Babak Baru Bisnis Waskita Karya (WSKT) Pascarestrukturisasi, Bakal Saingi JSMR?
Pemerintah mendorong restrukturisasi PT Waskita Karya Tbk (WSKT) agar perseroan dapat menjadi perusahaan pengelola jalan tol terbesar kedua di Indonesia setelah PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Namun, Waskita perlu menyehatkan kondisi keuangannya terlebih dulu sebelum memperkuat fokus pada bisnis di sektor ini.
Analis menilai logis langkah tersebut, mengingat WSKT memang telah memiliki bisnis jalan tol. Namun, untuk mengarah ke pemain utama, tantangan WSKT tidak akan ringan mengingat Jasa Marga telah lama mendominasi di lini bisnis tersebut.
Kepala Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria mengatakan, restrukturisasi WSKT tidak boleh hanya berfokus pada perpanjangan waktu penyelesaian kewajiban atau penundaan masalah.
Menurut dia, proses penyehatan perusahaan harus disusun berdasarkan perhitungan yang realistis, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, restrukturisasi dapat menghasilkan solusi permanen bagi keberlanjutan perseroan.
“Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga. Maksud saya itu tidak apa-apa asal dihitung yang benar,” kata Dony dalam keterangannya yang dikutip pada Senin (20/7).
Dony mengatakan, arah restrukturisasi perusahaan pelat merah ini harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan nilai aset, struktur dan kemampuan pembayaran utang, proyeksi arus kas hingga pilihan model bisnis perseroan ke depan. Salah satu opsi yang didorong adalah memperkuat fokus WSKT pada bisnis pengelolaan jalan tol dengan struktur keuangan yang sehat dan kemampuan memenuhi kewajiban secara mandiri.
Dengan karakteristik bisnis jalan tol yang berjangka panjang, WSKT perlu dipastikan berada dalam kondisi keuangan yang sehat sebelum menjalankan agenda pengembangan berikutnya. Langkah ini termasuk membuka peluang pendanaan melalui pasar modal.
Dony pun telah menggelar pertemuan dengan jajaran direksi WSKT dengan membahas nilai aset, struktur dan kemampuan pembayaran utang, proyeksi arus kas hingga pilihan model bisnis WSKT ke depan.
Dia mengatakan, BP BUMN dan Danantara akan terus mengawal proses restrukturisasi tersebut agar tidak berhenti pada penyelesaian masalah jangka pendek. Restrukturisasi diharapkan dapat membentuk perusahaan yang sehat dengan model bisnis yang jelas sehingga Waskita tidak kembali menghadapi persoalan serupa pada masa mendatang.
Tantangan WSKT di Bisnis Jalan Tol
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, dorongan yang diberikan pemerintah kepada WSKT cukup logis. Ini mengingat bisnis jalan tol memiliki karakteristik arus kas yang lebih stabil dibandingkan konstruksi.
Kendati demikian, tantangannya tidak ringan karena JSMR masih menjadi pemain dominan dengan portofolio aset, pengalaman operasional, dan skala yang jauh lebih besar.
Oleh karena itu, Elandry melihat WSKT tidak harus bersaing secara langsung dalam skala. Melainkan dapat berfokus pada pengelolaan aset yang sudah dimiliki, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperbaiki struktur keuangan.
"Keberhasilan strategi ini akan lebih ditentukan oleh kualitas eksekusi dan kemampuan meningkatkan cash flow dibandingkan sekadar ekspansi aset baru," ujarnya.
Sementara itu, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim menilai, dengan fokusnya Waskita pada bisnis jalan tol berpotensi mengurangi pangsa pasar Jasa Marga. Hal ini seiring dengan kepemilikan WSKT atas tujuh ruas tol yang dapat menjadi sumber pendapatan dan arus kas yang lebih stabil bagi perseroan.
Kendati demikian dia memandang langkah tersebut dinilai dapat menjadi solusi yang saling menguntungkan bagi kedua perusahaan. “Kami melihat JSMR akan kehilangan potensi earning growth pada tujuh ruas tol di bawah WSKT. Namun, hal ini menjadi win-win solution untuk perbaikan neraca WSKT tanpa mengganggu arus kas dari JSMR,” kata Ahmad.
