Menakar Babak Baru GOTO seusai Morgan Stanley Borong Saham Rp 548 Miliar
Morgan Stanley terus mempertebal kepemilikannya di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Langkah tersebut dilakukan bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu di saat saham emiten teknologi itu berpotensi turun di bawah level Rp 50, menyusul rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah batas minimum harga saham menjadi Rp 1 per saham.
Dalam transaksi anyarnya di BEI, Morgan Stanley & Co International Plc membeli saham GOTO di harga Rp 25 per saham dalam tiga transaksi pada hari yang sama, yakni Rabu (2/9) pekan lalu. Pada transaksi pertama, lembaga keuangan AS itu membeli 12,58 miliar saham GOTO dengan nilai transaksi Rp 314,44 miliar. Selanjutnya, Morgan Stanley membeli 119,95 juta saham senilai Rp 2,99 miliar.
Pada transaksi ketiga, investor asing itu kembali memborong 9,22 miliar saham GOTO dengan nilai transaksi Rp 230,52 miliar. Alhasil, total dana yang dikeluarkan Morgan Stanley dalam tiga transaksi tersebut mencapai Rp 547,95 miliar.
Aksi tersebut membuat kepemilikan Morgan Stanley di GOTO meningkat signifikan. Kepemilikannya bertambah dari 65,80 miliar saham atau 5,71% menjadi 87,48 miliar saham atau setara 7,59%. “Tujuan transaksi adalah investasi,” demikian dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Rabu (9/9).
Sebelumnya, berdasarkan data kepemilikan saham di atas 1% per 31 Agustus 2026, Morgan Stanley masih tercatat memiliki saham GOTO di bawah 5%, tepatnya 4,57% atau sebesar 54,43 miliar.
Institusi AS itu agresif membeli saham GOTO setelah BEI berencana mengubah kebijakan harga minimun saham dari Rp 50 per saham menjadi Rp 1 per saham. Imbasnya, saham-saham "gocap" seperti GOTO dapat bergerak lagi setelah empat bulan tertidur di level Rp 50.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, kebijakan harga minimum ini dibuat BEI bertujuan agar likuiditas saham gocap termasuk GOTO kembali bergerak. Ia memperkirakan saham GOTO berpotensi menguji level Rp 20-Rp 30 setelah batas bawah Rp 50 dicabut. Dalam skenario tekanan jual yang kuat, saham GOTO bahkan berpotensi bergerak menuju Rp 10-Rp 20.
Walaupun kebijakan batas minimum Rp 1 berpotensi menekan harga GOTO dalam jangka pendek, kebijakan tersebut juga dapat membuka mekanisme pembentukan harga atau price discovery yang lebih sehat. “Rekomendasi GOTO menurut saya adalah NOT RATED,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Rabu (9/9).
Dia mengatakan, pencabutan batas harga Rp 50 berpotensi meningkatkan volatilitas dan tekanan jual dalam jangka pendek. Namun, pergerakan GOTO selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara pasokan dan permintaan, likuiditas, serta aksi investor besar.
Nafan juga menyoroti transaksi di pasar negosiasi yang menunjukkan saham GOTO telah berpindah tangan di kisaran Rp 23-Rp 25 per saham. Menurut dia, level tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam proses price discovery apabila batas bawah Rp 50 dicabut.
Kondisi berbeda justru tercatat di data perdagangan bursa siang ini. Tekanan jual terhadap saham GOTO juga terlihat dari antrean perdagangan. Berdasarkan data perdagangan BEI secara intraday pada pukul 11.26 WIB, antrean jual saham GOTO kian mengular dengan total mencapai sekitar 400,46 juta lot. Besarnya antrean jual menunjukkan overhang supply masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi saham GOTO.
Menurut Nafan, penerapan batas minimum Rp 1 dapat meningkatkan tekanan jual karena pemegang saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 akan memiliki ruang untuk menjual sahamnya di bawah harga tersebut.
Di tengah tekanan harga saham, fundamental GOTO juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor. Perseroan membukukan laba bersih Rp 608 miliar pada semester pertama 2026. Kendati demikian, dia menyatakan prospek EBITDA GOTO sepanjang 2026 masih menghadapi tekanan sehingga perseroan melakukan penyesuaian terhadap guidance kinerja.
