Manuver BBTN Akuisisi Portofolio Kredit Jumbo SMBC Indonesia (BTPN) Rp 19,9 T

Karunia Putri
25 Mei 2026, 15:58
Petugas menunjukkan uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebes
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Petugas menunjukkan uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten perbankan milik negara PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mengakuisisi portofolio pinjaman PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) total senilai  Rp 19,92 triliun. Transaksi tersebut meliputi portofolio kredit pensiunan, pra pensiunan hingga pinjaman karyawan aktif tertentu.

Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), BBTN dan SMBC Indonesia menandatangani dua perjanjian pada 22 Mei 2026. Perjanjiannya yaitu Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).

Corporate Secretary BBTN Ramon Armando mengatakan melalui transaksi CLATA, SMBC Indonesia setuju menjual dan mengalihkan aset pinjaman terkait pensiunan dan pra-pensiunan yang manfaat pensiunnya dikelola PT Asabri, dana pensiun lainnya, serta pinjaman karyawan aktif tertentu.

BTN kemudian akan membeli dan menerima aset pinjaman tersebut. Nilai estimasi transaksi CLATA mencapai Rp 7,34 triliun, dengan skema penyesuaian harga sesuai ketentuan dalam perjanjian.

“Adapun harga pembelian tersebut berikut penyesuaiannya akan dibayarkan perseroan kepada SMBCI pada tanggal penyelesaian berdasarkan CLATA,” tulis Ramon dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (25/5).

Selain itu, kedua pihak juga menandatangani CPTA yang mencakup pengalihan portofolio pinjaman pensiunan dan pra-pensiunan dengan manfaat pensiun yang dikelola PT Taspen.

Nilai estimasi transaksi CPTA mencapai Rp 12,58 triliun. Dengan demikian, total nilai transaksi CPTA dan CLATA mencapai Rp 19,92 triliun atau setara 46,3% dari total ekuitas SMBC Indonesia per 31 Desember 2025.

SMBC Indonesia menyatakan penyelesaian kedua transaksi tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan oleh masing-masing pihak sesuai ketentuan dalam perjanjian.

Geliat BBTN Genjot Investasi Properti

Di sisi lain, BBTN tengah menawarkan skema pembiayaan rumah bekas (second) dengan bunga mulai 5% fixed selama lima tahun. Program ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat memiliki hunian maupun berinvestasi properti sekaligus mendukung program tiga juta rumah pemerintah.

Senior Executive Vice President (SEVP) Assets Management BBTN Benjamen Sihombing mengatakan BBTN sudah menyiapkan sekitar 10.000 unit rumah second melalui program Lelang Akbar BTN 2026. Kata dia, properti yang dilelang ditawarkan dengan harga kompetitif, bahkan bisa mencapai 40% di bawah harga pasar.

“Melalui Lelang Akbar BTN 2026, kami ingin membuka akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memiliki rumah dengan harga kompetitif sekaligus memperkuat ekosistem transaksi properti second yang lebih sehat, transparan, dan mudah diakses masyarakat di Indonesia,” ujar Benjamen dalam acara Lelang Akbar BTN 2026 di Jakarta, Senin (25/5).

Adapun BBTN menargetkan sekitar 35% hingga 45% dari total unit yang ditawarkan dapat terjual tahun ini. Perseroan menilai angka tersebut sudah cukup besar untuk mendorong perputaran ekonomi sekaligus mempercepat pemulihan aset bank.

Untuk mendukung pembelian rumah lelang, BBTN menghadirkan produk KPR BTN Maju dengan bunga mulai 5% fixed selama lima tahun, uang muka mulai 1%, serta tenor hingga 30 tahun.

Benjamen mengatakan rumah second dan aset lelang kini semakin diminati masyarakat karena menawarkan harga lebih terjangkau dengan lokasi yang umumnya sudah berkembang dan memiliki fasilitas lengkap.

Berdasarkan demografinya, properti lelang BBTN paling banyak berada di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

“Tapi yang paling kental itu ada di Jawa Barat. Karena Jawa Barat ini kan sebetulnya kalau kita lihat adalah penyangga utama properti. Jadi kami justru di Jawa Barat saking gedenya itu, bahkan [ada] 2 wilayah [lelang] kita buat di sana, Jabar 1 dan Jabar 2 ,” ujar dia.

Selain itu, BBTN juga mencatat mayoritas pembeli rumah lelang berasal dari kelompok usia di bawah 45 tahun atau generasi milenial. Menurut Benjamen, tren tersebut menunjukkan mulai meningkatnya minat generasi muda untuk berinvestasi properti.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...