Mayoritas Indeks Wall Street Lesu Usai Aksi Jual Saham Teknologi

Karunia Putri
26 Juni 2026, 06:19
wall street, bursa, saham, amerika serikat
Pixabay/Rabbimichoel
Ilustrasi New York Stock Exchange
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Mayoritas indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Kamis (25/6) karena aksi jual yang dilakukan investor di saham-saham teknologi utama.

Di sisi lain, pasar bergerak beragam karena saham-saham non kecerdasan buatan (AI) mendorong Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru secara intraday.

Indeks Nasdaq turun 0,46% dan ditutup di level 25.358,60. Ini menjadi penurunan selama empat hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Februari. Sementara itu, S&P 500 turun tipis 0,01% ke level 7.357,49. Adapun indeks Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan naik 71,72 poin atau 0,14% menjadi 51.920,62. 

Saham Alphabet turun hampir 1%, sementara Meta Platforms melemah lebih dari 2%. Investor mulai mengkhawatirkan bahwa kenaikan harga cip akan memangkas margin keuntungan perusahaan-perusahaan teknologi besar.

Manajer Portofolio Argent Capital Management Jed Ellerbroek mengatakan, hampir semua barang elektronik yang menggunakan semikonduktor, seperti televisi dan mobil akan mengalami kenaikan harga.

"Saya pikir dampaknya akan cukup besar karena inflasi yang tinggi di rantai pasok teknologi," ujar Ellerbroek dikutip dari CNBC, Jumat (26/6).  Namun, dia menilai konsumen saat ini masih cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga tersebut.

Sementara itu saham Apple menjadi pemberat utama pergerakan indeks Nasdaq setelah anjlok 6%. Penurunan ini terjadi usai perusahaan mengumumkan kenaikan harga produk MacBook dan iPad akibat lonjakan biaya komponen, termasuk cip. Selain itu, saham Microsoft turun 3,5% setelah perusahaan mengumumkan kenaikan harga konsol Xbox.

Sementara itu, indeks harga personal consumption expenditures (PCE) Mei, yang menjadi indikator inflasi pilihan Federal Reserve, menunjukkan inflasi utama naik 0,4% secara bulanan, sedikit di bawah perkiraan ekonom. Secara tahunan, inflasi utama naik 4,1%, sesuai ekspektasi.

Di luar komponen makanan dan energi yang bergejolak, inflasi inti PCE naik 0,3% dibanding bulan sebelumnya dan meningkat 3,4% secara tahunan. Kedua angka tersebut juga sejalan dengan perkiraan analis. 

Meskipun inflasi inti mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023, investor merasa lega karena angkanya tidak lebih tinggi di tengah kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun tipis. Yield obligasi acuan tenor 10 tahun melemah kurang dari 1 basis poin menjadi 4,396%.

"Inflasi memang masih terlalu tinggi, tetapi belum berada di luar kendali," kata Ellerbroek.

Di sisi lain, lonjakan saham Micron Technology membatasi pelemahan pasar. Saham produsen cip tersebut melonjak hampir 16% setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartal fiskal ketiga yang melampaui ekspektasi analis.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...