IHSG Sesi I Anjlok ke 5.434, Kapitalisasi Pasar Menguap hingga Rp 7.018 Triliun
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup anjlok 2,87% ke level 5.434 pada perdagangan sesi pertama hari ini, Senin (8/6). Sebanyak 88 saham menguat, 646 saham terkoreksi, dan 79 saham tidak bergerak.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham siang ini sebesar Rp 12,92 triliun dengan volume 20,24 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,37 juta kali. Adapun kapitalisasi pasar IHSG sesi pertama hari ini sebesar Rp 9.571 triliun.
Apabila menilik jauh ke belakang, IHSG sempat tembus all-time high (ATH) pada 20 Januari 2026 lalu ke level 9.134 dengan kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun. Kini, indeks makin menjauh dari level psikologis 9.000 dan kapitalisasi pasarnya telah menguap hingga Rp 7.018 triliun atau merosot 42,3% sejak level ATH itu.
Di samping itu, dari sebelas sektor yang ada di BEI, seluruh sektor terpantau memerah. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni kesehatan yang turun hingga 5,94%. Adapun saham sektor ini yang berada di zona merah yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun 2,88% ke Rp 675 per saham.
Bursa saham Asia juga terpantau di zona merah. Indeks Hang Seng turun 1,29% dan Nikkei anjlok 3,97%, Shanghai Composite turun 1,39%, dan Straits Times terkoreksi 1,62%.
Saham top gainers:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 21,07% ke Rp 1.580.
- PT J Resources Asia Pacific Tbk (PSAB) naik 8% ke Rp 540.
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 5,99% ke Rp 460.
Saham top losers:
- PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) turun 14,89% ke Rp 600.
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) turun 15% ke Rp 10.200.
- PT MD Entertainment Tbk (FILM) turun 14,04% ke Rp 1.530.
Analis pasar modal Hendra Wardana menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia mencerminkan proses repricing atau penyesuaian ulang risiko Indonesia di mata investor global. Menurut dia, pelemahan rupiah, koreksi tajam IHSG, dan berlanjutnya arus keluar dana asing menunjukkan investor kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.
"Pasar tidak hanya melihat prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai tingkat risiko yang harus ditanggung investor. Saat ini perhatian utama tertuju pada kepastian arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar," kata Hendra dalam keterangannya, dikutip Senin (8/6).
Hendra menilai faktor domestik kini semakin dominan memengaruhi pergerakan pasar dibandingkan beberapa tahun lalu. Meski suku bunga tinggi di Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik masih menjadi tekanan global, investor mulai lebih selektif dalam memilih negara berkembang yang dinilai memiliki kepastian kebijakan dan risiko fiskal yang lebih rendah.
Menurut Hendra, berbagai isu yang berkembang belakangan, mulai dari prospek peringkat kredit, kebijakan fiskal, pengelolaan Danantara, hingga perubahan regulasi, pada dasarnya bermuara pada satu faktor utama, yakni kepastian dan konsistensi kebijakan pemerintah.
"Investor sebenarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan, dan tata kelolanya jelas. Namun pasar cenderung merespons negatif ketika muncul ketidakjelasan terkait implikasi fiskal jangka panjang, tata kelola aset negara, atau perubahan regulasi yang dianggap terlalu cepat," ujarnya.
Hendra menjelaskan fenomena yang belakangan dikenal sebagai "Sell Indonesia" mencerminkan menurunnya keyakinan sebagian investor terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek. Meskipun demikian, ia menegaskan fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.
