap Sukarno kepada Katadata.co.id, November 2025 lalu.
Dari sisi fundamental, Sukarno juga menilai pasar listrik Singapura menawarkan tarif lebih tinggi dan kontrak jangka panjang. Ia menilai ekspor listrik bersih berpotensi menghasilkan recurring revenue yang lebih stabil serta margin lebih tebal dibanding penjualan domestik.
Meski begitu, ia menyebut dampaknya terhadap kinerja TOBA belum bisa dipastikan signifikan, mengingat proyek PLTS Terapung Tembesi, Batam, tidak terkonsolidasi dalam laporan keuangan perusahaan. Adapun struktur kepemilikan saham usaha patungan ini terbagi atas 51% milik PLN Nusantara Renewables dan 49% milik PT Batam Tirta Surya.
