Menguak Arah Ekspansi RATU Incar Ladang Migas Malaysia hingga Irak

Karunia Putri
9 Juni 2026, 16:02
RATU
RATU
Gambaran umum aktivitas bisnis PT Raharja Energi Cepu (RATU).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten migas milik konglomerat Happy Hapsoro, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), membuka peluang ekspansi ke luar negeri melalui akuisisi aset minyak dan gas bumi (migas) yang telah berproduksi. Perseroan saat ini tengah membidik sejumlah aset ladang minyak di berbagai negara mulai dari Malaysia, Thailand, Australia, Turki, Irak hingga Amerika Serikat (AS).

Chief Financial Officer (CFO) RATU, Adrian Hartadi mengatakan, strategi akuisisi tetap menjadi fokus utama perseroan untuk mendorong pertumbuhan anorganik. Hal itu sejalan dengan komitmen perseroan saat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Januari 2025.

“Karena that's the only way buat inorganic growth buat RATU-nya sendiri. Karena kita mau membawa growth ke equity investor juga,” ujar Adrian dalam siniar bersama Samuel Sekuritas bertajuk RATU di Peta Migas Nasional dikutip pada Selasa (9/6).

Menurut Adrian, perseroan saat ini telah mulai menelaah sejumlah aset migas di berbagai negara. RATU berharap dapat merealisasikan sebagian akuisisi dari target-target ladang migas itu dalam tahun ini apabila kondisi pasar mendukung.

Namun, kata Adrian, hingga saat ini proses negosiasi masih menghadapi tantangan akibat tingginya harga minyak dunia. Menurut dia, banyak pemilik aset menggunakan asumsi harga minyak di kisaran US $100 per barel sebagai dasar valuasi.

Padahal, RATU menilai harga minyak yang lebih realistis dan berkelanjutan berada pada rentang US$ 60-70 per barel. Karena itu, perusahaan masih menunggu momentum yang tepat sebelum menyelesaikan transaksi.

“Makanya saat ini kita sudah diskusi dengan seller, tapi masih menunggu momen itu mungkin ketika oil price itu turun. Jadi mereka lebih stabil,” katanya.

Saat ini, dalam mengembangkan bisnis migas, RATU juga memperluas kerja sama dengan menggandeng sejumlah perusahaan energi global. Adrian menyebut perseroan saat ini terlibat dalam berbagai proyek bersama perusahaan besar seperti ExxonMobil, PetroChina dan perusahaan BUMN energi raksasa di Cina bernama Sinopec.

Menurut dia, kolaborasi tersebut tidak hanya memberikan peluang bisnis, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan dan peningkatan kemampuan teknis perusahaan.

“Kami bisa belajar dari pengalaman dan keahlian mereka. Nantinya pengetahuan itu dapat kami terapkan pada lapangan migas yang lebih kecil dan berkembang secara bertahap menjadi lebih besar,” ujar Adrian.

Kontribusi Blok Kasuri, Madura Strait, hingga Jabung bagi Keuangan RATU

Selain memburu aset baru, RATU juga tengah memperkuat portofolio yang sudah ada. Salah satunya RATU baru saja mengakuisisi 5% participating interest (PI) di Blok Kasuri, Papua Barat. Blok migas besar ini memiliki cadangan gas sekitar 2,4 triliun kaki kubik (TCF).

Adrian mengatakan proyek tersebut masih menunggu sejumlah persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Perseroan berharap seluruh proses dapat rampung pada tahun ini.

Apabila sesuai jadwal, lapangan gas yang dioperasikan oleh Genting Oil Kasuri itu ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal keempat 2027. “Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, kontribusi dari Kasuri sudah mulai masuk ke kinerja keuangan perseroan pada akhir 2027,” katanya.

Sementara itu, kontrak RATU di Blok Madura Strait bakal habis dalam beberapa tahun lagi. Blok itu dioperasikan oleh Husky-CNOOC Madura Limited. Adrian mengatakan, RATU tengah membahas rencana jangka panjang terkait pengelolaan blok migas di Selat Madura yang kontraknya akan berakhir pada Oktober 2032.

Menurut dia, pembahasan mengenai perpanjangan kontrak dan skema pengelolaan pasca 2032 sedang dilakukan bersama pemerintah. Perseroan menilai keberadaan proyek tersebut penting untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Adrian melihat struktur energi Indonesia saat ini mulai bergeser dari dominasi minyak menuju gas bumi. Jika sebelumnya komposisi produksi energi nasional didominasi minyak, ke depan porsi gas diperkirakan semakin besar.

“Potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia saat ini lebih banyak berada di sektor gas dibandingkan minyak,” ujarnya.

Target Laba US$ 26,75 Juta pada 2026

Di sisi kinerja keuangan, RATU menargetkan laba bersih sebesar US$ 26,75 juta pada 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar US$ 15,2 juta. Sementara itu, pendapatan diperkirakan relatif stabil di kisaran US$ 51 juta.

Adrian menjelaskan, pertumbuhan laba ini diharapkan akan ditopang oleh peningkatan kontribusi dari kepemilikan participating interest di Blok Madura Strait serta tambahan pendapatan lain dari aset migas yang dimiliki perseroan.

Pendapatan utama masih akan berasal dari partisipasi RATU di Blok Jabung. Adapun kenaikan laba diperkirakan berasal dari kontribusi pendapatan investasi dan bagi hasil dari sejumlah aset migas yang telah dimiliki.

“Kontribusi dari Madura Strait menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan laba tahun depan,” tuturnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...