Menurut dia, tambahan pendapatan dari tujuh ruas tol yang dimiliki WSKT dapat membantu memperbaiki arus kas dan neraca perseroan. Di sisi lain, pengalihan fokus pengelolaan ruas tol tersebut tidak akan mengganggu arus kas Jasa Marga secara signifikan.
Dengan demikian, restrukturisasi WSKT dan penguatan fokus pada bisnis jalan tol berpotensi menjadi babak baru bagi perseroan. Keberhasilan strategi tersebut tetap bergantung pada kemampuan WSKT menyelesaikan proses penyehatan keuangan dan membangun model bisnis yang berkelanjutan.
Portofolio Bisnis Tol Waskita Karya
Sejatinya, masuk ke bisnis tol bukan hal baru bagi Waskita Karya. Perusahaan sebelumnya telah menggarap beberapa proyek jalan tol lewat anak usahanya. Namun, saat ini lini bisnis yang digenggam Waskita amat luas sehingga tidak fokus. Di antara lini bisnisnya adalah konstruksi, investasi infrastruktur, manufaktur hingga properti dan energi.
Bisnis konstruksi menjadi lini utama WSKT saat ini. Perusahaan membangun gedung, jalan, sumber daya air dan berbagai proyek infrastruktur lainnya. Perseroan pun memiliki bisnis investasi jalan tol dengan mengoperasikan sembilan ruas tol yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra.
Selain itu, perseroan memiliki lini bisnis manufaktur dengan rantai pasok terintegrasi dalam produksi beton pracetak. Perseroan juga mengelola investasi non-jalan tol dan manufaktur yang mencakup satu proyek pembangkit listrik, satu pabrik fabrikasi baja, serta bisnis manajemen peralatan konstruksi.
Di sektor properti, Waskita bergerak dalam pengembangan realti, termasuk hotel, apartemen dan kawasan perumahan.
Dalam 10 tahun terakhir, WSKT telah membangun 78 ruas jalan tol dengan total panjang lebih dari 1.000 kilometer, 32 jalan non-tol, 3 jalur kereta api dan 31 jembatan.
Sejumlah proyek yang telah dibangun Waskita antara lain Jalan Tol Kayu Agung–Palembang di Sumatra Selatan, Jalan Tol Semarang–Batang di Jawa Tengah, Jalan Tol IKN Seksi 5A di Kalimantan Timur, Jembatan Ogan di Sumatra Selatan, Jalan Tol Cimanggis–Cibitung di Jawa Barat serta Jalan Lintas Selatan (JLS) Lot 6B di Jawa Timur.
Dalam menjalankan bisnis jalan tol, WSKT mengandalkan anak usahanya, PT Waskita Toll Road (WTR) dengan kepemilikan sebesar 92,53%. WTR memiliki sejumlah investasi pada badan usaha jalan tol (BUJT) yang mengelola berbagai ruas tol strategis di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah PT Waskita Bumi Wira sebagai pengelola Jalan Tol Krian–Legundi–Bunder–Manyar (KLBM), PT Trans Jawa Paspro Jalan Tol yang mengelola Jalan Tol Pasuruan–Probolinggo, serta PT Pemalang Batang Toll Road sebagai pengelola Jalan Tol Pemalang–Batang.
Waskita juga memiliki kepemilikan pada PT Waskita Transjawa Toll Road yang mengelola aset ruas tol di koridor Trans-Jawa, PT Waskita Sriwijaya Tol sebagai pengelola Jalan Tol Kayu Agung–Palembang–Betung, serta PT Kresna Kusuma Dyandra Marga yang mengelola Jalan Tol Bekasi–Cawang–Kampung Melayu (Becakayu).
Melalui penguatan bisnis jalan tol tersebut, Waskita berpotensi menjadi salah satu pemain utama dalam industri jalan tol nasional. Namun, realisasi arah bisnis tersebut tetap bergantung pada keberhasilan restrukturisasi dan penyehatan kondisi keuangan perseroan.
