IHSG Masuk Bursa Terburuk Dunia, Sampai Level Berapa Koreksi Bisa Berlanjut?
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sudah kehabisan tenaga hingga menjadi salah satu bursa dengan kinerja terburuk di dunia. Data per 4 Juni 2026 menunjukkan IHSG tercatat anjlok 32,46%, jauh lebih dalam dibandingkan indeks utama lainnya.
Data perdagangan global menunjukkan indeks saham Sensex India yang turun 12,74%, Nifty 50 melemah 10,38%. Juga ada Bursa Beirut yang terkoreksi 10,69%. Bahkan sejumlah bursa regional masih mampu mencatatkan kenaikan YTD, seperti Vietnam yang menguat 2,64%, Shanghai Composite 2,24%, Singapura 9,07%, hingga Abu Dhabi dan Arab Saudi yang masing-masing naik 11,59% dan 4,76%.
Secara year-to-date (YTD), babak belurnya IHSG menjadi salah satu bursa dengan kinerja terburuk tidak hanya di Asia. IHSG juga jauh tertinggal dibandingkan sejumlah pasar global yang masih mencatatkan kenaikan signifikan.
Di kawasan Afrika, misalnya, indeks GGSECI Ghana melesat 63,60%, diikuti NSE All Share Nigeria yang naik 55,67%, dan DSEI Tanzania dan ZSI Industrials Zimbabwe yang masing-masing menguat 43,29% dan 42,35%.
Sementara itu di Asia, indeks TSI Taiwan naik 57,71%, Nikkei 225 Jepang menguat 34,03%, dan SET 50 Thailand bertambah 23,29% sepanjang tahun berjalan.
IHSG juga tertekan karena aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia yang masih berlanjut. Pada perdagangan Kamis (4/6), investor asing mencatat jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp 1,43 triliun di pasar reguler.
Secara akumulatif sejak awal tahun atau year to date (ytd) hingga 4 Juni 2026, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia mencapai Rp 68,50 triliun. Sepanjang periode tersebut, investor asing membukukan pembelian Rp 646,36 triliun dan mencatatkan net sell hingga Rp 714,85 triliun.
Meski demikian, investor domestik masih menjadi penopang utama pasar. Pada perdagangan 4 Juni, porsi transaksi asing mencapai 50,85% dari total nilai transaksi, sementara secara year-to-date kontribusi investor domestik mendominasi dengan porsi 67,03% dari total aktivitas perdagangan.
Lalu seberapa dalam pelemahan IHSG masih dapat berlanjut dan di level berapa indeks berpotensi menemukan titik bottom?
Berapa Dalam IHSG Bisa Jatuh?
Pada perdagangan Kamis (4/6) IHSG ditutup anjlok 1,70% ke level 5.839 dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 10.284 triliun. Secara year to date (ytd) IHSG sudah babak belur hingga ambles 32,46%.
Apabila menilik jauh ke belakang, IHSG sempat tembus all-time high (ATH) pada 20 Januari 2026 lalu ke level 9.134 dengan kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun. Kini, indeks makin menjauh dari level 9.000 dan kapitalisasi pasarnya telah menguap hingga Rp 6.306 triliun atau merosot 38,01% sejak level ATH itu.
Analis Pasar Modal Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan masih cukup sulit untuk memperkirakan level terendah (bottom) IHSG secara pasti. Pasalnya, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dibandingkan faktor fundamental.
Meski demikian, secara teknikal area 5.700 hingga 5.900 menjadi zona support penting yang patut diperhatikan oleh pelaku pasar.
“Jika tekanan terhadap rupiah dan arus keluar dana asing belum mereda, tidak menutup kemungkinan IHSG masih menguji area tersebut,” ucap Elandry kepada Katadata, Kamis (4/6).
Elandry menambahkan, lamanya fase pelemahan IHSG akan sangat bergantung pada sejumlah faktor, seperti stabilitas nilai tukar rupiah, meredanya arus keluar dana asing, dan perkembangan sentimen global, termasuk kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan kondisi geopolitik.
Menurutnya, apabila faktor-faktor tersebut mulai menunjukkan perbaikan, tekanan jual di pasar berpotensi mereda sehingga IHSG dapat mulai membentuk level dasar (bottoming). Namun, selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap besar dalam jangka pendek.
“Jadi untuk saat ini saya lebih melihat proses pencarian bottom masih berlangsung, dan pasar akan sangat sensitif terhadap perkembangan sentimen domestik maupun global,” katanya.
Elandry mengatakan IHSG saat ini menghadapi tekanan berlapis, mulai dari pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS, keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi pemerintah, hingga sentimen negatif Moody's terhadap Danantara.
Tekanan tersebut diperparah oleh memanasnya konflik di Timur Tengah, kebijakan tarif baru AS yang berdampak pada sektor ekspor, serta aksi panic selling dan margin call yang memperdalam koreksi pasar.
Sementara itu, Investment Analyst Maybank Sekuritas Haikal Putra menilai IHSG masih berada dalam tren bearish dengan skenario dasar bertahan di kisaran 5.700.
Menurutnya, level support terdekat berada di area 5.563 dan 5.395, yang sebelumnya menjadi area penopang saat pelemahan pasar pada 2020–2021. Berdasarkan pola historis, IHSG juga cenderung melanjutkan koreksi selama enam hingga delapan hari perdagangan setelah menembus zona sideways.
“Sebelum memberikan sinyal-sinyal pembalikan arah,” ucap Haikal kepada Katadata, Jumat (5/6).
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai secara jangka panjang IHSG masih berada dalam tren naik (secular uptrend). Berdasarkan grafik bulanan, level 5.500 menjadi area support utama yang berpotensi menahan pelemahan indeks. Menurutnya, peluang IHSG untuk kembali mencetak rekor tertinggi (all time high) masih terbuka, dengan target jangka panjang di kisaran 11.100.
Hal tersebut didasarkan pada pola historis IHSG yang konsisten membentuk level puncak yang lebih tinggi (higher high), mencerminkan kemampuan perekonomian Indonesia melewati berbagai fase krisis.
Dalam skenario yang lebih positif, Nafan memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 7.628 sebagai target "wave B". Sementara itu, target yang lebih optimistis berada di area 8.824 atau "wave B alternative", yang dinilai realistis untuk dicapai pada 2026 apabila didukung oleh perbaikan fundamental ekonomi dan sentimen pasar.

