Adu Kesiapan Emiten Bisnis Hijau, ADRO, TPIA, OASA dan BIPI, Mana Paling Andal?

Karunia Putri
22 Juli 2026, 06:20
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Persaingan bisnis energi baru terbarukan (EBT) semakin sengit. Pemain di sektor energi hijau kini tak hanya berhadapan dengan perusahaan yang sejak awal fokus mengembangkan bisnis tersebut, namun juga konglomerasi besar yang mulai menggeser portofolio bisnisnya ke sektor rendah karbon.

Sederet perusahaan Indonesia mulai melakukan transformasi bisnis dengan masuk ke sektor energi terbarukan dan bisnis hijau. Langkah ini didorong karena meningkatnya tuntutan investor terhadap aspek environmental, social and governance (ESG) sekaligus arah kebijakan pemerintah menuju ekonomi rendah karbon dan target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.

Peluang bisnis di sektor ini pun semakin terbuka setelah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara membuka proyek waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Dengan nilai investasi mencapai Rp 2,3 triliun hingga Rp 3,2 triliun per proyek, sejumlah perusahaan berbondong-bondong mulai membidik peluang tersebut.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menilai tren transisi energi di Indonesia akan semakin kuat ke depan. Hal ini didorong oleh target NZE pemerintah, peningkatan investasi hijau, pengembangan ekosistem kendaraan listrik serta kebutuhan terhadap pasokan listrik rendah karbon.

Hal tersebut juga disampaikan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi. Dia menilai tren emiten yang mulai beralih ke bisnis energi bersih merupakan perkembangan positif dan sejalan dengan kebijakan pemerintah.

“Pemerintah semakin serius mendorong pengembangan energi rendah karbon, baik melalui percepatan proyek energi terbarukan maupun pengelolaan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE). Hal ini tentu membuka peluang pertumbuhan baru bagi emiten yang mulai membangun bisnis di sektor tersebut,” kata Imam kepada Katadata.co.id, Selasa (21/7).

Di pasar modal, sejumlah emiten mulai membangun eksposur terhadap bisnis hijau, di antaranya PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).

Dari keempat emiten tersebut, tiga di antaranya terafiliasi dengan konglomerasi besar. BIPI terafiliasi dengan Grup Bakrie melalui PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) yang memiliki 7,1% saham perseroan. TPIA merupakan emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, sedangkan ADRO adalah perusahaan punya pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir.

Meski berhadapan dengan perusahaan konglomerasi besar, OASA tak kalah pamor. Perseroan menggenggam berbagai portofolio bisnis hijau dan menjadi pemenang tender proyek WtE Danantara di Lampung dan Tangerang Selatan.

Lantas bagaimana kesiapan empat perusahaan itu menjalankan bisnis hijau dan mendorong Indonesia menuju target NZE lebih cepat?

ADRO dan Modal Batu Bara Membiayai Transformasi Hijau

Emiten Boy Thohir ADRO kini bertransformasi menjadi perusahaan energi hijau sejak akhir tahun 2024 melalui restrukturisasi masif. Perusahaan ini pun telah memisahkan bisnis batu bara termalnya.

ADRO memiliki sejumlah proyek hijau yang dikembangkan antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kalimantan Tengah dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan industri Kalimantan Utara.

Pengembangan energi terbarukan menjadi bagian dari upaya ADRO mendukung pertumbuhan ekonomi hijau sekaligus komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan mencapai target NZE.

“AlamTri telah menghitung emisi GRK yang dihasilkan dari kegiatan operasionalnya (cakupan 1 dan cakupan 2) dan terus melaksanakan berbagai upaya pengurangan atau sekuestrasi emisi GRK,” tulis perseroan dalam situs resminya. 

Pada 2023, perseroan menargetkan sekitar 50% pendapatan berasal dari bisnis di luar batu bara termal.Manajemen menyebut saat ini porsi pendapatan dari bisnis nom-batu bara termal telah lebih besar dan akan terus ditingkatkan melalui pengembangan sektor-sektor yang mendukung ekosistem hijau Indonesia.

Bisnis tersebut mencakup pengembangan smelter aluminium, penjajakan peluang di sektor mineral hijau, pengembangan EBT, serta pengembangan pasar batu bara metalurgi yang merupakan bahan penting dalam produksi baja.

Nafan mengatakan, nilai plus ADRO terletak pada arus kas yang kuat dari bisnis batu bara. Arus kas itu memberikan ruang bagi ADRO untuk membiayai investasi di sektor energi terbarukan secara internal.

Diversifikasi ADRO ke bisnis aluminium, pembangkit listrik dan energi bersih juga membuat proses transformasinya memiliki fondasi pendanaan yang relatif lebih solid dibandingkan sejumlah emiten lain.

“Prospeknya cukup menarik karena ADRO memiliki kemampuan melakukan transisi secara bertahap tanpa mengorbankan kesehatan neraca,” ujar Nafan.

Sementara itu Imam menilai transformasi ADRO merupakan salah satu yang paling matang. Perseroan tidak sekadar masuk ke bisnis energi hijau, tetapi membangun ekosistem industri hijau yang terintegrasi melalui pengembangan alumina, aluminium hingga bisnis hijau lainnya.

