IHSG Naik 4,72% dalam Sebulan, tapi Pasar RI Masih Jadi yang Terburuk di Dunia

Ahmad Islamy
23 Agustus 2026, 17:58
IHSG
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini di zona hijau. Selama sebulan terakhir, indeks juga berhasil terangkat sebesar 4,72%. 

Akan tetapi, penguatan tersebut belum mampu mengubah gambaran besar kinerja pasar modal Indonesia sepanjang tahun berjalan alias year to date (ytd). Di tengah mayoritas bursa kawasan yang masih mencatat pertumbuhan positif, IHSG masih menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk secara global. 

Berdasarkan data Indonesia Stock Exchange Daily Statistics untuk perdagangan Jumat (21/8), IHSG ditutup di level 6.525,690 atau menguat 24,105 poin, setara 0,37% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pada hari yang sama, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.551,957 dan terendah 6.507,434. 

Namun, kenaikan harian tersebut terlihat kecil jika dibandingkan dengan tekanan yang telah terjadi sepanjang tahun. Hingga akhir perdagangan pekan ini, IHSG masih mencatatkan penurunan sebesar 24,53% ytd. Angka tersebut menempatkan pasar saham Indonesia dalam posisi yang sangat tertinggal dibandingkan bursa-bursa utama di kawasan Asia maupun dunia.  

Terburuk di ASEAN 

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan posisi IHSG menjadi yang paling lemah di antara bursa negara-negara ASEAN yang masuk dalam perbandingan statistik tersebut. 

Dari enam bursa Asia Tenggara yang dicantumkan, Thailand menjadi negara dengan kinerja terbaik dengan kenaikan indeks sebesar 28,11% ytd. Singapura menyusul setelahnya, dengan penguatan 22,44%. Sementara Malaysia dan Filipina masing-masing tumbuh 3,36% dan 3,07% ytd. Vietnam menemani Indonesia dalam daftar bursa ASEAN yang mencatatkan kinerja negatif, yakni minus 3,24% ytd.  

Adapun Indonesia berada di posisi paling buncit dari enam negara yang dibandingkan di Asia Tenggara.  

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan pasar saham Indonesia bukan sekadar persoalan volatilitas perdagangan harian. Tekanan yang terjadi telah berlangsung cukup dalam sepanjang tahun. 

Terendah di Asia Pasifik 

Posisi Indonesia terlihat semakin mencolok ketika cakupan perbandingan diperluas ke Asia Pasifik. Dalam tabel World Index Comparison BEI, Indonesia berada di peringkat paling bawah dari 13 indeks yang diperbandingkan di wilayah itu, bila diukur berdasarkan kinerja tahun berjalan. Artinya, IHSG juga menjadi indeks dengan kinerja terburuk di kawasan tersebut.  

Perbedaannya dengan sejumlah pasar utama Asia pun signifikan. Korea Selatan menjadi pasar dengan kinerja paling kuat di Asia Pasifik sekaligus di dunia, dengan indeks KOSPI melonjak 64,04% ytd. Di posisi berikutnya, ada Taiwan yang mencatat kenaikan 56,14% dan Jepang yang tumbuh 31,14% ytd. 

Bahkan bila dibandingkan India yang mencatat penurunan 9,14%, tekanan di pasar saham Indonesia masih jauh lebih dalam. Cina juga turun 1,60%, sementara Hong Kong masih tumbuh 1,48%.  

Dengan demikian, posisi IHSG bukan hanya tertinggal dari negara-negara dengan pasar saham yang sedang mengalami reli, tetapi juga berada di bawah sejumlah pasar yang sama-sama menghadapi tekanan atau terkontraksi. 

Paling Tertinggal di Dunia 

Gambaran yang tidak jauh berbeda terlihat dalam perbandingan secara global. IHSG berada di peringkat 35 alias paling buncit dari daftar bursa yang masuk dalam daftar pemeringkatan indeks bursa utama dunia. 

Sebagai pembanding, sejumlah pasar yang masuk dalam daftar tersebut mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi. Polandia tumbuh 28,99% (peringkat 4 dunia), Turki 28,71% (peringkat 5), Austria 23,91% (peringkat 7), Kanada 14,67% (peringkat 13), dan Spanyol 15,19% (peringkat 11).  

Kinerja IHSG per 21 Agustus 2026

Perbandingan kinerja IHSG dan indeks bursa negara-negara lain per 21 Agustus 2026 (penyajian data diolah menggunakan AI ChatGPT).

Tekanan Tak Hanya Terjadi pada IHSG 

Kinerja negatif juga terlihat pada berbagai indeks utama di BEI. LQ45, misalnya, turun 23,86%, sedangkan IDX80 terkoreksi 26,88% ytd. IDX ESG Leaders turun 24,90% dan KOMPAS100 bahkan melemah 28,85% ytd. Di kelompok indeks syariah, JII mengalami penurunan 32,29%, sementara JII70 turun 28,55% ytd.  

