Geliat BUMI Amankan Izin Tambang Arutmin hingga 2040, Suntik Dana Jumbo Rp 1,5 T

Karunia Putri
4 Juni 2026, 05:20
BUMI
Katadata/Mela Syaharani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyuntikkan dana jumbo sebesar Rp 1,5 triliun kepada anak usahanya di bidang batu bara yaitu PT Arutmin Indonesia untuk mendukung kebutuhan operasional dan strategis, salah satunya perpanjangan izin usaha pertambangan hingga 2040.

Emiten tambang milik Grup Bakrie ini menyampaikan dana tersebut berasal dari hasil penerbitan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026. Dana itu telah diterima Arutmin pada 26 Mei 2026.

"Sebagian besar dari dana tersebut diarahkan untuk mendukung program perpanjangan izin tambang Arutmin, dengan target keberlanjutan operasi pertambangan hingga tahun 2040," ujar BUMI kepada Katadata, Rabu (3/6).

Arutmin merupakan anak usaha yang dikendalikan langsung oleh BUMI dengan kepemilikan saham sebesar 70%. BUMI menyatakan perpanjangan izin tambang tersebut juga disertai kewajiban menjalankan proyek gasifikasi batu bara sebagai bagian dari program hilirisasi yang ditetapkan pemerintah. Alhasil, BUMI resmi masuk ke bisnis gafisikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME).

Menurut perseroan, pengembangan proyek hilirisasi tersebut merupakan langkah strategis yang dapat menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi perusahaan dan pemegang saham.

"Perpanjangan izin tambang Arutmin, yang dipadukan dengan pengembangan kapasitas gasifikasi hilir, memposisikan Bumi Resources sebagai peserta aktif dalam program hilirisasi batubara nasional Indonesia," kata manajemen.

Perseroan juga menyatakan akan terus memberikan keterbukaan informasi kepada publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan akan memberikan pembaruan lebih lanjut seiring dengan perkembangan yang bersifat material

Proyek DME tercatat sebagai salah satu dari 18 proyek hilirisasi yang mulai dibangun fasilitasnya tahun ini. Pengembangan tersebut sejalan dengan rencana pemerintah untuk mengalihkan subsidi liquefied petroleum gas (LPG) ke DME.

Sebelumnya BUMI dan Arutmin telah menandatangani perjanjian pinjaman pada 28 April 2026. Dalam perjanjian tersebut, BUMI memberikan fasilitas pinjaman dengan plafon maksimal Rp 1,6 triliun yang bersumber dari hasil penerbitan obligasi.

Fasilitas tersebut terbagi menjadi dua tranche. Tranche A memiliki plafon maksimal Rp 640 miliar dengan bunga sebesar 7,5% ditambah margin 0,5% per tahun. Adapun Tranche B memiliki plafon maksimal Rp 960 miliar dengan bunga 8,75% ditambah margin 0,5% per tahun.

Pembayaran pokok dan bunga Tranche A dilakukan paling lambat tiga hari kerja sebelum jatuh tempo Obligasi Seri A yang memiliki tenor 370 hari sejak tanggal emisi. Sementara pelunasan Tranche B dilakukan paling lambat tiga hari kerja sebelum jatuh tempo Obligasi Seri B dengan tenor tiga tahun.

Profil Bisnis Batu Bara Arutmin

Mengutip dari laman resminya, Arutmin merupakan salah satu kontraktor pertambangan batu bara terbesar di Indonesia yang beroperasi di Kalimantan Selatan. Saat ini perusahaan mengelola lima tambang aktif dan satu terminal batu bara yang tersebar di Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Lima wilayah operasional tersebut meliputi Tambang Senakin, Satui, Batulicin, Asam-Asam dan Kintap serta fasilitas ekspor North Pulau Laut Coal Terminal (NPLCT).

Tambang Senakin merupakan tambang pertama yang dioperasikan Arutmin dan memproduksi batu bara bituminous atau batu bara berkalori tinggi dengan kapasitas sekitar 1,3 juta ton per tahun.

Sementara itu, Tambang Satui memiliki fasilitas pengolahan di Port Muara dengan kapasitas produksi mencapai 10 juta ton per tahun. Produk batu bara dari wilayah ini dipasarkan ke sejumlah negara seperti Jepang, India, Cina dan Filipina.

Adapun Tambang Batulicin memproduksi sekitar 6 juta ton batu bara per tahun. Tambang ini dikenal memiliki karakteristik batu bara muda berkalori rendah yang menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaannya.

Di sisi lain, Tambang Asam-Asam memiliki kapasitas produksi sekitar 8 juta ton per tahun dan menghasilkan batu bara sub-bituminous berkalori rendah. Wilayah ini juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti coal processing plant, bengkel, gudang, dan tangki bahan bakar.

Sementara itu, Tambang Kintap yang mulai beroperasi pada 2011 memiliki kapasitas produksi awal 500 ribu ton per tahun. Dalam perkembangannya, produksi tambang ini pernah mencapai 8,5 juta ton per tahun. Tambang Kintap menghasilkan batu bara jenis Ecocoal yang memiliki kandungan sulfur rendah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...