Geliat Aksi IRSX, RATU, BIPP dan BMAS Cari Modal Semester 2, Mana yang Menarik?

Karunia Putri
21 Agustus 2026, 15:09
Cara Investasi Saham
Pexels
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah emiten bersiap menghimpun tambahan modal melalui aksi korporasi, seperti private placement atau penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Ada juga yang mencari dana segar lewat penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue.

Beberapa emiten yang berencana melakukan aksi penambahan modal antara lain PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP), PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX), PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).

Bagaimana rencana masing-masing emiten di balik penggalangan dana?

BIPP Gelar Private Placement

Emiten sektor properti dan real estat, PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP), berencana melakukan private placement dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 502,86 juta saham seri B. Saham tersebut memiliki nilai nominal Rp100 per saham atau setara dengan maksimal 10% dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

“Bilamana PMTHMETD ini dilaksanakan maka pemegang saham Perseroan akan terkena dilusi kepemilikannya sebanyak-banyaknya 9,09%,” tulis manajemen BIPP dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Jumat (21/8).

Dana yang diperoleh dari aksi tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha dan penambahan modal kerja perseroan. Rencana private placement itu akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 25 September 2026.

Right Issue Jumbo IRSX, Terbitkan 12,39 Miliar Saham

Sementara itu, emiten sektor teknologi PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,39 miliar saham baru. Saham tersebut memiliki nilai nominal Rp15 per saham dan mewakili maksimal 66,67% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan rights issue.

Aksi tersebut juga akan disertai penerbitan sebanyak-banyaknya 1,85 miliar waran seri II. Setiap 100 saham baru hasil rights issue akan disertai 15 waran seri II. Setiap satu waran dapat ditukarkan dengan satu saham perseroan.

Namun, jumlah saham yang diterbitkan masih bergantung pada kebutuhan dana perseroan dan harga pelaksanaan rights issue. Jika terdapat perubahan jumlah saham dari rencana awal, perseroan akan mengumumkannya paling lambat saat pemanggilan RUPSLB.

Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya dalam rights issue berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 66,67%.

Dana hasil rights issue akan digunakan untuk ekspansi dan pengembangan usaha, baik dalam bentuk belanja modal (capex) maupun modal kerja (opex). Sementara itu, dana dari pelaksanaan waran seri II akan digunakan untuk pengembangan usaha, terutama sebagai modal kerja.

“Sedangkan dana hasil pelaksanaan waran seri II akan digunakan perseroan untuk pengembangan usaha dalam bentuk modal kerja (opex),” tulis manajemen IRSX.

BMAS Siapkan Right Issue untuk Modal Kerja

PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) juga menyiapkan rights issue melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 2,87 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 15,88% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan nilai nominal Rp100 per saham.

Setelah pelaksanaan PMHMETD IV, pemegang saham yang tidak menggunakan haknya diperkirakan mengalami dilusi kepemilikan maksimal 13,71%.

Rencana rights issue tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 27 Agustus 2026.

Manajemen BMAS mengatakan aksi tersebut ditujukan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus membuka peluang bagi investor untuk berpartisipasi dalam perseroan.

Private Placement RATU, Potensi Dilusi 9,09%

Emiten milik konglomerat Happy Hapsoro, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), juga berencana melakukan private placement dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 271,5 juta saham baru.

Private placement akan dilaksanakan dalam jangka waktu maksimal dua tahun setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 8 September 2026.

Dana hasil aksi tersebut akan digunakan sebagai modal kerja perseroan dan grup, termasuk untuk biaya karyawan, jasa profesional, kewajiban perpajakan, dan biaya keuangan.

Selain itu, dana dapat digunakan untuk pengembangan bisnis RATU melalui belanja modal, pembelian saham atau aset, penyertaan saham, pemberian pinjaman, maupun transaksi lain yang dinilai dapat menunjang kegiatan usaha perseroan.

Harga pelaksanaan private placement akan mengacu pada Peraturan BEI Nomor I-A, yakni paling sedikit 90% dari rata-rata harga penutupan saham RATU selama 25 hari bursa berturut-turut sebelum permohonan pencatatan saham baru diajukan ke BEI.

Setelah private placement efektif, pemegang saham eksisting RATU berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 9,09%.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...