Menurut dia, keunggulan utama ADRO adalah kemampuan membiayai transformasi dari arus kas bisnis eksisting sehingga tekanan pendanaannya relatif lebih rendah. Bisnis aluminium juga diperkirakan mulai memberikan kontribusi komersial pada semester kedua 2026 dan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru di luar batu bara.

TPIA Masuk Bisnis Hijau Lewat Anak Usaha CWE

Sementar itu, emiten Prajogo yaitu TPIA juga telah masuk ke bisnis hijau. Perusahaan yang dikenal sebagai pemain utama petrokimia nasional itu bahkan masuk dalam daftar mitra terpilih untuk menggarap proyek WtE Danantara lewat anak usahanya PT Chandra Waste Energy.

General Manager of Legal & Corporate Secretary TPIA Erri Dewi Riani mengatakan, proses saat ini masih berada pada tahap awal studi dan evaluasi kelayakan, dan kelanjutan.

Proyek PSEL akan bergantung antara lain pada hasil FS yang kemudian akan dikeluarkan Final Letter of Award. TPIA pun akan selalu terbuka dengan kesempatan yang ada dalam rangka mendukung kinerja usaha agar tetap tumbuh secara berkelanjutan.

“Perseroan akan tetap berupaya mengikuti dan mematuhi ketentuan dari peraturan Pasar Modal yang berlaku dalam setiap aksi korporasi,” kata dia. 

Sementara itu, Nafan keunggulan TPIA terletak pada skala bisnis industri kimia dan petrokimia serta keterkaitannya dengan WtE, ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah.

Menurut dia, langkah tersebut memungkinkan TPIA masuk ke bisnis hijau tanpa meninggalkan kompetensi intinya. Dalam jangka panjang, diversifikasi ini berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat daya saing perseroan.

Sementara itu, Imam menilai langkah TPIA masuk ke bisnis WtE menarik karena masih memiliki keterkaitan dengan bisnis inti perseroan, terutama dalam pengembangan ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah.

Namun, dia mengingatkan proyek PSEL Danantara masih berada pada tahap feasibility study. Dengan demikian, belum ada keputusan investasi final maupun kepastian mengenai kontribusi proyek tersebut terhadap pendapatan dan laba TPIA.

“Dengan demikian, kami melihat sentimen ini lebih merupakan potensi jangka menengah hingga panjang,” ujar Imam.

BIPI Lebih Dulu Masuk ke Energi Terbarukan

BIPI menjadi salah satu emiten yang lebih dahulu membangun eksposur di sektor energi terbarukan. Dengan pengalaman operasional yang lebih panjang, Nafan melihat perseroan memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah pemain baru yang baru mulai masuk ke bisnis tersebut.

Kendati demikian, Nafan melihat tantangan utamanya terletak pada skala bisnis yang masih relatif terbatas. Alhasil itu membuat keberhasilan ekspansi akan sangat bergantung pada keberhasilan memperoleh proyek-proyek baru dan pembiayaan yang memadai.

Meski begitu, BIPI baru-baru ini memperoleh proyek jumbo besaham Grup Humpuss milik Tommy Soeharto senilai Rp US$ 1,5 miliar atau setara dengan 25,95 triliun.

Kerja sama ini menjadi bagian dari strategi bisnis BIPI memperkuat portofolio di sektor energi berkelanjutan. Secara keseluruhan, BIPI bersama Grup Humpuss akan mengembangkan lima proyek di sektor energi dan industri.

Proyek tersebut meliputi reaktivasi Catalytic Polymerization Unit (CPU), proyek Reformate Addition, pembangunan kilang pengolahan Crude Palm Oil (CPO) menjadi minyak goreng, proyek Mini LNG hingga pengembangan pembangkit listrik panas bumi dan data center di Pulau Sabang, Aceh.

BIPI bersama OASA juga menjadi pemenang proyek WtE di Lampung dengan konsorsium Bumi Biru Indonesia.

OASA Sejak Awal Fokus pada WtE

Berbeda dengan tiga emiten lainnya, OASA sejak awal telah berfokus pada bisnis waste to energy. Perseroan terus memperluas portofolio proyek, termasuk setelah terpilih sebagai mitra pengembangan PSEL Lampung Raya.

Imam menilai OASA memiliki posisi yang kuat jika pemerintah benar-benar mempercepat pembangunan fasilitas WtE secara nasional.

Namun, karena bisnis tersebut masih dalam tahap pengembangan, prospek OASA tetap bergantung pada kemampuan perseroan mengeksekusi proyek, kepastian pendanaan, dan implementasi kebijakan pemerintah.

Dalam portofolio bisnisnya, saat ini OASA mengembangkan teknologi yang mengubah sampah menjadi energi melalui proses pembakaran atau insinerasi. Energi panas yang dihasilkan kemudian dikonversi menjadi listrik sehingga perseroan memiliki peluang untuk terus memperkuat bisnis energi hijau.

Selain itu, OASA juga mengolah wood pellet dan woodchip menjadi biomassa. Bisnis ini sejalan dengan program pemerintah untuk mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara.

Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar dan diperkirakan mampu menghasilkan listrik hingga 30.000 megawatt (MW). 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...