Menilik Prospek Emiten Konglomerat BIPI–OASA, BNBR, TPIA di Proyek WtE Danantara
Proyek pembangkit listrik berbasis pengolahan sampah atau waste-to-energy (WTE) yang dikelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia membuka peluang bisnis baru bagi sejumlah emiten. Sejumlah perusahaan yang terafiliasi dengan konglomerat nasional pun masuk dalam daftar mitra terpilih untuk menggarap proyek strategis tersebut.
Grup Bakrie melalui entitas afiliasinya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), yakni Bakrie Power bersama konsorsium bernama Mentari Citra Lestari menggenggam proyek WTE di Surabaya. Lalu Grup Bakrie lewat PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) juga memenangkan proyek untuk menggarap WTE di Lampung dengan konsorsium Bumi Biru Indonesia.
BIPI sebelumnya mengakuisisi 20% saham kelompok usaha OASA yakni PT Indoplas Energi Hijau (IEH). Adapun Grup Bakrie menggenggam saham BIPI sebanyak 7,10%. Selain grup Bakrie, konglomerat Prajogo Pangestu memperluas gurita bisnisnya ke sektor pembangkit listrik berbasis pengolahan sampah atau waste-to-energy (WTE), Prajogo kini ikut ambil bagian di proyek WtE.
Aksi itu melalui entitas usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yakni PT Chandra Waste Energy. Nantinya perusahaan tersebut akan menggenggam kawasan WTE di wilayah Serang Raya bersama konsorsiumnya, Masa Depan Energi Indonesia.
Daftar Mitra Terpilih Proyek WtE Danantara Tahap II:
- Medan Raya: SUEZ-IAN Consortium (SUEZ Insan Asia) Kabupaten
- Bekasi: Consortium Everbright Cemerlang Energy (Everbright Harmoni)
- Lampung Raya: Bumi Biru Indonesia (SUS Indoplas)
- Serang Raya: Masa Depan Energi Indonesia (Chandra Waste Energy BGE)
- Semarang Raya: Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd. (Veolia)
- Surabaya Raya: Consortium Mentari Citra Lestari (Bakrie Power SUS)
- Bogor Raya 2: MPM-CEVIA Consortium (Mega Power CEVIA)
- Yogyakarta Raya: Cakra Energi Lestari Consortium (Pertamina NRE Tianjin CITICC).
Melihat potensi jejak konglomerat di proyek negara, analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan ketiga saham tersebut sama-sama mendapat sentimen positif dari proyek waste-to-energy (WTE) Danantara. Namun, OASA menjadi emiten yang paling diuntungkan karena fokus pada bisnis WTE, meski potensi kenaikan sahamnya mulai terbatas setelah harganya lebih dulu melonjak dan perusahaan masih rugi.
Sementara itu, menurut Abida, kontribusi bisnis WTE terhadap TPIA masih relatif kecil dibandingkan bisnis petrokimianya. Proyek tersebut lebih ke aksi diversifikasi berbasis ESG daripada menjadi pendorong utama perusahaan.
Di sisi lain, BNBR baru mulai masuk ke bisnis WTE melalui Bakrie Power sehingga dampak positifnya masih berada pada tahap awal dan perlu dipantau lebih lanjut.
“Jadi ketiganya menarik untuk dicermati sebagai tema sektor, dengan bobot katalis dan skala bisnis yang berbeda-beda,” kata Abida kepada Katadata.co.id. Jumat (17/7).
Sementara Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan berpotensi memberikan nilai tambah cukup signifikan, terutama dalam jangka panjang. Namun, dampaknya terhadap kinerja keuangan akan bergantung pada skala proyek, besaran kepemilikan, dan struktur kontrak yang dimiliki masing-masing emiten.
Nafan menyoroti tahap awal, kontribusi terhadap laba kemungkinan belum terlalu material karena proyek masih berada dalam fase pengembangan dan membutuhkan belanja modal (capex) yang besar.
“Namun, apabila proyek telah beroperasi secara komersial, PSEL dapat menjadi sumber pendapatan yang lebih berulang (recurring income) melalui kombinasi tipping fee dari pemerintah daerah dan penjualan listrik kepada PLN,” ucap Nafan kepada Katadata.co.id, Jumat (17/7).
Selain itu Nafan juga membeberkan empat kelebihan dan tantangan emiten yang tampil sebagai mitra proyek PSEL antara lain:
| No | Tantangan | Kelebihan |
| 1 | Menambah sumber pendapatan jangka panjang yang relatif stabil. | Kebutuhan investasi awal yang besar dengan periode pengembalian modal yang panjang |
| 2 | Meningkatkan diversifikasi usaha dan mengurangi ketergantungan pada satu sektor | Risiko konstruksi, keterlambatan proyek, dan pembengkakan biaya. |
| 3 | Mendukung implementasi ESG sehingga berpotensi meningkatkan daya tarik bagi investor institusi | Ketergantungan terhadap kepastian regulasi, dukungan pemerintah daerah, dan skema tipping fee |
| 4 | Memiliki peluang memperoleh proyek lanjutan apabila rekam jejak pelaksanaan proyek pertama berjalan baik | Risiko pasokan sampah maupun performa teknologi yang digunakan agar kapasitas pembangkit tetap optimal |
Sumber: Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta
Nafan menegaskan keberhasilan proyek tersebut bukan hanya ditentukan oleh kemampuan membangun fasilitas. Akan tetapi kemampuan emiten menyusun struktur pendanaan yang efisien dan mengelola risiko operasional.
“Adapun peluang bertambahnya jumlah emiten yang terlibat cukup besar apabila pemerintah terus memperluas implementasi PSEL sebagai bagian dari target pengelolaan sampah nasional dan transisi energi,” kata Nafan.
Nafan mengatakan proyek WTE itu berpotensi menarik lebih banyak emiten yang memiliki pengalaman di sektor energi, utilitas, maupun pembangkit listrik. Lalu kompetensi dalam EPC (engineering, procurement, and construction), kemampuan pengelolaan limbah dan infrastruktur lingkungan.
Selain itu neraca keuangan yang kuat juga berpotensi menarik lebih banyak emiten sehingga mampu mendukung investasi jangka panjang. Lalu didukung juga rekam jejak dalam proyek public private partnership (PPP) atau infrastruktur berskala besar.
“Rekomendasi saham BIPI dan OASA adalah NOT RATED, sedangkan TPIA target harga ke Rp 2.490,” ucap Nafan.
