Wall Street Menguat, Saham Teknologi Raksasa Melesat Usai Inflasi AS Melandai

Nur Hana Putri Nabila
16 Juli 2026, 06:45
Wall Street
Wall Street
Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu (16/7), didorong lonjakan saham-saham teknologi berkapitalisasi jumbo setelah pelaku pasar merespons sinyal meredanya tekanan inflasi.

Indeks S&P 500 naik 0,38% ke level 7.572,40 dan Nasdaq Composite menguat 0,62% menjadi 26.269,23. Dow Jones Industrial Average tumbuh 150,37 poin atau 0,29% ke posisi 52.658,64.

Adapun investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham semikonduktor ke emiten teknologi berkapitalisasi besar. Saham Amazon dan Alphabet masing-masing melonjak sekitar 3% dan Microsoft naik hampir 3%. Sedangkan Apple melesat 4% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Sebaliknya, saham sektor semikonduktor melemah. Micron Technology anjlok 8%, Lam Research dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing turun sekitar 3% dan Intel anjlok lebih dari 4%. ETF VanEck Semiconductor (SMH) juga melemah lebih dari 1%.

Pelaku pasar turut mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve New York John Williams yang menilai inflasi kemungkinan telah mencapai puncaknya dan diperkirakan mulai melandai dalam beberapa kuartal mendatang.

Optimisme tersebut diperkuat oleh data inflasi produsen AS. Indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) turun 0,3% secara bulanan pada Juni. Hal itu berlawanan dengan proyeksi ekonom yang memperkirakan tidak ada perubahan. Secara tahunan, inflasi produsen tercatat sebesar 5,5%.

Kepala Global Investment Decision Research SimCorp, Melissa Brown, menilai data inflasi terbaru belum menghapus kemungkinan kenaikan suku bunga. Pasalnya, laju inflasi masih berada jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.

“Pasar saat ini mungkin bereaksi berlebihan terhadap satu berita, baik ke arah mana pun,” ucap Brown dikutip CNBC International, Kamis (16/7). 

Data PPI tersebut melengkapi laporan indeks harga konsumen (IHK) yang dirilis sehari sebelumnya, yang menunjukkan inflasi lebih rendah dari perkiraan. Sejumlah data itu memperkuat ekspektasi pasar Federal Reserve tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif pada tahun ini.

Seiring dengan itu, pelaku pasar mulai menurunkan proyeksi terhadap pengetatan kebijakan moneter The Fed dalam waktu dekat. Meski peluang kenaikan suku bunga pada rapat Juli terus menyusut dalam beberapa hari terakhir, berdasarkan FedWatch Tool CME, pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga menjelang akhir tahun.

Meski begitu pelaku pasar memperkirakan peluang hampir 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 hingga 50 basis poin pada rapat Oktober.





 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...