Jelang Review MSCI, Seberapa Besar Kans RI Tetap di Klasifikasi Emerging Market?

Karunia Putri
23 Juni 2026, 15:50
Daftar Saham Yang Masih Masuk Didalam MSCI
Katadata
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

MSCI akan mengumumkan hasil annual market classification review terhadap pasar modal global pada Selasa (23/6) waktu Amerika Serikat atau Rabu (24/6) waktu Indonesia. Saat ini, Indonesia masih berstatus sebagai pasar berkembang atau emerging market.

Saat ini, pelaku pasar menantikan keputusan tersebut di tengah kekhawatiran Indonesia berpotensi turun ke kategori pasar perintis atau frontier market. Walaupun begitu, sejumlah analis menilai peluang Indonesia turun ke frontier market sangat kecil mengingat ukuran ekonomi dan kedalaman pasar modal Indonesia.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, pasar saat ini berada dalam fase yang krusial. Menurut dia, Indonesia terlalu besar untuk dikategorikan sebagai frontier market. Namun, berbagai catatan dan pertanyaan yang disampaikan MSCI maupun investor global tetap perlu dijawab secara serius.

"Namun demikian, pertanyaan MSCI dan investor global tetap harus dijawab secara serius," kata Fakhrul dalam keterangannya, Selasa (23/6).

Fakhrul menilai skenario terbaik (best case) adalah MSCI tetap mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market sekaligus memberikan waktu bagi otoritas untuk melanjutkan berbagai perbaikan yang sedang dilakukan. Jika skenario ini terjadi, pasar saham Indonesia berpeluang mengalami relief rally karena sebagian besar kekhawatiran investor telah tercermin dalam harga saham.

Sebaliknya, skenario terburuk (worst case) adalah MSCI memberikan sinyal penurunan tingkat aksesibilitas atau bobot saham Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan jangka pendek, terutama terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi portofolio utama investor global.

Meski begitu, Fakhrul menilai risiko tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan. Menurut dia, pemerintah saat ini tengah melakukan berbagai pembenahan kebijakan, mulai dari menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat koordinasi fiskal dan moneter hingga meningkatkan disiplin fiskal. Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menjawab kekhawatiran investor global.

dia melanjutkan, pergerakan dana asing dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh hasil review MSCI serta respons pasar terhadap arah kebijakan pemerintah setelah pengumuman tersebut.

Apabila hasil penilaian MSCI tidak seburuk yang dikhawatirkan pasar, arus keluar dana asing (capital outflow) diperkirakan mulai mereda. Bahkan, investor asing berpeluang kembali melakukan pembelian secara selektif pada saham-saham berkualitas yang memiliki likuiditas tinggi, tata kelola perusahaan yang baik, serta prospek pertumbuhan seiring pemulihan ekonomi domestik.

Sebaliknya, jika hasil review lebih buruk dari ekspektasi, tekanan jual dari investor asing masih dapat berlanjut untuk sementara waktu. Namun Fakhrul menilai sebagian besar risiko tersebut kemungkinan telah diantisipasi pasar melalui aksi jual yang terjadi sebelumnya.

Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah pemerintah dan regulator memanfaatkan momentum tersebut untuk menunjukkan komitmen dalam memperbaiki akses pasar, tata kelola, transparansi, serta menjaga stabilitas ekonomi makro.

Apa yang Mesti Dicermati Investor Ritel?

Bagi investor ritel, Fakhrul mengingatkan agar tidak bereaksi secara berlebihan terhadap hasil review MSCI. Menurut dia, perubahan klasifikasi indeks memang dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek, tetapi tidak serta-merta mengubah fundamental perusahaan.

Fakhrul menyarankan investor tetap berfokus pada emiten dengan neraca keuangan yang kuat, arus kas sehat, tata kelola yang baik serta valuasi yang sudah mencerminkan berbagai risiko negatif. Dalam kondisi pasar seperti saat ini, kualitas fundamental dinilai lebih penting dibandingkan mengejar momentum.

Fakhrul pun optimis prospek pasar saham Indonesia tetap besar apabila stabilisasi ekonomi makro terus berlanjut. Stabilitas rupiah, penurunan imbal hasil obligasi, disiplin fiskal, serta komunikasi kebijakan yang lebih baik akan menjadi faktor penting untuk mengembalikan minat investor terhadap aset Indonesia.

"Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang sedang diuji adalah kredibilitas kebijakan. Jika pemerintah mampu menjawab pertanyaan MSCI dan investor global melalui konsistensi kebijakan, peluang kembalinya dana asing dan inklusi baru akan lebih realistis terjadi pada akhir tahun ini," ujarnya.

Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai hasil review MSCI membawa konsekuensi positif sekaligus negatif bagi pasar modal Indonesia.

Menurut dia, perhatian investor seharusnya tidak hanya tertuju pada kemungkinan Indonesia kehilangan status emerging market. Yang lebih penting adalah memahami pesan yang ingin disampaikan MSCI melalui penurunan penilaian terhadap kualitas pasar modal Indonesia.

Liza menilai risiko terbesar bukan terletak pada perubahan status pasar, melainkan potensi diskon valuasi yang dapat bertahan lebih lama dibandingkan negara-negara sekelas Indonesia.

"Selama belum ada perbaikan yang signifikan dalam transparansi, kualitas free float, dan integritas pasar, investor asing berpotensi tetap mempertahankan posisi underweight terhadap Indonesia," ujar Liza.

BEI Yakin Kelas RI Tetap di Emerging Market

Tak hanya itu, BEI yakin pasar saham Indonesia akan tetap menyandang status emerging market atau pasar berkembang dalam klasifikasi MSCI. Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pihaknya yakin Indonesia mampu mempertahankan status tersebut karena telah melakukan berbagai reformasi dalam empat bulan terakhir.

"Tentu kami harus optimis, ya karena kita sudah melakukan banyak hal. Klarifikasi dan diskusi itu rutin dilakukan," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (19/6).

Dalam laporan sebelumnya, MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek Information Flow dari "+" menjadi "-". Penurunan tersebut didasarkan pada kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham, kualitas saham yang beredar di publik (free float), serta adanya indikasi perdagangan yang terkoordinasi.

Namun MSCI dalam laporan hasil review accessibility, status Indonesia sebagai emerging market masih tetap bertahan. Liza mengatakan laporan tersebut menjadi peringatan bahwa tata kelola pasar dan kualitas proses pembentukan harga (price discovery) kini semakin menjadi perhatian investor global. Oleh karena itu, pembenahan aspek transparansi, integritas pasar, dan kualitas free float menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan oleh regulator dan pelaku pasar.

Poin-Poin MSCI Global Market Accessibility Review 

  • MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek Information Flow dari "+" menjadi "-".
  • Penurunan peringkat ini terkait dengan kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan saham, kualitas free float (saham beredar di publik), serta adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
  • Status Indonesia sebagai Emerging Market masih relatif aman untuk saat ini.
  • Namun, laporan tersebut menjadi peringatan bahwa tata kelola pasar dan kualitas proses pembentukan harga (price discovery) kini mendapat perhatian yang lebih besar dari investor global.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...