S&P Beri Alarm untuk Bank Himbara Imbas Pertumbuhan Kredit Terlalu Agresif
S&P Global Ratings menyoroti risiko yang membayangi kinerja bank-bank milik negara atau Himbara di Indonesia. Pertumbuhan kredit yang melaju lebih dari dua kali lipat dibandingkan industri berpotensi meningkatkan risiko kredit, sekaligus menekan laba bank BUMN.
Mengutip Bloomberg, bank-bank BUMN menggenjot penyaluran kredit berimbal hasil rendah di tengah kenaikan biaya pendanaan. S&P memperkirakan kondisi tersebut dapat memangkas margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) Himbara sebesar 10–20 basis poin dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.
Tak hanya itu, sorotan S&P muncul kala Danantara Indonesia tengah membenahi kondisi keuangan sejumlah perusahaan pelat merah yang tertekan seiring mendukung program pemerintah. Pada saat yang sama, tumpukan utang di sejumlah BUMN telah mendorong restrukturisasi.
“Sehingga memunculkan pertanyaan, berapa banyak dana yang akan dibutuhkan untuk membenahi sektor ini dan apakah hal tersebut dapat mengalihkan sumber daya dari investasi baru,” demikian tertulis dalam Bloomberg, dikutip Rabu (16/9).
S&P menyoroti pertumbuhan kredit tiga bank BUMN yang masuk dalam pemeringkatannya, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Pertumbuhan kredit ketiga bank pelat merah itu mencapai rata-rata 26% secara tahunan hingga Juni lalu. Laju tersebut lebih dari dua kali lipat pertumbuhan kredit industri perbankan yang sebesar 12%.
Lembaga pemeringkat global itu juga menyebut penyaluran kredit kepada BUMN dan program pemerintah menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. Bahkan, laju kredit ketiga bank itu melampaui proyeksi S&P maupun panduan yang sebelumnya ditetapkan masing-masing bank.
S&P menilai kualitas kredit tersebut akan mulai diuji pada akhir bulan ini. PT Agrinas Pangan Nusantara, perusahaan yang dikendalikan Danantara dan terlibat dalam Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) atau Kopdes Merah Putih, dijadwalkan membayar angsuran pertamanya.
Eksposur kredit kepada Agrinas mencapai sekitar 2%–6% dari total kredit masing-masing Bank Mandiri, BRI, dan BNI. S&P menyebut pembayaran angsuran perdana itu akan menjadi salah satu indikator awal kualitas kredit yang disalurkan bank-bank BUMN.
“Meskipun pinjaman tersebut tidak dijamin, bank-bank dapat menagih kekurangan pembayaran kepada pemerintah,” kata analis S&P.
S&P menilai mekanisme penyaluran kredit kepada BUMN dan program pemerintah masih belum teruji efektivitasnya. Besarnya eksposur kredit membuat bank-bank BUMN menghadapi risiko kenaikan biaya kredit apabila terjadi gagal bayar.
“Mengingat besaran pinjaman BUMN yang besar, gagal bayar dapat menyebabkan lonjakan biaya kredit dan penurunan laba dan kapitalisasi,” kata S&P.
Di tengah risiko itu, S&P memperkirakan pertumbuhan kredit bank-bank milik negara akan melambat menjadi 8%–10% pada tahun depan. Pengetatan likuiditas hingga upaya bank mengurangi kewajiban jangka pendek diperkirakan menjadi faktor yang menahan laju penyaluran kredit.
Kendati demikian, S&P menilai permodalan Himbara masih cukup kuat untuk meredam tekanan. Rasio modal inti atau tier 1 yang berada di kisaran 16%–20% memberikan bantalan bagi bank-bank BUMN untuk menghadapi potensi kenaikan risiko kredit.
