Aksi Konglomerat Cina Duet Haji Isam di Balik Melonjaknya Harga Saham PACK
Emiten yang terafiliasi dengan crazy rich Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam yaitu PT Abadi Nusantara Hijau Tbk (PACK) mencatatkan kenaikan harga saham signifikan. Dalam sebulan terakhir, harga saham PACK melesat 61,61% menjadi Rp 372 per saham.
Lonjakan saham PACK terjadi seiring transformasi bisnis perseroan. PACK mengubah wajah bisnisnya secara total dari produsen kemasan plastik menjadi perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan pengolahan nikel.
Perseroan sebelumnya bernama PT Solusi Kemasan Digital Tbk dengan merek dagang FlexyPack. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2023 hingga pertengahan 2025, PACK menjalankan bisnis kemasan plastik.
Pada periode tersebut, saham PACK cenderung bergerak di rentang Rp 2-Rp 20 per saham. Memasuki awal 2025, harga saham mulai meningkat hingga menyentuh Rp 50 dan kemudian kembali ke level harga IPO sebesar Rp 162 per saham. Lonjakan itu disusul dengan kabar peralihan bisnis PACK ke tambang nikel.
Transformasi bisnis PACK dimulai pada 21 Mei 2025. Saat itu, perseroan mengalihkan bisnis kemasan plastik kepada PT Kemas Surya Teknovasi dengan nilai aset Rp 54,17 miliar.
Beberapa bulan kemudian, pada September 2025 PACK resmi masuk ke bisnis pertambangan nikel.
Konglomerat Cina Weiming hingga Haji Isam di Balik Saham PACK
Perubahan bisnis PACK juga diikuti perubahan struktur pengendali perseroan. Manajemen PACK menyebut Deng Weiming sebagai pemegang saham pengendali melalui PT Eco Energi Perkasa.
“Pemegang saham pengendali Perseroan adalah Deng Weiming melalui kepemilikan pada PT Eco Energi Perkasa,” tulis manajemen PACK dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Jumat (21/8).
Deng mengendalikan 40,56% saham PACK melalui Eco Energi Perkasa
Deng Weiming merupakan Chairman CNGR Advanced Material, perusahaan asal Cina yang memproduksi komponen baterai lithium termasuk untuk kendaraan listrik. CNGR memiliki sejumlah pelanggan besar, antara lain Tesla dari Amerika Serikat, LG Chem dari Korea Selatan dan CATL dari Cina.
Mengutip Forbes, Deng merupakan konglomerat asal Cina dengan kekayaan sekitar US$ 2,4 miliar atau setara Rp 42,66 triliun per Jumat (21/8).
Deng memulai bisnisnya pada 1995 saat berusia 27 tahun dan mendirikan CNGR pada 2004. CNGR Advanced Material kemudian tercatat di Bursa Efek Shenzhen pada 2020 dan Bursa Efek Hong Kong pada 2025.
Setahun setelah transformasi bisnis, tepatnya pada Mei 2026, Haji Isam tercatat menjadi salah satu pemegang saham PACK dengan kepemilikan 21,12%, setara 6,83 miliar saham. Harga perolehan saham tersebut tercatat Rp 137 per saham.
Masuknya Haji Isam turut menjadi sentimen bagi saham PACK, mengingat pengusaha asal Kalimantan Selatan tersebut memiliki bisnis yang kuat di sektor pertambangan.
Wajah Baru PACK Jadi Perusahaan Nikel Nasional
PACK masuk ke bisnis nikel melalui dua anak usahanya yaitu PT Adhi Prakarsa Raya (APR) dan PT Sumber Cahaya Raya (SCR) yang masing-masing dikuasai 99,99% oleh perseroan.
APR memiliki 34,5% saham PT Karyatama Konawe Utara (KKU), sedangkan SCR memiliki 30% saham PT Konutara Sejati.
KKU dan Konutara Sejati merupakan perusahaan pertambangan mineral yang memproduksi bijih nikel. KKU memiliki konsesi tambang di Sulawesi Tenggara. Wilayah konsesi atau Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel seluas 3.119 hektar. Sementara Konutara Sejati memiliki tambang nikel di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Wilayah operasional dan desa lingkar tambangnya mencakup area seperti Desa Sarimukti, Tobimeita dan Marombo Pantai
Berdasarkan laporan keuangan PACK semester pertama 2026, KKU membukukan penjualan Rp 1,46 triliun. Sementara itu, Konutara Sejati mencatatkan penjualan Rp 1,05 triliun.
Dari kedua perusahaan tambang nikel tersebut, PACK mencatatkan bagian laba bersih sebesar Rp 202,84 miliar melalui metode ekuitas.
Transformasi bisnis ke sektor nikel menjadi salah satu katalis utama perbaikan kinerja PACK. Dalam satu tahun usai bertransformasi, PACK membalikkan rugi menjadi laba. Pada semester pertama 2026, perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 190,73 miliar.
Capaian tersebut berbalik dari rugi bersih Rp 14,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara persentase, perubahan tersebut setara dengan lonjakan sekitar 1.429,13%.
Perbaikan kinerja tersebut didorong oleh kenaikan penjualan neto yang mencapai Rp 213 miliar, dari Rp 20,54 miliar secara tahunan atau year on year (yoy).
Selain itu, penghasilan keuangan meningkat menjadi Rp 5,40 miliar dari sebelumnya Rp 919.524. PACK juga membukukan bagian laba bersih entitas asosiasi sebesar Rp 202,84 miliar, sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya belum mencatatkan kontribusi tersebut.
Hasil nikel PACK dijual ke PT Nadesico Nickel Industry. Perseroan adalah perusahaan pengolahan dan pemurnian (smelter) biji nikel di Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri PT Stardust Estate Industry (SEI), Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Sekitar 96,21% dari total pendapatan perdagangan nikel PACK (equivalen dengan sekitar Rp 204,93 miliar) berasal dari PT Nadesico Nickel Industry.
Perusahaan didirikan sebagai perusahaan patungan antara Zhongwei dan Delong Nickel, dengan total investasi lebih dari US$ 1,26 miliar. Keduanya merupakan perusahaan asal Cina. Keduanya bergerak di bidang pengolahan mineral, peleburan nikel serta industri baja nirkarat (stainless steel).
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menilai transformasi bisnis ke nikel menjadi katalis utama bagi PACK setelah perseroan keluar dari bisnis kemasan plastik dan masuk ke rantai bisnis pertambangan serta pengolahan nikel.
Analis BRI Danareksa juga menilai kinerja PACK berbalik positif. Laba bersih semester pertama 2026 mencapai sekitar Rp 190,8 miliar, dari rugi Rp14,3 miliar pada periode sebelumnya. Penjualan neto juga meningkat lebih dari 10 kali lipat secara yoy menjadi Rp 213 miliar.
Kontribusi bisnis nikel juga dinilai signifikan dengan bagian laba dari entitas asosiasi mencapai Rp 202,8 miliar. Hal tersebut menunjukkan potensi peningkatan kontribusi bisnis baru terhadap kinerja perseroan.
Dari sisi struktur pemegang saham, masuknya Haji Isam dengan kepemilikan 21,12% serta posisi PACK sebagai kendaraan investasi dalam ekosistem nikel turut memperkuat sentimen pasar.
