Indeks Wall Street Turun Usai Peringatan Inflasi dari The Fed
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Jumat (28/8) waktu setempat. Penurunan terjadi setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan kekhawatiran terhadap tren inflasi saat ini.
Indeks S&P 500 turun 0,25% ke level 7.711,76. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 0,52% menjadi 26.402,42, tertekan oleh penurunan saham-saham semikonduktor seperti Nvidia dan Intel. Dow Jones Industrial Average turun 9,45 poin atau 0,02% menjadi 53.559,99.
Namun dalam sepekan, S&P 500 tumbuh 0,5%, sedangkan Nasdaq naik 0,9%. Dow juga naik 0,5% dalam pekan lalu yang mencatat kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan.
Warsh mengatakan, meski data Personal Consumption Expenditures (PCE) dan Consumer Price Index (CPI) musim panas tahun ini lebih baik dari perkiraannya, data tersebut belum menunjukkan tren yang membuat inflasi menjadi lebih baik secara signifikan.
“Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju sasaran kita, secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan,” kata Warsh dikutip dari CNBC, Senin (31/8).
Komentar tersebut mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, probabilitas pelaku pasar futures memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 57,5% pada Jumat. Angka itu meningkat dari 35,4% pada hari sebelumnya.
Imbal hasil US Treasury tenor jangka pendek juga naik segera setelah pidato Warsh. Sementara itu, imbal hasil tenor jangka panjang yang berkaitan dengan biaya pinjaman di seluruh perekonomian dan belakangan menjadi perhatian pasar, relatif bergerak datar.
Namun, menjelang penutupan perdagangan, imbal hasil Treasury tenor jangka pendek kembali bergerak menjauh dari level terendahnya.
Managing Director REX Financial Bill Birmingham menilai pidato Warsh menyampaikan pesan kuat kepada pasar. Menurut dia, pernyataan tersebut mengindikasikan adanya pandangan bahwa kebijakan The Fed selama sekitar 40 tahun terakhir belum dijalankan dengan cukup ketat.
“Saya menilai pidato ini secara khusus menyampaikan pesan yang sangat kuat, baik kepada pasar maupun secara umum,” ujar Birmingham.
Menurutnya, komentar Warsh mengenai komposisi CPI juga mengindikasikan bahwa pejabat tersebut tengah mencari konsensus internal untuk menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, investor turut mencermati sejumlah laporan kinerja keuangan perusahaan. Saham Gap melonjak sekitar 13% meski membukukan kinerja kuartalan yang beragam. Kenaikan terjadi setelah peritel tersebut mengumumkan CEO baru untuk merek Old Navy yang tengah menghadapi tekanan.
Sementara itu, saham Marvell Technology anjlok lebih dari 10% setelah perusahaan memberikan proyeksi margin laba kotor non-GAAP untuk kuartal berjalan yang mengecewakan pasar.
