Krakatau Steel (KRAS) Pangkas Struktur Grup, Lebur 2 Anak Usaha Kepelabuhanan
Emiten baja pelat merah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) melakukan perampingan anak usaha. Langkah ini sejalan dengan program transformasi dan konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Program tersebut dilakukan melalui merger, divestasi, likuidasi dan penyesuaian portofolio guna menciptakan perusahaan yang lebih fokus, efisien dan berdaya saing global. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (24/6), KRAS menggabungkan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) dan PT Krakatau Jasa Samudera (KJS).
Dalam transaksi tersebut, KBS bertindak sebagai entitas yang menerima penggabungan usaha. Kedua perusahaan bergerak di bidang jasa kepelabuhanan dan logistik.
Corporate Secretary Krakatau Steel Rachman Hidayat mengatakan KBS dan KJS merupakan perusahaan terkendali yang dimiliki Krakatau Steel secara tidak langsung sebesar 99%.
“Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan transaksi adalah KBS dan KJS, yang keduanya merupakan perusahaan terkendali Perseroan dengan kepemilikan saham sebesar 99% secara tidak langsung oleh Perseroan,” kata Rachman dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (25/6).
Menurut dia, penggabungan usaha tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis perseroan dan tidak berdampak terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, keuangan, maupun kelangsungan usaha Krakatau Steel.
Selain merger, KBS juga menandatangani pengalihan piutang milik PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) berdasarkan Akta Perjanjian Pengalihan Piutang Nomor 12 tanggal 22 Juni 2026. Nilai piutang yang dialihkan mencapai Rp 51,77 miliar.
Perseroan juga melakukan transaksi afiliasi berupa pengalihan satu lembar saham milik KBS di PT Krakatau Samudera Solusi (KSS) kepada PT Krakatau Jasa Industri (KJI). Transaksi tersebut dilakukan melalui Akta Jual Beli Saham Nomor 13 tanggal 22 Juni 2026 dengan nilai transaksi Rp 250 ribu.
Pemerintah Percepat Konsolidasi BUMN
Langkah perampingan yang dilakukan Krakatau Steel sejalan dengan agenda pemerintah mempercepat konsolidasi BUMN.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan jumlah entitas BUMN dapat ditekan menjadi sekitar 300 perusahaan dalam waktu dekat. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat tata kelola perusahaan negara.
Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel TNI Teddy Indra Wijaya mengatakan dari sekitar 1.077 entitas BUMN yang ada saat ini, sebanyak 258 entitas telah berhasil dikonsolidasikan.
“Proses konsolidasi dan transformasi BUMN terus berjalan. Dari total sekitar 1.077 entitas BUMN, sebanyak 258 telah berhasil dikonsolidasikan, dan dilanjutkan dengan target sekitar 300 entitas dalam waktu dekat,” kata Teddy dalam keterangan resmi yang dirilis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Senin (22/6).
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan Presiden Prabowo dengan Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Rosan Roeslani di kediaman presiden di Kertanegara, Jakarta, Ahad (21/6).
Menurut Teddy, transformasi dan konsolidasi BUMN dilakukan untuk mengoptimalkan pengelolaan aset negara, meningkatkan efisiensi, memperkuat tata kelola, serta menekan beban biaya yang selama ini ditanggung pemerintah.
KRAS Cetak Laba Rp 5,4 Triliun Usai Rugi Selama 10 Tahun
Di tengah proses transformasi tersebut, KRAS mencatat perbaikan kinerja signifikan. Pada tahun buku 2025, perusahaan membukukan laba bersih US$ 325,45 juta atau sekitar Rp 5,44 triliun, berbalik dari rugi US$ 154,71 juta pada 2024.
Perbaikan kinerja tersebut ditopang restrukturisasi keuangan yang dilakukan bersama Danantara. Sepanjang 2025, KRAS mencatat pendapatan usaha sebesar US$ 959,83 juta dengan laba bruto mencapai US$ 50,74 juta.
Perseroan juga memperoleh pendapatan keuangan hampir US$ 520 juta serta mencatat keuntungan sebesar US$ 156,7 juta dari penyelesaian utang lebih cepat. Sementara itu, volume penjualan baja meningkat 29% menjadi 944.562 ton.
Kinerja positif berlanjut pada kuartal pertama 2026. KRAS membukukan laba bersih US$ 18,18 juta, berbalik dari rugi US$ 15,57 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan naik menjadi US$ 262,36 juta dari US$ 234,76 juta secara tahunan.
Direktur Utama KRAS Akbar Djohan mengatakan perbaikan kinerja tersebut menjadi sinyal awal keberhasilan transformasi perusahaan.
“Dengan demikian Krakatau Steel memiliki pondasi yang tangguh untuk mendukung kemandirian industri baja nasional,” ujar Akbar.
Hingga Maret 2026, total produksi baja Krakatau Steel mencapai 360 ribu ton, ditopang optimalisasi fasilitas Hot Strip Mill dan Cold Rolling Mill.
