Antrean IPO di BEI Susut Jadi 12 Perusahaan, Delapan Beraset Jumbo
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat 12 perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) per Senin (8/6), atau berkurang tiga dibandingkan pipeline IPO yang dirilis bulan lalu. Delapan di antaranya beraset jumbo.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, turunnya jumlah calon emiten yang akan IPO disebabkan oleh adanya revisi laporan keuangan perusahaan yang akan menggunakan versi terbaru.
“Ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, ada yang belum disetujui,” kata Nyoman dalam keterangannya dikutip Senin (8/6).
Dari total 12 calon emiten tersebut, delapan perusahaan merupakan perusahaan berskala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. Empat perusahaan lainnya masuk kategori perusahaan menengah dengan total aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
Berdasarkan sektor usahanya, perusahaan yang berada dalam antrean IPO berasal dari berbagai sektor, mulai dari konsumer siklikal, konsumer nonsiklikal, keuangan, kesehatan, infrastruktur hingga teknologi. Sementara itu, sektor material dasar, energi, dan industri belum tercatat dalam pipeline IPO saat ini. Rinciannya sebagai berikut:
- 3 perusahaan dari sektor konsumer siklal
- 2 perusahaan dari sektor consumer bukan siklal
- 1 perusahaan dari sektor finansial
- 3 perusahaan dari sektor kesehatan
- 2 perusahaan dari sektor infrastruktur
- 1 perusahaan dari sektor teknologi
Selain IPO, BEI mencatat terdapat 53 emisi dari 36 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) yang masih berada dalam pipeline hingga 5 Juni 2026. Penerbit tersebut berasal dari berbagai sektor, antara lain material dasar, energi, keuangan, dan infrastruktur.
Hingga 5 Juni, terdapat empat perusahaan tercatat yang telah merealisasikan aksi korporasi rights issue dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun. Saat ini masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang berada dalam pipeline rights issue BEI.
Sepi IPO
Gelombang IPO tahun ini diperkirakan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah calon emiten memilih menunda IPO pada awal tahun ini.
Plt Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Fifi Virgantaria mengatakan, salah satu ketakutan calon emiten untuk melantai di BEI adalah terkait dengan aturan baru free float. Selain itu, pemeriksaan terhadap beberapa emiten juga memunculkan kekhawatiran di pasar untuk IPO.
“Soal free float yang harus lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama,” kata Fifi ketika ditemui di Jakarta, dikutip Februari(23/2).
Sepinya IPO pada kuartal pertama tahun ini imbas pengumuman MSCI yang membekukan pasar modal RI untuk rebalancing Februari dan Mei 2026. Tak hanya itu, MSCI sebelumnya menyebut kabar terburuknya adalah pasar RI bisa turun kasta ke frontier market alias pasar perintis.
