Moody’s, S&P dan Fitch Soroti Obligasi Danantara, Analis Singgung Ketidakpastian
Sejumlah lembaga pemeringkat global seperti Moody’s, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings menyoroti rencana penerbitan obligasi dolar oleh Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia melalui badan investasinya, Danantara Investment Management (DIM)
Sorotan muncul di tengah outlook utang pemerintah Indonesia diturunkan menjadi negatif. Penurunan ini disebabkan oleh risiko pelebaran defisit anggaran akibat kebijakan fiskal baru.
Danantara Investment Management (DIM) disebut telah menunjuk sejumlah bank investasi untuk menggarap penerbitan perdana obligasi senior berdenominasi dolar AS. Pemesanan awal atau bookbuilding untuk obligasi tersebut mulai dibuka pada hari ini, Rabu (3/6).
Obligasi dengan format 144A/3(c)(7)/Reg S itu akan diterbitkan melalui program Global Medium Term Note (GMTN) senilai US$ 5 miliar atau sekitar setara sekitar Rp 89,5 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.900 per dolar AS. Surat utang tersebut memperoleh peringkat investasi (investment grade) sebesar Baa2 dari Moody's serta BBB dari S&P Global Ratings dan Fitch Ratings.
“Citigroup, DBS Bank, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered kabarnya ditunjuk sebagai joint lead managers sekaligus bookrunners dalam transaksi ini,” demikian tertulis dalam laporan International Financing Review (IFR) Asia, Rabu (3/6).
Berkiatan dengan rencana penerbitan obligasi itu, Moody's Ratings untuk pertama kalinya memberikan peringkat Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM). Peringkat ini diselaraskan Moody’s dengan peringkat pemerintah Indonesia. Moody’s memberikan outlook atas peringkat DIM berada di level negatif.
Dalam keterangannya resminya, Moody's menetapkan peringkat sementara Baa2 untuk program surat utang jangka menengah global senior tanpa jaminan atau global medium term notes (MTN) yang akan diterbitkan perusahaan. Seluruh peringkat tersebut memiliki prospek negatif. Selain program MTN global, Moody's juga memberikan peringkat Baa2 terhadap rencana penerbitan surat utang senior tanpa jaminan oleh DIM.
Wakil Presiden sekaligus Analis Senior Moody's Ratings Rachel Chua mengatakan, peringkat DIM diselaraskan dengan peringkat kedaulatan Pemerintah Indonesia yang saat ini berada pada level Baa2 dengan prospek negatif.
Menurut dia, penilaian tersebut didasarkan pada hubungan kredit yang sangat kuat antara DIM dan pemerintah, termasuk struktur kepemilikan perusahaan dalam kerangka Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
"Termasuk struktur kepemilikannya di dalam kerangka institusional Danantara serta ekspektasi kami akan adanya dukungan luar biasa yang tepat waktu dari pemerintah," kata Rachel dalam keterangannya, Rabu (3/6).
Meski Moody's tetap memberikan peringkat investasi Baa2 kepada DIM, sejumlah analis menilai pesan yang disampaikan lembaga pemeringkat tersebut lebih kompleks dibanding sekadar penetapan rating. Dalam kajiannya, Kiwoom Securities menyebut pasar justru mencermati keputusan Moody's memberikan outlook negatif terhadap DIM yang secara langsung dikaitkan dengan outlook sovereign Indonesia.
Menurut Kiwoom, langkah Moody's menunjukkan bahwa kekhawatiran investor saat ini bukan terletak pada kualitas kredit Danantara sebagai entitas investasi negara, melainkan pada persepsi terhadap kondisi fiskal dan prospek kredit Indonesia. Moody's secara eksplisit menyatakan bahwa outlook negatif DIM sejalan dengan outlook negatif pemerintah Indonesia karena adanya hubungan kredit yang sangat kuat antara keduanya.
"Pasar tidak mempertanyakan kelayakan kredit Danantara secara mandiri. Pasar justru mempertanyakan apa yang secara tidak langsung ingin disampaikan Moody's mengenai Indonesia," tulis Kiwoom dalam laporannya.
Kiwoom menilai situasi tersebut menjadi perhatian karena Danantara sejak awal dirancang sebagai kendaraan investasi strategis pemerintah. Lembaga ini diharapkan mampu menarik modal global, mendukung pengembangan industri prioritas, dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia.
Namun, menurut Kiwoom, keputusan Moody's memunculkan pertanyaan baru di kalangan investor. Jika kekhawatiran terhadap prospek kredit Indonesia mulai merembet ke institusi yang dibentuk untuk menjadi motor investasi dan pertumbuhan ekonomi, maka tantangan utama bukan lagi berada pada Danantara, melainkan pada kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional.
