Emiten Haji Isam PGUN Fokus Replanting hingga 2030, Tunda Akuisisi Kebun Baru
Emiten milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), akan memfokuskan strategi bisnisnya pada program peremajaan (replanting) kebun kelapa sawit hingga 2030. Langkah itu dilakukan demi menjaga keseimbangan produksi sekaligus memastikan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Direktur Utama PGUN, Jonet Budiarto mengatakan, perseroan belum berencana melakukan ekspansi melalui akuisisi lahan atau kebun baru pada tahun ini. Seluruh fokus perusahaan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas aset yang sudah dimiliki.
“Kami akan tetap menjalankan replanting secara bertahap hingga 2030 untuk menyeimbangkan produksi dan menjaga keberlanjutan perusahaan ke depan,” ujar Jonet dalam paparan publik perseroan, Selasa (9/6).
Selain itu, PGUN melihat peluang dari program biodiesel B50 yang tengah didorong pemerintah. Perseroan menilai peningkatan kebutuhan bahan baku bioenergi akan menjadi katalis positif bagi industri sawit, seiring meningkatnya mandat pencampuran biodiesel di sejumlah negara seperti Indonesia, Brasil, dan India.
Melihat produksi PGUN pada kuartal pertama tahun ini, perseroan mencatatkan penurunan penjualan 5,18% secara year on year (YoY) dari Rp 175,6 miliar menjadi Rp 166,5 miliar.
Jonet menjelaskan, salah satu penyebab utamanya adalah tingginya proporsi tanaman tua di kebun perseroan. Dia mencatat sekitar 45% tanaman sawit PGUN telah memasuki usia tua. Sementara sekitar 6% atau lebih dari 9.000 hektare merupakan tanaman berusia di atas 21 tahun. Secara biologis, tanaman tersebut telah melewati masa produktivitas puncak yang umumnya terjadi pada usia 9 hingga 14 tahun.
Selain faktor usia tanaman, Jonet menjelaskan produksi juga terdampak anomali cuaca yang terjadi sepanjang 2024 hingga awal 2025. Curah hujan yang sangat tinggi mengganggu proses penyerbukan dan menyebabkan stres pada tanaman.
PGUN juga menghadapi ketidakseimbangan struktur umur tanaman. Porsi tanaman muda baru sekitar 6%, sehingga peningkatan produksi dari tanaman muda belum mampu mengimbangi penurunan hasil dari blok-blok tanaman tua.
Kendati demikian, dengan asumsi kondisi cuaca membaik, perusahaan menargetkan dapat mempertahankan tingkat produksi pada tahun ini sembari menjalankan program peremajaan secara bertahap.
Anggarkan Capex Rp 167,6 Miliar dan Siap Naikkan Free Float
Untuk mendukung program peningkatan produktivitas, PGUN mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 167,6 miliar pada 2026. Dalam perinciannya, sebesar Rp 119,6 miliar dialokasikan untuk investasi tanaman, sedangkan Rp 47,9 miliar digunakan untuk investasi nontanaman.
Hingga Mei 2026, realisasi belanja modal perseroan telah mencapai sekitar 19% dari total anggaran yang disiapkan. pada periode itu, sudah digunakan investasi nontanaman meliputi pembangunan fasilitas sebesar Rp 3 miliar, pengadaan alat berat Rp 2,5 miliar, dan inventaris kantor Rp 2,9 miliar.
Di sisi pasar modal, PGUN juga tengah menyiapkan langkah untuk memenuhi ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait peningkatan porsi saham publik atau free float.
Per 31 Maret 2026, porsi free float PGUN tercatat sebesar 7,62%. Berdasarkan ketentuan BEI, perseroan wajib meningkatkan free float menjadi minimal 12,5% pada Maret 2027 dan 15% pada Maret 2028.
Untuk memenuhi ketentuan tersebut, PGUN berencana melepas sebagian saham milik pemegang saham pendiri dan afiliasinya kepada publik secara bertahap. Perseroan memperkirakan perlu menambah free float sekitar 4,88% dari total saham tercatat agar dapat memenuhi target yang ditetapkan bursa.
Direktur PGUN Tamlikho mengatakan, saat ini pihaknya masih mengkaji sejumlah opsi pelaksanaan, mulai dari divestasi bertahap di pasar reguler, private placement kepada investor strategis nonafiliasi, hingga secondary offering atau accelerated bookbuilding.
Tamlikho menyatakan, proses peningkatan free float akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas saham, serta kepentingan seluruh pemegang saham.
Kinerja Keuangan PGUN 2025
Merujuk laporan kinerja keuangannya, PGUN membukukan laba bersih senilai Rp 159,30 miliar tahun lalu. Jumlah tersebut melonjak 101,18% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada 2024 sebesar Rp 79,18 miliar.
Lonjakan laba perseroan salah satunya terjadi karena adanya kenaikan penjualan bersih PGUN menjadi Rp 792,72 miliar dari Rp 738,56 miliar secara tahunan. Pendapatan perseroan masih didominasi dari penjualan minyak kelapa sawit sebesar Rp 694,93 miliar, inti kelapa sawit sebesar Rp 96,46 miliar dan cangkang sebesar Rp 1,32 miliar.
Meski mengalami peningkatan pada penjualan, beban pokok penjualan perseroan justru berkurang menjadi Rp 515,41 miliar dari Rp 519,64 miliar secara YoY. Hal yang menjadi penopang pertumbuhan laba perseroan adalah adanya catatan keuntungan atas perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp 17,43 miliar, di mana pada tahun sebelumnya pos tersebut mencatatkan rugi sebesar Rp 9,3 miliar.
Hal tersebut membuat laba bruto perseroan meningkat menjadi Rp 224,41 miliar dari Rp 150,69 miliar.
