Himbara Bukukan Laba Rp 74,4 T Semester I, BBRI, BMRI, hingga BBTN Siapa Unggul?

Karunia Putri
31 Agustus 2026, 12:08
Bank-bank anggota Himbara (ilustrasi).
Katadata
Bank-bank anggota Himbara (ilustrasi).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Empat bank Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara membukukan total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk secara konsolidasian sebesar Rp 74,43 triliun sepanjang semester pertama 2026. Jumlah itu naik 19,06% dibandingkan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, seluruh bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kinerja keuangan, khususnya laba dan kredit. Berdasarkan laporan kinerja keuangan masing-masing bank, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak laba paling tinggi yaitu Rp 30,87 triliun, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan laba sebesar Rp 30,41 triliun, lalu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp 10,75 triliun dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) senilai Rp 2,4 triliun. 

Berikut daftar lengkap perolehan laba masing-masing bank secara tahunan:

BankLaba Bersih Semester I 2026Laba Bersih Semester I 2025Selisih (%)
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)Rp 30,87 triliunRp 26,27 triliun17,5%
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)Rp 30,41 triliunRp 24,45 triliun24,36%
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)Rp 10,75 triliunRp 10,09 triliun 6,54%
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)Rp 2,40 triliun  Rp 1,70 triliun 40,8% 
TotalRp 74,43 triliunRp 62,51 triliun19,06%

(Sumber: laporan keuangan semester I 2026 masing-masing bank, penulis mengambil pos laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk)

Laba BBRI Ditopang Kenaikan Pendapatan Bunga

BBRI membukukan laba bersih konsolidasian Rp 31,2 triliun pada semester pertama 2026. Laba tersebut tumbuh 17,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 26,5 triliun. Pertumbuhan laba ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih. 

Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BBRI mencapai Rp 30,87 triliun, dari Rp 26,27 triliun secara yoy.

Bank yang fokus pada sektor UMKM ini membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 80,53 triliun pada semester pertama 2026, naik 9,9% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 73,27 triliun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan total aset perseroan mencapai Rp 2.352 triliun, tumbuh 11,7% yoy. Pertumbuhan aset terutama ditopang oleh ekspansi kredit yang mencapai Rp 1.645,5 triliun atau tumbuh 16,2% yoy.

“Total kredit dan pembiayaan sebesar Rp1.645,5 triliun didominasi oleh segmen UMKM,” kata Hery dalam paparan kinerja keuangan BBRI semester I 2026 secara virtual, Senin (31/8).

Dari sisi pendanaan, BRI mencatat dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1.581 triliun, tumbuh 6,7% yoy. Hery mengatakan perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan DPK, tetapi juga memperkuat kualitas pendanaan melalui peningkatan porsi dana murah.

Peningkatan dana murah berdampak positif terhadap biaya dana atau cost of fund BRI. Cost of fund secara bank only turun dari 3% pada semester pertama 2025 menjadi 2,4% hingga akhir Juni 2026. Cost to income ratio (CIR) BBRI turun dari 41,9% menjadi 39,2% pada periode yang sama. 

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) membaik menjadi 2,9% dari 3% secara yoy. Perbaikan juga tercermin dari cost of credit yang turun dari 3,4% menjadi 3,1%.

Laba BMRI Dikerek Penyaluran Kredit dan DPK  

Sementara itu, BMRI membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 30,41 triliun pada semester pertama 2026. Jumlah tersebut melonjak 24,36% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 24,45 triliun.

Lonjakan laba tersebut ditopang pertumbuhan penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang melampaui rata-rata industri. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, Bank Mandiri menyalurkan kredit senilai Rp 1.591 triliun atau tumbuh 19,9% secara tahunan atau year on year (YoY).

Pertumbuhan itu hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan secara nasional.

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan mengatakan, ekspansi kredit perseroan difokuskan untuk mendorong aktivitas ekonomi riil, terutama pada sektor-sektor produktif dan padat karya.

“Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit UMKM Bank Mandiri yang mencapai 5,48% secara year on year. Dengan kata lain, pertumbuhan UMKM Bank Mandiri tersebut sekitar 9 kali lebih cepat dari pertumbuhan di industri,” kata Riduan dalam paparan kinerja keuangan kuartal II 2026 secara virtual, Kamis (23/7).

Dari sisi pendanaan, DPK Bank Mandiri tumbuh 17,1% secara tahunan, naik menjadi Rp 1.710 triliun dari Rp 1.459 triliun pada semester I 2025. Menurut Riduan, pertumbuhan tersebut mencerminkan kepercayaan nasabah yang tetap terjaga sekaligus mendukung kondisi likuiditas perseroan.

Total aset konsolidasi BMRI juga naik 19,1% menjadi Rp 2.349 triliun dari posisi tahun lalu sebesar Rp 1.972,6 triliun. Pertumbuhan itu diiringi dengan kualitas aset yang tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang rendah, yakni 0,98%.

Di sisi lain, profitabilitas perseroan juga tetap solid. BMRI mencatatkan return on equity (RoE) sebesar 24,3% dan return on assets (R0A) sebesar 3,10%. 

Laba BBNI Tumbuh 6,54%

Kemudian BBNI membukukan laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 10,75 triliun, torehan tersebut naik 6,54% dari laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 10,09 triliun. 

BNI mencatat pertumbuhan kredit 24,4% secara tahunan menjadi Rp 968,5 triliun pada semester I 2026. Ekspansi tersebut dibarengi dengan perbaikan kualitas aset, dengan rasio loan at risk (LAR) turun dari 11% menjadi 8,1%.

Pertumbuhan kredit BNI ditopang portofolio yang semakin terdiversifikasi di berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer. Perseroan juga menjaga ekspansi kredit secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan perseroan.

"Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio," ungkap Paolo dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8).

Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, dana murah atau current account savings account (CASA) BNI tumbuh 11,2% secara tahunan. Rasio CASA pun tetap terjaga pada level 65,4%.

Laba Bersih BBTN Melonjak 40%

Terakhir, BBTN membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 2,4 triliun pada paruh pertama 2026. Angka tersebut melonjak 40,8% (YoY) dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,7 triliun. 

Pertumbuhan laba ditopang peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi yang mencapai Rp 418,11 triliun per Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 11,2% YoY dibandingkan dengan Rp 376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan kredit terutama berasal dari segmen nonperumahan yang melonjak 46,1% secara tahunan menjadi Rp 85,22 triliun dari sebelumnya Rp 58,34 triliun. Sementara itu, kredit perumahan tumbuh 4,8% YoY menjadi Rp 332,88 triliun dari Rp 317,77 triliun. FAQ

Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi penopang utama kredit perumahan BTN. Penyaluran KPR subsidi tumbuh 8,1% YoY menjadi Rp 196,96 triliun dari Rp 182,17 triliun. Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN telah mencapai Rp 4,1 triliun per Juni 2026 sejak diluncurkan pada akhir Oktober 2025.

“Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon dalam keterangan tertulis, Kamis (16/7).

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...