Soal Lesunya IPO 2026, BEI Pertimbangkan Revisi Target 50 Emiten Baru
Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih terbilang sepi sepanjang tahun berjalan. Hingga 9 Juli 2026, baru tujuh perusahaan yang resmi melantai di bursa dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 1,67 triliun.
Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari–Juli 2025 yang mencatatkan 18 emiten baru. Lantas, apa pandangan bursa soal ini?
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin mengatakan, keberhasilan suatu pasar tidak semata diukur dari banyaknya perusahaan yang IPO atau besarnya dana yang dihimpun. Menurut dia, kualitas emiten yang masuk ke pasar modal tetap menjadi prioritas utama.
"Kami tidak dapat melihat keberhasilan pasar perdana hanya dari jumlah transaksi atau nilai dana yang dihimpun, melainkan lebih kepada kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal, baik dari sisi fundamental, tata kelola, maupun kesiapannya menjadi perusahaan terbuka," ungkap Saidu dalam keterangannya, Jumat (10/7).
Memasuki semester II 2026, jumlah IPO masih jauh dari target yang ditetapkan bursa sebelumnya. Namun Saidu mengatakan, minat perusahaan untuk melantai di pasar modal tetap terjaga.
Saat ini, terdapat enam perusahaan dalam antrean (pipeline) IPO yang didominasi perusahaan beraset besar. Dari sisi sektor, perusahaan kesehatan (healthcare) menjadi yang paling dominan, disusul sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, kemudian basic materials.
Melihat perkembangan tersebut, BEI membuka kemungkinan merevisi target 50 IPO yang dipatok untuk tahun ini. Namun, Saidu menyatakan hingga kini belum ada keputusan final. "Kami lagi diskusikan apakah akan revisi atau enggak, dan belum ada keputusan," ujarnya.
Kendati demikian, Saidu tetap meyakini target tersebut masih bisa dikejar apabila kondisi pasar modal domestik dan sentimen global membaik pada paruh kedua tahun ini.
"Kalau kita berjuang, kalau kita bisa dapet trust secepat mungkin, kondisi juga membaik, geopolitik, dan segala macamnya support. Rasa-rasanya kita harus melihat ke depan, betul-betul optimistis kan, masalah nanti tercapai atau enggak kan akhir tahun," katanya.
Cara BEI Pastikan Kualitas Calon Emiten
Untuk mendorong lebih banyak perusahaan masuk ke pasar modal, Saidu mengatakan BEI memperkuat edukasi dan pendampingan kepada calon emiten. Bursa juga terus menyesuaikan regulasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pelaku usaha tanpa mengurangi perlindungan terhadap investor.
Berbagai program seperti Go Public Seminar, workshop, coaching clinic, masterclass, hingga one-on-one meeting terus diadakan bekerja sama dengan asosiasi, institusi dan berbagai mitra.
Dia juga mengatakan, reformasi integritas pasar modal yang dibentuk BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk peningkatan porsi saham publik (free float) dan transparansi kepemilikan atau ultimate beneficial owner (UBO), tidak dimaksudkan menjadi beban tambahan bagi calon emiten. Menurut Saidu, kebijakan tersebut diterapkan secara bertahap melalui masa transisi dan komunikasi intensif dengan pelaku pasar.
Minat Pendanaan lewat Pasar Modal Masih Tinggi
Kendati aksi IPO terbilang rendah sepanjang tahun berjalan, Saidu menilai minat perusahaan menghimpun dana melalui pasar modal masih cukup tinggi. Ini dapat dilihat terutama lewat penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS).
Hingga 9 Juli 2026, tercatat 71 penerbitan EBUS dari 43 perusahaan dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 76,1 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana melalui IPO masih relatif kecil dibandingkan instrumen obligasi.
Meskipun demikian, instrumen saham dinilai tetap diminati. Masuknya enam perusahaan dalam antrean IPO menjadi bukti. Jika keenam perusahaan itu jadi melantai di bursa, penghimpunan dana yang didapat setidaknya bisa mencapai Rp 2,47 triliun.
Saidu menuturkan, BEI akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan kualitas pasar dan daya tarik pasar modal sebagai sumber pendanaan perusahaan. Selain memperbarui regulasi, bursa juga melanjutkan berbagai program edukasi agar semakin banyak perusahaan siap memanfaatkan momentum pasar ketika memutuskan melaksanakan IPO.
