CPIN Berpotensi Turun Kelas di MSCI, Dana Pasif Rp 500 Miliar Terancam Kabur

Nur Hana Putri Nabila
30 Juli 2026, 15:05
Logo Charoen Pokphand di Jakarta (28/5/2015)
Arief Kamaludin | Katadata
Logo Charoen Pokphand di Jakarta (28/5/2015)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diperkirakan akan diturunkan dari MSCI Global Standard Index dalam tinjauan indeks triwulanan yang diumumkan pada 13 Agustus 2026. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan review tersebut dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar Rp 500 miliar atau 3% dari kepemilikan asingnya.

Menurut Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, hal itu dipicu dari kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan Foreign Inclusion Factor (FIF) yang berada di bawah ambang batas indeks standar setelah harga saham CPIN terkoreksi 22,5% sejak tinjauan Mei lalu.

Wilbert memperkirakan review tersebut akan memangkas kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia sebesar 1,9%.  Dampaknya, bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets diperkirakan turun masing-masing sebesar 0,01 poin.

Meski begitu, ia menilai arus keluar dana pasif gara-gara penurunan tersebut relatif kecil dan dapat diserap pasar. Nilai tersebut dinilai tidak signifikan dibandingkan penguatan pasar saham Indonesia sepanjang Juli.

Lebih lanjut, Wilbert mengatakan tantangan yang lebih penting justru tertuju pada pemulihan bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets. Menurutnya, kenaikan bisa terjadi kenaikan bobot jika pembekuan (freeze) penambahan konstituen dicabut. 

Namun apabila pembekuan diperpanjang hingga November 2026, bobot Indonesia diperkirakan tetap berada di level saat ini. Menurut Wilbert kondisi itu bukan merupakan risiko baru karena telah menjadi ekspektasi pasar.

Sebaliknya, ia melihat peluang muncul dari mulai pulihnya pasar negara berkembang seiring bergesernya kepemimpinan pasar dari saham-saham AI.

“Secara keseluruhan, kami optimis terhadap paruh kedua 2026 dan akan memanfaatkan pelemahan yang didorong indeks sekitar tanggal efektif 31 Agustus untuk mengakumulasi posisi, sambil menahan diri dari memberikan sinyal “aman sepenuhnya” hingga November,” tulis Wilbert dalam analisisnya, dikutip Rabu (29/7). 

CGS International Sekuritas Indonesia juga menyoroti hal serupa. Mereka menilai CPIN menjadi kandidat utama yang akan dikeluarkan dari indeks MSCI. 

Hasil rebalancing dijadwalkan diumumkan pada 13 Agustus 2026 sebelum pembukaan pasar Indonesia dan mulai berlaku pada pembukaan perdagangan 1 September 2026.

Posisi Bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets

Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya mengatakan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (MSCI EM) mulai stabil di kisaran 0,5% setelah terpuruk sepanjang semester I 2026. 

Sebelumnya, bobot Indonesia sempat menyentuh level terendah dalam satu dekade, yakni 0,4% pada Juni 2026, turun dari 1,2% pada Desember 2025.

Mirae Asset menyebut perbaikan tersebut didorong oleh penguatan kinerja pasar saham Indonesia. Indeks MSCI Indonesia naik 12,5% secara month-to-date (mtd), berbanding terbalik dengan MSCI Emerging Markets yang terkoreksi 4%. Kenaikan ini seiring meredanya reli saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI) dan koreksi pasar saham Korea Selatan yang mencapai 21,6% secara mtd.

Arus modal asing juga menunjukkan perbaikan. Nilai jual bersih (net sell) investor asing sepanjang bulan berjalan menyusut menjadi Rp 4,1 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata arus keluar bulanan sebesar Rp 12,3 triliun pada semester I 2026.



add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...