JELI Respons Panic Selling seusai AB Jual 68 Juta Lot, Saham Sempat Anjlok 8%

Nur Hana Putri Nabila
31 Juli 2026, 18:49
Saham
Dok. Niramas Utama
Pemandangan umum fasilitas manufaktur PT Niramas Utama Tbk (JELI) atau Inaco di Bekasi, Jawa Barat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Niramas Utama Tbk (JELI) atau Inaco merespons aksi jual panik atau panic selling  investor yang membuat harga sahamnya anjlok 8% pada perdagangan Rabu (29/7). Hal itu menyusul aksi jual 68 juta lot saham oleh sekuritas atau anggota bursa (AB). 

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Corporate Secretary Niramas Utama, Felicia Novianti Lukman, mengaku tekanan itu dipicu munculnya penawaran jual sekitar 68 juta lot saham, jauh lebih besar dibandingkan total saham JELI yang tercatat sebanyak 12,66 juta lot maupun saham beredar (free float) yang hanya 2,66 juta lot.

Ia juga mengatakan persepsi pasar yang negatif memicu tekanan jual sehingga menyebabkan harga saham JELI bergerak tidak wajar. “Sehubungan dengan kejadian tersebut, perseroan merasa dirugikan karena harga saham JELI menjadi tidak terkendali. Hal ini juga berdampak pada reputasi saham JELI,” kata Felicia, dikutip pada Jumat (31/7). 

Felicia menuturkan, berdasarkan pertemuan dengan BEI pada 30 Juli 2026, pihak bursa mengklarifikasi tragedi itu bukan disebabkan oleh gangguan sistem BEI, serangan siber (cyberattack), maupun gangguan teknis (glitch) pada sistem perdagangan bursa.

Penelusuran awal BEI menunjukkan adanya kesalahan pada sistem salah satu sekuritas anggota bursa yang mengakibatkan munculnya penawaran jual dalam jumlah yang jauh melebihi jumlah saham JELI. Menurutnya, masalah yang ada di sistem sekuritas tersebut masih dalam proses penanganan.

Felicia menuturkan, JELI tetap berkomitmen menjalankan keterbukaan informasi, menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, dan menjaga komunikasi yang transparan dengan investor, regulator, serta pemangku kepentingan.

Perusahaan juga akan terus berfokus pada pengembangan usaha dan peningkatan kinerja untuk menjaga fundamental bisnis di tengah dinamika ekonomi global, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

“Kondisi tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha. Operasional dan fundamental perseroan tetap terjaga,” ucapnya. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...