Adu Prospek 6 IPO Emiten: BACH Unggul, RANS Paling Berisiko?

Nur Hana Putri Nabila
29 Juni 2026, 12:08
IPO
Katadata/ChatGPT
Ilustrasi IPO alias penawaran umum perdana saham di Bursa Efek Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali diramaikan gelombang penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Sebanyak enam calon emiten sekaligus siap melantai minggu depan.

Di antara enam perusahaan itu ada PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI). Sementara tiga lainnya adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). 

Investor pun tentu bertanya-tanya, dari deretan nama tersebut, saham mana yang menawarkan prospek paling menarik? Lalu mana pula yang sebaiknya dicermati dengan lebih hati-hati?

Henan Putihrai Sekuritas menilai PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menjadi urutan pertama IPO yang layak dilirik. Perseroan membukukan pendapatan Rp 1,7 triliun atau naik 40% dan laba bersih Rp 156 miliar atau melonjak 98%, dengan ROE sekitar 29% dan PER 10–13 kali. Adapun kapitalisasi pasarnya setelah IPO diperkirakan sekitar Rp 1,63–Rp 2,04 triliun. 

Meskipun menawarkan pertumbuhan tinggi dengan valuasi relatif murah, investor perlu mencermati perubahan pengendali pasca-IPO serta transaksi afiliasi.

Sementara itu, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) juga dinilai menarik. Emiten alat kesehatan diagnostik ini mencatatkan pendapatan Rp 74 miliar, laba bersih Rp 17 miliar, ROE sekitar 20%, serta PER 7–9 kali. Adapun kapitalisasi pasarnya setelah IPO sekitar Rp 174–Rp 209 miliar.   Namun, kinerja pendapatan perseroan masih tergolong volatil.

“Valuasi termurah dan merek Prodia. Catatan: topline volatil, emisi terkecil (Rp 63 M) sehingga berisiko tidak likuid,” tulis analisis Henan Sekuritas. 

Perbandingan IPO 6 Emiten
Sumber: Analisis Henan Putihrai Sekuritas

Henan Putihrai Sekuritas juga menilai PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) layak dicermati. Perusahaan yang bergerak di distribusi alat kesehatan mencatatkan pendapatan Rp 455 miliar atau naik 18% dan laba bersih sekitar Rp 33 miliar atau melonjak 188%. 

ROE perusahaan sekitar 22% dan PER 24–28 kali dan kapitalisasi pasarnya sekitar Rp 777–Rp 898 miliar. Namun, valuasi EMMI dinilai sudah relatif mahal dan masih memiliki risiko konsentrasi pelanggan.

Sementara itu, PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang dikenal dengan produknya bermerek Inaco membukukan pendapatan Rp 753 miliar atau turun 4,5% dan laba bersih Rp 39 miliar. Perusahaan memiliki ROE sekitar 27% dengan PER 23–29 kali. Adapun kapitalisasi pasarnya diperkirakan mencapai Rp  1,21–Rp 1,51 triliun. 

“Fundamental sehat tetapi topline menurun & mahal. Kurang menarik,” tulis Henan. 

Selain itu, Henan Sekuritas menilai PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) yang mengelola rumah sakit mata JEC memiliki aset berkualitas. Namun, IPO emiten ini dinilai kurang menarik karena diperdagangkan dengan valuasi PER 55–64 kali dan ROE yang relatif rendah, yakni 8,9%. Selain itu, laba bersih turun menjadi Rp 71 miliar dari sebelumnya Rp 124 miliar, meski pendapatan masih tumbuh 4% menjadi Rp 927 miliar. Kapitalisai pasar setelah IPO diperkirakan Rp 3,90 triluun–Rp 4,55 triliun. 

Sementara itu, PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) dinilai sebagai IPO yang paling kurang menarik menurut Henan Putihrai Sekuritas. Perseroan membukukan pendapatan Rp 353 miliar atau turun 14%, dengan laba sekitar Rp 57 miliar, ROE sekitar 17%, dan PER 30–38 kali. 

Kapitalisasi pasar RANS diperkirakan sekitar Rp 1,70–Rp 2,14 triliun. Selain pertumbuhan pendapatan yang menurun, RANS juga dinilai memiliki risiko key-man yang bergantung pada figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

“Kesimpulan fokus pada BACH, PRDL, EMMI. BACH terkuat secara angka namun bersyarat tata kelola,” ungkap Henan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...