Jika dilihat berdasarkan kinerja saham secara sektoral, tekanannya juga relatif luas. Indeks energi turun 27,42%, sektor industri terkoreksi 26,50%, teknologi turun 26,71%, dan properti dan real estat melemah 28,49% ytd. Sementara sektor infrastruktur turun 28,18% ytd. Hanya beberapa sektor yang mencatat penurunan lebih terbatas, seperti transportasi dan logistik yang turun 8,26%, serta keuangan yang terkoreksi 11,61% ytd.  

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pelemahan IHSG bukan hanya dipengaruhi oleh satu atau dua kelompok saham. Tekanan terjadi cukup luas di berbagai indeks dan sektor. 

Masih Ada Sinyal Positif 

Kendati demikian, kondisi tersebut tidak berarti seluruh saham mengalami kinerja buruk sepanjang tahun. Data BEI memperlihatkan masih terdapat sejumlah saham yang mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang tahun. 

SMMA, misalnya, menguat 39,31% ytd. Sementara EMAS naik 42,34%, MDKA tumbuh 29,39%, ADRO naik 40,88%, dan AADI menguat 40,50% ytd.  

Di sisi lain, beberapa saham dengan bobot besar terhadap IHSG justru menjadi pemberat utama indeks. DSSA tercatat turun 74,01%, BREN terkoreksi 64,33%, BBCA turun 20,12%, TPIA melemah 71%, dan BBRI turun 11,75% sepanjang tahun.  

Artinya, di balik lemahnya IHSG secara agregat, masih terdapat kantong-kantong saham yang mampu memberikan imbal hasil positif. Persoalannya, kenaikan sejumlah saham tersebut belum mampu mengimbangi penurunan saham-saham berkapitalisasi besar dan berpengaruh terhadap pergerakan indeks. 

Performa Indeks Bursa RI YTD dan Proyeksi Semester II 2026

Performa sejumlah indeks unggulan dan saham di pasar modal RI serta proyeksi IHSG Semester II (penyajian data diolah menggunakan AI ChatGPT).

Tantangan di Semester II 2026 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi beragam sentimen hingga pertengahan 2026. Tekanan datang dari kebijakan pemerintah, kondisi makroekonomi yang masih dipengaruhi suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga arus modal asing yang keluar dari pasar domestik. 

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pasar modal Indonesia akan menghadapi sejumlah tantangan pada semester II 2026 jika melihat perkembangan makroekonomi nasional. 

Ia menyoroti potensi defisit fiskal, inflasi yang meningkat, pelemahan rupiah, serta tingkat suku bunga yang masih tinggi. Menurut Rully, kondisi tersebut dapat mendorong pemerintah meningkatkan penerimaan pajak, yang pada akhirnya berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

“Jadi, kita kalau dikejar-kejar pajak kan juga pasti enggak mau spending (menghabiskan uang untuk belanja), kan? Berarti akan lebih berhati-hati dalam melakukan spending. Kalau perusahaan akan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi,” kata Rully di Jakarta, dikutip pada Kamis (20/8). 

Dia menilai prospek pasar saham hingga akhir tahun tidak terlalu optimistis, tetapi juga tidak sepenuhnya pesimistis. Menurutnya, tekanan terhadap pasar masih berasal dari inflasi yang tinggi dan pelemahan rupiah. 

Dari sisi konsumsi, Rully memperkirakan daya beli masyarakat tidak akan mengalami penurunan tajam, tetapi cenderung bergerak stagnan. Pertumbuhan konsumsi juga dinilai akan terbatas jika inflasi tetap tinggi dan rupiah terus melemah. 

Ia turut menyoroti kondisi sektor perbankan, khususnya bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara). 

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia belum banyak mengubah proyeksinya. Rully mengatakan pihaknya masih mempertahankan target IHSG di level 6.800 pada akhir tahun. Bila prediksi itu tepat, artinya IHSG masih terkoreksi sekitar 21,36% sepanjang 2026, bila dibandingkan dengan posisi awal tahun yang berada di level 8.646,94. 

Rupiah juga diperkirakan berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS pada periode yang sama. Menurut Rully, dampak tekanan makroekonomi tersebut akan semakin terasa pada semester II 2026 dan berpotensi berlanjut hingga 2027. 

“Jadi, kita ya mungkin upside potensialnya enggak tinggi-tinggi amat untuk IHSG. Tapi untuk turun signifikannya juga kita lihat mudah-mudahan sih enggak,” ucapnya. 

Rully juga melihat perhatian investor mulai beralih dari risiko global ke faktor domestik seiring meredanya tekanan eksternal. Dengan kondisi tersebut, kualitas pertumbuhan ekonomi dan konsistensi kebijakan pemerintah akan semakin berperan dalam menentukan arah pasar saham. 

Menurut dia, peluang penguatan pasar domestik masih terbuka meski risiko yang dihadapi investor kini semakin berimbang. Investor akan mencermati realisasi fiskal, perkembangan inflasi, serta efektivitas penyaluran likuiditas ke sektor produktif. 

“Karena itu, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar menjadi semakin penting," ujar Rully.

Penafian:

Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...