Mengintip Kunci BBCA Cetak Laba Nyaris Samai BMRI meski Aset Lebih Kecil

Karunia Putri
31 Juli 2026, 17:01
BMRI
Katadata/AI
Ilustrasi komparasi bisnis BCA (BBCA) dan Bank Mandiri (BMRI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ada yang menarik dari kinerja dua bank jumbo nasional pada semester pertama 2026. Bank pelat merah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan bank swasta raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengantongi laba bersih dengan nilai yang nyaris sama, sekitar Rp 29-30 triliun. 

Namun, ukuran kedua bank itu jelas jauh berbeda. Secara konsolidasian, total aset Bank Mandiri mencapai Rp 2.527 triliun, sedangkan BCA hanya Rp 1.660 triliun, terpaut Rp 867 triliun. Perbedaan itu memunculkan pertanyaan: mengapa bank dengan aset jauh lebih kecil mampu menghasilkan laba yang hampir sama?

Posisi Semester I 2026BMRIBBCA
Laba bersihRp 30,4 triliunRp 29,5 triliun
Total asetRp 2.527 triliunRp 1.660 triliun
ROA3,10%3,82%
ROE24,28% 24,13% 
NIM4,34% 5,32% 

(Sumber: laporan keuangan BMRI dan BBCA, diolah penulis).

Menurut pengamat perbankan Moch Amin Nurdin, fenomena tersebut menunjukkan industri perbankan saat ini tengah mengalami perubahan paradigma. Ukuran aset tak lagi menjadi faktor utama yang menentukan profitabilitas bank.

“Dalam industri perbankan modern, yang lebih menentukan adalah kemampuan bank mengubah aset menjadi pendapatan secara efisien dengan tingkat risiko yang terkendali,” kata Amin kepada Katadata.co.id, Jumat (31/7).

Dia menuturkan, yang membuat BBCA mampu meraup untung besar meski dengan aset lebih kecil dari BMRI lantaran perseroan selama bertahun-tahun membangun keunggulan struktural yang sulit ditiru pesaing. Ini adalah kunci utama keunggulan BBCA.

Dominasi dana murah atau current account saving account (CASA) membuat biaya dana (cost of fund) BBCA menjadi salah satu yang terendah di industri sejenis. Keunggulan tersebut diperkuat oleh disiplin menjaga kualitas kredit, efisiensi operasional serta besarnya kontribusi pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang berasal dari transaksi perbankan.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat BBCA mampu menghasilkan laba yang tinggi meski mengelola aset yang lebih kecil dibandingkan BMRI.

Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2026, CASA Mandiri pada paruh pertama tahun ini tercatat berada di level 69,2% dari total dana pihak ketiga (DPK). Adapun total DPK Bank Mandiri pada periode tersebut mencapai Rp 1.763 triliun 

Sementara CASA BCA mencapai sekitar 84,3% dari total DPK atau naik 10,2% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1.082 triliun pada semester pertama 2026. Tak hanya itu, ROA BBCA juga lebih tinggi yaitu sebesar 3,82% dibandingkan dengan BMRI mencapai 3,10%.

"Karena itu, bila laba kedua bank relatif sama sementara aset Mandiri jauh lebih besar, secara matematis memang dapat dikatakan bahwa produktivitas aset BCA saat ini lebih tinggi. Hal tersebut tercermin dalam ROA yang lebih baik," ujar Amin.

ROA sendiri menggambarkan kemampuan bank menghasilkan keuntungan dari seluruh aset yang dikelola. Semakin tinggi rasionya, semakin efisien bank memanfaatkan asetnya untuk mencetak laba.

Model Bisnis Bank Berbeda

Kendati demikian, Amin mengingatkan, perbedaan ROA tidak otomatis menunjukkan kualitas bisnis Bank Mandiri tidak lebih tinggi dibandingkan pesaing swastanya itu. Menurut dia, model bisnis kedua bank memang berbeda.

Sebagai bank BUMN terbesar, Mandiri memiliki peran strategis dalam pembiayaan korporasi besar, proyek infrastruktur, sektor prioritas pemerintah hingga berbagai program pembangunan nasional.

Portofolio tersebut umumnya membutuhkan modal yang lebih besar, memiliki tenor lebih panjang, serta menghasilkan margin yang relatif lebih tipis dibandingkan bisnis transaksi dan komersial yang menjadi kekuatan utama BCA.

"Dengan demikian, aset yang lebih besar tidak selalu menghasilkan laba yang proporsional lebih tinggi, karena setiap jenis aset memiliki tingkat pengembalian (yield) dan profil risiko yang berbeda," ujarnya.

Ketika ditanya apakah dengan perbedaan tersebut mengindikasikan BMRI mengalami diminishing return, yakni kondisi ketika pertumbuhan aset tidak lagi diikuti peningkatan laba secara sepadan, Amin menilai masih terlalu dini menyimpulkan hal tersebut. 

Menurut dia, kesimpulan semacam itu baru dapat ditarik apabila dalam periode yang cukup panjang pertumbuhan aset secara konsisten tidak lagi mampu menghasilkan pertumbuhan laba maupun peningkatan ROA setelah mempertimbangkan faktor siklus ekonomi, suku bunga, pencadangan hingga strategi ekspansi. "Satu periode laporan keuangan belum cukup untuk menarik kesimpulan tersebut," ucapnya.

Fenomena itu dinilai menjadi sinyal bahwa persaingan bank-bank besar mulai bergeser. Jika pada masa lalu ukuran aset menjadi simbol kekuatan bank, kini investor lebih memperhatikan kemampuan bank menghasilkan laba dari setiap rupiah aset yang dikelola.

Menurut Amin, kualitas laba, efisiensi operasional, pendapatan nonbunga, manajemen risiko hingga produktivitas aset akan semakin menentukan penilaian pasar terhadap industri perbankan. Ke depan, indikator yang paling penting bukan lagi siapa yang memiliki aset terbesar, melainkan siapa yang mampu menghasilkan return tertinggi dari aset tersebut tanpa mengorbankan kualitas kredit dan ketahanan modal.

“Di situlah sesungguhnya kualitas sebuah bank akan dinilai oleh pasar dan para investor,” tuturnya.

Ia menilai tren tersebut menjelaskan mengapa bank yang bukan pemilik aset paling besar seperti BBCA kerap memperoleh valuasi pasar lebih tinggi dibandingkan sejumlah bank lain.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...