Kabar Rencana Penjualan Saham BYAN Low Tuck Kwong ke Haji Isam Mencuat Lagi
Kabar akuisisi saham emiten batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), oleh crazy rich Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, kembali menghangat.
Berdasarkan laporan Bloomberg, Low sedang melakukan pembicaraan untuk menjual mayoritas saham tambang batu bara senilai US$ 28 miliar (Rp 495,46 triliun) ke konsorsium yang dipimpin Haji Isam.
Berdasarkan data kepemilikan saham BYAN, Low diketahui memiliki 40,% saham Bayan, sementara 22% lainnya dimiliki oleh putrinya. Merujuk laporan Bloomberg, Low tengah bernegosiasi dengan calon pembeli yang dipimpin Haji Isam. Salah satu sumber menyebutkan pihak lain juga telah menyatakan ketertarikannya.
Pembicaraan tersebut masih berlangsung dan belum ada kepastian transaksi akan tercapai. Harga transaksi juga kemungkinan ditetapkan dengan diskon terhadap harga pasar saat ini mengingat jumlah saham BYAN yang beredar di publik atau free float relatif terbatas.
Sebelumnya, manajemen BYAN telah buka suara mengenai rumor akuisisi tersebut. Perseroan membantah informasi yang menyebut Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengannya akan mengambil alih sekitar 62,2% saham BYAN.
Sekretaris Perusahaan Bayan Resources, Jenny Quantero mengatakan, perseroan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi saham BYAN oleh Haji Isam.
“Namun pemegang saham pengendali perseroan telah menyampaikan kepada kami bahwa dari waktu ke waktu, sebagai investor mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di Perseroan,” ujar Jenny dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/8).
Jenny menuturkan, Bayan juga tidak memiliki informasi atau kejadian material lain yang belum disampaikan kepada publik yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha maupun harga saham perseroan.
Kabar pembicaraan penjualan saham tersebut muncul di tengah gejolak industri batu bara. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, perusahaan tambang batu bara menghadapi pemangkasan kuota produksi sebagai bagian dari upaya pemerintah mendorong kenaikan harga komoditas tersebut.
Sejumlah perusahaan tambang juga menghadapi denda besar akibat pelanggaran izin kehutanan.
Para pemilik perusahaan tambang turut menjadi sasaran upaya pemerintah menghimpun dana. Mereka didorong membeli Obligasi Patriot yang diterbitkan Danantara dengan tingkat bunga di bawah harga pasar.
Sejumlah taipan juga menghadapi pemeriksaan pajak yang lebih ketat. Sementara sebagian lainnya berhadapan dengan penyitaan lahan perkebunan kelapa sawit dalam skala besar.
Saham Bayan berbalik menguat setelah laporan Bloomberg mengenai pembicaraan penjualan saham tersebut. Harga saham BYAN sempat melambung 5,63% ke Rp 15.950 secara intraday, sebelum parkir di level Rp 15.325 atau naik 1,49% pada penutupan perdagangan Rabu (26/8).
Jika akuisisi terealisasi, Haji Isam berpotensi masuk jajaran taipan batu bara terbesar di Indonesia. Konglomerasi miliknya telah menjadi salah satu pemain utama di industri pertambangan batu bara nasional.
Sementara itu, harga saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) milik Haji Isam hari ini juga terpantau naik 2.23% ke Rp 3.210. Namun, harga saham dua emiten Haji Isam lainnya, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) justru anjlok dengan nilai koreksi masing-masing sebesar 0,50% dan 2,29%.
Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
