IHSG Kembali Merosot 4%, Saham Bank Jumbo dan Konglomerat Jadi Penekan Utama

Karunia Putri
8 Juni 2026, 09:32
IHSG
Fauza Syahputra|Katadata
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/6/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot pada perdagangan pagi, Senin (8/6). Hingga pukul 09.10 WIB, IHSG anjlok 4,38% atau 245,15 poin ke level 5.349.

IHSG dibuka melemah di level 5.486 dan terus bergerak turun seiring derasnya aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan saham-saham konglomerasi.

Tekanan terbesar datang dari saham bank jumbo. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,45% ke Rp 4.900; PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 4,38% ke Rp 2.620; PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 4,36% ke Rp 3.070, dan; PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,34% ke Rp 3.750.

Tekanan juga terjadi pada saham-saham konglomerat. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik Prajogo Pangestu melorot 8,36% ke Rp 1.480. Sementara itu, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang terafiliasi dengan Grup Bakrie merosot 10,45% ke Rp 1.200, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) milik Happy Hapsoro turun 6,16% ke Rp 3.810.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan mencapai 5,97 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 380,91 ribu kali. Adapun nilai transaksi tercatat Rp 3,88 triliun dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 9.524 triliun.

Analis pasar modal Hendra Wardana menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia mencerminkan proses repricing atau penyesuaian ulang risiko Indonesia di mata investor global. Menurut dia, pelemahan rupiah, koreksi tajam IHSG, dan berlanjutnya arus keluar dana asing (outflow) menunjukkan investor kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.

"Pasar tidak hanya melihat prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai tingkat risiko yang harus ditanggung investor. Saat ini perhatian utama tertuju pada kepastian arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar," kata Hendra dalam keterangannya yang dikutip Senin (8/6).

Dia menilai faktor domestik kini semakin dominan memengaruhi pergerakan pasar dibandingkan beberapa tahun lalu. Meskipun suku bunga tinggi di Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik masih menjadi tekanan global, investor mulai lebih selektif dalam memilih negara berkembang yang dinilai memiliki kepastian kebijakan dan risiko fiskal yang lebih rendah.

Menurut Hendra, berbagai isu yang berkembang belakangan, mulai dari prospek peringkat kredit, kebijakan fiskal, pengelolaan Danantara, hingga perubahan regulasi, pada dasarnya bermuara pada satu faktor utama, yakni kepastian dan konsistensi kebijakan pemerintah.

"Investor sebenarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan, dan tata kelolanya jelas. Namun pasar cenderung merespons negatif ketika muncul ketidakjelasan terkait implikasi fiskal jangka panjang, tata kelola aset negara, atau perubahan regulasi yang dianggap terlalu cepat," ujarnya.

Hendra menjelaskan fenomena yang belakangan dikenal sebagai "Sell Indonesia" mencerminkan menurunnya keyakinan sebagian investor terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek. Kendati demikian, ia menegaskan fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.

Untuk memulihkan kepercayaan investor, ia menilai pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal, memberikan kepastian regulasi, memperkuat komunikasi kebijakan, serta memastikan stabilitas nilai tukar melalui koordinasi yang erat dengan Bank Indonesia. Selain itu, transparansi dan tata kelola berbagai program strategis nasional juga perlu terus diperkuat.

Menurut Hendra, kepercayaan investor merupakan modal penting bagi pasar keuangan Indonesia. Jika pemerintah mampu memperkuat kredibilitas kebijakan dan menjaga stabilitas ekonomi makro, tekanan terhadap rupiah dan IHSG berpotensi mereda secara bertahap sehingga arus modal asing dapat kembali masuk ke pasar domestik.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...