"Pasar tidak takut terhadap Danantara. Pasar mengajukan pertanyaan yang jauh lebih besar yakni jika outlook sovereign Indonesia mulai memburuk, siapa yang akan menjadi penyelamat narasi investasi Indonesia?" tulis Kiwoom.
Fitch Ratings dan S&P Sematkan Peringkat BBB
Penilaian atas rencana penerbitan obligasi juga muncul dari Fitch Rating dan S7P. Fitch Ratings menetapkan peringkat BBB untuk surat utang jangka menengah global atau Global Medium-Term Notes (MTN) yang akan diterbitkan DIM yang menjadi penerbitan obligasi perdana di bawah program tersebut.
Berdasarkan laporan yang diterbitkan Rabu (3/6) lembaga pemeringkat itu menyamakan peringkat obligasi tersebut dengan Peringkat Gagal Bayar Penerbit Jangka Panjang dalam Mata Uang Asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) milik DIM.
Menurut Fitch, penyamaan peringkat tersebut karena obligasi yang akan diterbitkan merupakan kewajiban langsung perusahaan yang tidak menjaminkan aset tertentu dan memiliki kedudukan yang setara dengan kewajiban keuangan lainnya yang sejenis.
Fitch juga menilai DIM memikul tanggung jawab langsung atas program MTN global dan obligasi yang diterbitkan melalui program tersebut. Ketentuan itu tercantum dalam rancangan dokumen penawaran sehingga DIM sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembayaran kewajiban obligasi. Baik dalam skema penerbitan langsung maupun penerbitan bersama yang dimungkinkan dalam aksi itu.
“Sebagaimana diatur dalam draf prospektus penawaran, sehingga DIM menjadi pihak yang bertanggung jawab secara langsung baik dalam struktur penerbitan langsung maupun bersama yang diizinkan dalam program ini,” tulis Fitch dalam analisisnya, Rabu (3/6).
Fitch menyebut DIM berencana menerbitkan obligasi perdana secara langsung melalui program MTN global tersebut. Lembaga pemeringkat itu juga tidak memperkirakan adanya perubahan material dalam dokumen final obligasi. Dana hasil penerbitan obligasi diperkirakan akan digunakan untuk membiayai investasi DIM sesuai mandat perusahaan.
Senada dengan Fitch, S&P Global Ratings memberikan peringkat kredit penerbit jangka panjang BBB dan peringkat jangka pendek A-2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM). Lembaga pemeringkat itu juga memberikan outlook stabil mengikuti peringkat kredit sovereign Indonesia.
Dalam laporan yang dirilis Rabu (3/6), S&P mengatakan pihaknya dapat menurunkan peringkat DIM apabila lembaga tersebut menurunkan peringkat Indonesia atau melihat adanya melemahnya dukungan pemerintah. Sebaliknya, S&P juga dapat menaikkan peringkat DIM jika terjadi peningkatan pada peringkat sovereign Indonesia.
S&P menyatakan peringkat DIM mencerminkan pandangan bahwa pemerintah Indonesia “hampir pasti” akan memberikan dukungan luar biasa yang tepat waktu dan memadai apabila dibutuhkan. Alhasil peringkat DIM disetarakan dengan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil/A-2.
Lembaga pemeringkat itu juga menilai dukungan pemerintah terhadap DIM didorong oleh dua faktor utama. Pertama, peran strategis DIM dalam mengelola aset pemerintah untuk meningkatkan nilai jangka panjang. Termasuk menginvestasikan dividen BUMN ke dalam berbagai proyek strategis yang mendukung pembangunan ekonomi dan dampak sosial.
Kedua, hubungan Danantara yang erat dengan pemerintah sebagai pemegang saham tunggal akhir DIM. Pemerintah disebut memiliki pengawasan langsung terhadap rencana kerja dan anggaran perusahaan melalui parlemen serta dewan pengawas BPI Danantara yang terdiri dari jajaran menteri.
S&P Global Ratings mengatakan tidak menetapkan profil kredit mandiri untuk PT Danantara Investment Management (DIM) karena bukan menjadi faktor utama dalam penilaian peringkat.
“Kami tidak menetapkan profil kredit mandiri untuk DIM karena hal tersebut bukan faktor penentu utama peringkat, mengingat kemungkinan dukungan dari negara yang hampir pasti. Kami tidak percaya bahwa dukungan pemerintah rentan terhadap risiko transisi,” tulis S&P Global, Rabu (3/6).
