JP Morgan Ungkap 4 Kunci agar Investor Asing Masuk Lagi ke Pasar Saham RI

Karunia Putri
3 September 2026, 16:16
JP Morgan
Reuters/Katadata
Logo JP Morgan seperti tampak di kantor pusatnya di Manhattan, New York, 13 November 2017.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan jasa keuangan dan bank investasi multinasional JP Morgan Indonesia membeberkan empat kunci yang perlu dicermati pemerintah dan regulator agar investor asing kembali menanamkan modalnya di pasar saham RI. Apa saja keempat kunci tersebut?

Chief Executive Officer (CEO) and Senior Country Officer JP Morgan Indonesia, Gioshia Ralie menjelaskan, investor asing butuh kepastian dan kenyamanan sebelum kembali berinvestasi di Indonesia. Hal itu antara lain berkaitan dengan kejelasan tata kelola pemerintahan, transparansi anggaran, stabilitas rupiah hingga penegakan hukum.

Berdasarkan data bursa, sejak awal tahun hingga perdagangan Rabu (2/9) kemarin, investor asing tercatat melakukan jual bersih atau net sell saham Indonesia sebesar Rp 69,09 triliun. Gioshia pun mengungkapkan, terdapat setidaknya empat hal yang menjadi perhatian investor asing untuk masuk kembali ke pasar Indonesia.

Pertama, investor asing membutuhkan keyakinan terhadap tata kelola dan transparansi pemerintah, terutama dalam pengelolaan anggaran negara. “Foreign investor ini perlu nyaman dengan pemerintah. Mereka mau governance dan transparansinya baik,” kata Gioshia dalam acara media briefing JP Morgan 2026 di Jakarta, Kamis (3/9).

Gio, sapaannya, menyebutkan bahwa salah satu hal yang menjadi perhatian investor adalah kejelasan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Investor ingin mengetahui bagaimana pemerintah mengelola pendapatan dan belanja negara, termasuk memastikan defisit anggaran tetap terkendali.

Menurut dia, pemerintah telah memberikan sinyal positif terkait kebijakan terkait pengelolaan anggaran. Gioshia menyebut ada empat poin yang dinilai positif oleh investor. Pertama, pemerintah akan menjaga batas defisit anggaran sebesar 3%. Kedua, pengelolaan utang akan dilakukan secara prudent. Ketiga, pemerintah akan meningkatkan mobilisasi pendapatan negara. Dan terakhir adalah pemerintah akan memperhatikan pengeluaran agar tetap terkendali.

“Waktu kami mendapatkan itu, kami pikir sangat baik. Itu akan merubah sentimen,” ujarnya.

Kedua, terkait stabilitas rupiah. Gioshia mengatakan, investor asing harus menukarkan dolar AS ke rupiah sebelum berinvestasi di Indonesia. Jika rupiah melemah, investor akan menghadapi risiko kerugian nilai tukar ketika menarik kembali investasinya.

“Kalau rupiahnya melemah, bagaimana mau masuk investornya? Karena dia harus jual dolar, beli rupiah, invest. Kalau rupiahnya melemah, nanti balikinnya lagi kena rugi,” ucap Gio.

Dia beranggapan pelemahan rupiah juga berkaitan dengan tingkat kepercayaan investor terhadap pengelolaan anggaran negara. Karena itu, transparansi, keterbukaan informasi dan kejelasan kebijakan fiskal menjadi penting untuk menjaga kepercayaan terhadap rupiah.

Ia menilai penguatan rupiah belakangan ini menjadi sinyal positif. Menurutnya, rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS telah menguat ke sekitar Rp 17.700 per dolar AS.

Ketiga, perusahaan-perusahaan tercatat di Indonesia harus mampu menunjukkan pertumbuhan laba. Menurut Gioshia, investor pada akhirnya akan melihat kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. “Perusahaan-perusahaan di Indonesia ini harus make profit. Kalau enggak ada profit, ya enggak ada yang mau,” ujarnya.

Ia juga menyoroti isu manipulasi pasar yang dapat menggerus kepercayaan investor. Menurutnya, investor akan mencermati pergerakan saham-saham baru, termasuk saham yang baru melantai di bursa tetapi mengalami kenaikan tajam dan kemudian turun secara signifikan dalam waktu singkat.

Karena itu, menurut dia, penanganan manipulasi pasar perlu diperkuat. Investor tidak hanya melihat aturan yang sudah diperbaiki, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana penegakan hukum terhadap pelanggaran di pasar modal.

Gioshia mengatakan persoalan hukum menjadi salah satu hal yang perlu dibenahi untuk meningkatkan kepercayaan investor asing.

Adapun yang keempat, percepatan investasi dan pembangunan infrastruktur juga dapat menjadi katalis bagi perekonomian Indonesia. Ia menilai proyek-proyek seperti data center dan infrastruktur berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, menurut Gioshia, proses pembangunan dan investasi di Indonesia masih membutuhkan waktu. Karena itu, pemerintah perlu memastikan berbagai hambatan dalam proses tersebut dapat diatasi.

“Untuk bawa orang balik itu harus membuktikan dulu apa yang sudah dikerjakan,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...