Rupiah Ditutup Loyo, Hampir Sentuh 18.000 per Dolar AS

Image title
2 Juli 2026, 16:33
rupiah, dolar
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah melemah 0,24% ke level 17.995 per dolar AS pada perdagangan sore ini. Kurs rupiah melemah seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan global dan sejumlah tekanan dari dalam negeri.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah ditutup melemah 43 poin ke level Rp 17.995 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 50 poin. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 17.950 per dolar AS. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kurs rupiah tertekan oleh faktor eksternal lantaran perhatian investor masih tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Qatar mengungkapkan bahwa Iran dan Amerika Serikat telah mencatat kemajuan positif dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Doha. Negosiasi tersebut berfokus pada keamanan pelayaran di Selat Hormuz serta pencairan dana Iran.

“Meski lalu lintas kapal tanker mulai kembali normal, ketegangan masih membayangi setelah kedua negara saling menyerang pada akhir pekan lalu,” kata Ibrahim, Kamis (2/7).

Di sisi lain, Iran tetap berupaya memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz dan berencana memberlakukan bea masuk bagi pengiriman yang melintasi jalur tersebut mulai pertengahan Agustus setelah masa bebas tarif berakhir.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mencapai sekitar 67%. 

Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan perlambatan aktivitas. Perubahan Ketenagakerjaan ADP mencatat penambahan tenaga kerja swasta sebanyak 98 ribu pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 113 ribu maupun capaian Mei sebesar 122 ribu.

Di saat yang sama, Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM turun menjadi 53,3 dari sebelumnya 54,0 dan berada di bawah proyeksi pasar. 

"Fokus pasar kini beralih pada rilis data Nonfarm Payrolls AS yang diperkirakan menunjukkan penambahan tenaga kerja sebesar 110 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,3%," ujar Ibrahim. 

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai kepercayaan investor terhadap Indonesia sedang menghadapi tantangan seiring munculnya berbagai sentimen negatif pada awal kuartal II 2026.

Ia melihat terjadi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia pada Mei mengalami defisit, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Tekanan juga datang dari sektor manufaktur. Data S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut mencerminkan kontraksi yang semakin dalam dan menjadi penurunan paling tajam dalam setahun, didorong oleh melemahnya permintaan serta turunnya pesanan baru yang menyebabkan penurunan output terbesar sejak April 2025. 

Selain itu, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB sebesar lima bulan.

Penurunan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...