Kala IHSG dan Rupiah Merana: DPR Minta Warga Jual Dolar, Himbara Buyback Saham

Nur Hana Putri Nabila
11 Juni 2026, 14:09
IHSG
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/tom.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad saat menyampaikan keterangan pers terkait harga bahan bakar minyak (BBM) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rupiah terus babak belur terhadap dolar hingga sempat menyentuh Rp 18.153 pada awal pekan ini. Kondisi melemahnya rupiah ini mengingatkan akan masa krisis moneter pada 1998.

Di samping itu, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sudah babak belur hingga 32,42% secara year to date (ytd) dan levelnya sudah anjlok bahkan kembali ke situasi Covid-19. 

Di tengah tekanan yang menghantam IHSG dan nilai tukar rupiah itu, DPR menegaskan ada strategi khusus yang tengah disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dalam waktu dekat.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut aksi itu diyakini akan menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ia juga meminta masyarakat yang memiliki dolar untuk segera menjual valuta asing tersebut.

“Karena kalau kemudian sudah minggu depan nilai rupiah menguat, kan kasihan kalau simpan-simpan dolar. Itu imbauan saya sih demikian,” kata Dasco di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/6). 

Kala IHSG babak belur, Dasco mengeklaim kondisi tersebut tidak mencerminkan fundamental sejumlah perusahaan besar. Ini terutama berlaku untuk BUMN dan perusahaan swasta yang menjalankan proyek-proyek strategis. 

Di tengah kondisi itu, ia menyarankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback). Selain Himbara, ia juga mengusulkan perusahaan BUMN lainnya dapat mempertimbangkan buyback ketika harga saham sudah terpukul. 

“Kemudian lembaga-lembaga yang melakukan investasi maupun pasar tentunya melihat atau melakukan transaksi pembelian pada saat keadaan pasar seperti kemarin (anjlok),” ujar Dasco.

Apabila menilik pergerakan saham Bank Himbara, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sudah tertekan 22,68% ytd. Tak hanya BBRI, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terperosok 17,25% ytd, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) merosot 20,37% ytd. Sementara PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) justru naik 1,28% ytd namun turun 13,77% dalam tiga bulan terakhir. 

Sebelumnya, pada Selasa (9/6), Dasco menggelar pertemuan dengan perwakilan bank-bank Himbara, BP BUMN, BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, Indonesia Investment Authority (INA), hingga sejumlah perusahaan asuransi. Pertemuan itu membahas volatilitas yang terjadi di pasar saham beberapa bulan terakhir.

Ketua Himbara yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Putrama Wahju Setyawan menegaskan, kinerja bank-bank Himbara saat ini berada dalam kondisi yang sangat kuat. Menurutnya, kinerja bank himbara menjadi salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. 

Ia menjelaskan, rata-rata pertumbuhan kredit Himbara mencapai sekitar 20%. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh di kisaran 20% hingga 30%. Dari sisi likuiditas, kondisi perbankan pelat merah juga dinilai tetap sehat dengan loan to deposit ratio (LDR) berada pada rentang 88% hingga 90%. 

Selain itu, kualitas aset tetap terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari cadangan kerugian kredit (loan loss reserve) dan biaya kredit (credit cost) yang terkendali, serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang rata-rata masih berada di bawah level 2%.  

“Saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di BEI,” ucap Putrama.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...