Wall Street Merosot Usai The Fed Naikkan Suku Bunga Perdana dalam 3 Tahun

Karunia Putri
17 September 2026, 06:13
Wall Street
Wall Street
Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Rabu (16/9) setelah bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. 

Dow Jones Industrial Average turun 631,21 poin atau 1,21% ke level 51.461,90. S&P 500 terkoreksi 0,45% menjadi 7.551,81, sedangkan Nasdaq Composite turun tipis 0,01% ke level 25.978,42.

Ketiga indeks tersebut sempat bergerak di zona positif selama perdagangan. Namun, pergerakan berbalik setelah Ketua The Fed Kevin Warsh mengumumkan keputusan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%.

Kenaikan ini merupakan yang pertama sejak Juli 2023. The Fed juga memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin dilakukan tahun ini.

“Fakta sederhananya adalah inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama,” kata Warsh, dikutip dari CNBC, Kamis (17/9).

“Data inflasi pada musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti,” ujarnya.

Pasar saham awalnya merespons kenaikan suku bunga yang telah diperkirakan tersebut dengan relatif tenang. Namun, tekanan meningkat ketika Warsh berulang kali menyoroti risiko inflasi yang belum menunjukkan perbaikan berarti.

Pernyataan tersebut turut mendorong yield US Treasury 10 tahun kembali menembus 5%. Kondisi ini memicu kekhawatiran kebijakan The Fed belum cukup untuk meredam inflasi meskipun bank sentral telah menaikkan suku bunga.

Chief Market Strategist B. Riley Wealth Art Hogan mengatakan keputusan The Fed masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, komentar Warsh yang lebih hawkish berpotensi membuat yield tinggi bertahan lebih lama.

“Pasar saat ini mengambil petunjuk dari yield US Treasury 10 tahun yang kembali naik di atas 5%, yang merupakan level psikologis yang sangat penting,” kata Hogan.

Menurut dia, kenaikan yield dan potensi inflasi bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama dapat menjadi hambatan bagi pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Saham perbankan menjadi salah satu yang terdampak setelah keputusan The Fed. Saham Bank of America dan Wells Fargo masing-masing turun hampir 3% karena investor mencermati potensi kenaikan suku bunga terhadap pertumbuhan penyaluran kredit dan perekonomian.

Saham American Express dan Goldman Sachs juga melemah hampir 4%.

Tekanan terhadap perekonomian AS turut datang dari kenaikan harga energi. Harga diesel AS mencapai US$ 6 per galon pada Jumat untuk pertama kalinya, di tengah kendala pasokan yang berlanjut akibat perang di Ukraina dan Iran.

Harga minyak mentah juga masih bertahan di atas US$ 100 per barel.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...