Ciputra (CTRA) Guyur Dividen Rp 667 M ke Investor, Bagaimana Prospek di 2026?

Karunia Putri
26 Juni 2026, 16:08
Ciputra
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/bar
Pengunjung mengamati paket perumahan yang ditawarkan dalam pameran Jateng Omah Expo 2025 di Mal Ciputra, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (15/5/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten pengembang properti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memutuskan membagikan dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp 667,28 miliar untuk pemegang sahamnya. Setiap investor CTRA mengantongi Rp 36 per saham. 

Nilai dividen ini ambi dari laba bersih tahun buku 2025 perseroan sebesar 2,66 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 1,99 triliun ditetapkan sebagai laba ditahan serta Rp 1 triliun ditetapkan sebagai cadangan.

Di lantai bursa, harga saham CTRA turun 3,45% atau 20 poin ke Rp 560 per saham pukul 15.15 WIB. Harga sahamnya terkoreksi 32,53% sejak awal tahun atau year to date (ytd).

“Jadi dividen yieldnya sekitar 6,4%,” ujar Aditya Ciputra Sastrawinata Investor Relationship CTRA ketika ditemui usai Pubex, Jumat (26/6). 

Nilai dividen ini meningkat dibandingkan dengan dividen CTRA pada tahun sebelumnya sebesar Rp 24 per saham. Lebih jauh, pada tahun buku 2023, CTRA membagikan dividen sebesar Rp 21 per saham. 

Pada kuartal pertama 2026, CTRA membukukan laba bersih Rp 518,30 miliar. Jumlah tersebut merosot 21,57% dari laba bersih perseroan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 660,4 miliar. Seiring dengan itu, pendapatan perseroan terpantau juga turun menjadi Rp 2,55 triliun dari Rp 2,73 triliun secara tahunan atau year on year. 

Selama 2026, CTRA menyatakan akan mengalami penurunan laba bersih dan pendapatan sebesar 10% secara tahunan.

Adit menjelaskan, proyeksi penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya penjualan properti, khususnya di segmen residensial. Sementara itu, untuk pre sales tahun ini akan datar di Rp 9,5 triliun seperti target tahun lalu.

“Jadi penurunan pendapatan di perusahaan properti mengikuti presales tahun sebelumnya. Kalau pre sales tahun 2025 turun, pendapatan 2026 turun juga,” ujar Adit.

Lebih rinci, dia menjelaskan faktor penurunan pre sales karena turunnya daya beli di segmen menengah ke bawah. Meski begitu, dia mengatakan properti investasi masih naik seperti mal, rumah sakit hingga klinik. Namun, jelas Adit, kenaikan investasi tidak dapat menutupi penurunan di residential sehingga net pendapatan bisa terdampak.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...