Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi AS Guncang Wall Street

Nur Hana Putri Nabila
11 September 2026, 06:27
Wall Street
Wall Street
Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa saham Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada perdagangan Kamis (10/9), seiring harga minyak mentah AS menembus US$ 100 per barel. Lonjakan itu memicu kekhawatiran inflasi akan kembali naik akibat perang AS-Iran yang berkepanjangan.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 316,56 poin atau 0,6% menjadi 52.064,10. S&P 500 melemah 0,58% menjadi 7.591,70 dan Nasdaq Composite turun 0,65% ke 26.081,72. Ketiga indeks utama Wall Street bertengger di zona merah selama empat hari berturut-turut.

Harga minyak terus membebani sentimen investor setelah perang AS-Iran memasuki bulan ketujuh. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,7% menjadi US$ 102,48 per barel, sedangkan Brent naik 5,9% menjadi US$ 107,63 per barel. Keduanya mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.

Sejak perang dengan Iran dimulai pada akhir Februari, harga WTI telah melonjak 52,9%. Secara tahun berjalan atau year to date (YTD), harga minyak acuan AS itu bahkan telah melesat 78,5%.

Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun menembus 4,95%, level tertinggi sejak Oktober 2023.

Saham-saham semikonduktor juga kian tertekan karena investor khawatir kenaikan suku bunga dan harga minyak akan memperlambat perekonomian. Saham Intel turun 5,6% dan Micron Technology melemah 4,7%.

Sebaliknya, saham Alphabet dan Microsoft masing-masing menguat kurang dari 1%. Saham Apple melonjak 3,6% setelah perusahaan meluncurkan ponsel lipat pertamanya.

Di sisi makroekonomi, data inflasi produsen AS belum mampu meredakan kekhawatiran pasar. Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) Agustus naik 0,4% secara bulanan, sesuai konsensus pasar. Secara tahunan, PPI mencapai 5,4%, masih jauh di atas target inflasi bank sentral AS The Federal Reserve sebesar 2%.

Investor selanjutnya menanti rilis Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat (11/9). Data PPI dan CPI akan menjadi indikator penting untuk membaca arah inflasi menjelang keputusan suku bunga The Fed pada 16 September.






Kepala Makro 21Shares Stephen Coltman mengatakan rilis PPI belum memberikan gambaran jelas mengenai peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan. Namun, harga minyak WTI yang kembali menembus US$ 100 per barel dan imbal hasil obligasi Treasury yang mencapai level tertinggi semakin meningkatkan tekanan di pasar.

“Tentu saja meningkatkan tekanan bagi investor menjelang laporan CPI yang krusial besok,” ucap Coltman diktuip CNBC International, Jumat (11/9). 

Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan mencapai 73%.

Di sisi lain, Departemen Keuangan AS melakukan pembelian kembali atau buyback obligasi Treasury jangka panjang senilai US$ 5,19 miliar dari total US$ 6 miliar pada Kamis (10/9). Langkah ini dilakukan untuk mengelola kurva imbal hasil di tengah lonjakan harga energi akibat perang di Iran.

Wall Street langsung melemah setelah Departemen Keuangan mengumumkan rencana buyback senilai US$ 6 miliar, tiga kali lipat dari jumlah biasanya. Kurang dari sebulan sebelumnya, pemerintah AS juga mengumumkan rencana meningkatkan lebih dari dua kali lipat nilai buyback utang pemerintah yang sebelumnya sebesar US$ 2 miliar.




 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...