RI Mesti Waspada bila The Fed Naikkan Bunga Lagi: Ada Ancaman ke IHSG hingga SUN
Indonesia harus waspada jika bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Dampaknya bisa mempercepat arus keluar dana (outflow) asing dari pasar domestik dan menekan sejumlah aset seperti saham, Surat Utang Negara (SUN), hingga nilai tukar rupiah.
Adapun The Fed resmi menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% pada Rabu (16/9) waktu AS. Bank sentral Amerika itu pun diproyeksikan kembali menaikkannya sekali lagi hingga akhir tahun. Kebijakan menaikkan suku bunga acuan itu dilakukan The Fed pertama kalinya sejak Juli 2023. Analis melihat ada tekanan serius ke Indonesia.
Setelah diumumkan dini hari tadi, dampak kenaikan suku bunga acuan The Fed terpantau beragam pada Kamis (16/9) ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik tipis 0,4% atau 25,58 poin ke level 6.462. Sebaliknya, nilai tukar rupiah ditutup turun 57 poin ke level Rp 17.753 per dolar AS.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed dapat mempercepat outflow asing, terlebih jika imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury 10 tahun (US10Y) bertahan di level tinggi.
Namun dia menekankan bahwa deras atau tidaknya arus keluar dana asing dari Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan The Fed. Sejumlah indikator yang perlu diperhatikan adalah pergerakan US10Y, indeks dolar AS (DXY), rupiah, yield SUN, serta pertumbuhan laba emiten domestik.
Alarm serius yang perlu diwaspadai menurut Liza jika rupiah menembus Rp 17.700 per dolar AS dan US10Y melewati 7,30%.
“IHSG masih cukup aman selama area 6.400 - 6.370 bertahan. Kalau breakdown disertai foreign sell membesar, risiko bisa lanjut ke 6.280 - 6.180,” kata Liza dalam risetnya dikutip pada Kamis (16/9).
Gelombang tekanan itu terutama menyasar saham-saham berkapitalisasi besar yang likuid dan banyak dimiliki investor asing. Perdagangan Rabu (16/9) kemarin menunjukkan aksi jual asing yang cukup besar pada sejumlah saham big caps. Antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Namun, pada perdagangan sesi pertama hari ini, investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih Rp 77,54 miliar. Saham BMRI, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), BBRI dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang paling banyak diborong asing.
“Paling rentan biasanya big caps likuid yang banyak dimiliki asing, terutama perbankan dan index heavyweights,” ujar Liza.
Jika tekanan jual asing berlanjut dan terkonsentrasi pada saham-saham dengan bobot besar terhadap indeks, dampaknya berpotensi lebih terasa terhadap IHSG.
Selain IHSG, Liza menilai pergerakan rupiah dan yield SUN perlu menjadi perhatian karena dapat menjadi indikator awal tekanan di pasar keuangan. Menjelang akhir tahun, kebutuhan dolar AS juga cenderung meningkat, baik untuk pembayaran utang perusahaan maupun kebutuhan valuta asing masyarakat.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi Indonesia bukan semata-mata kenaikan yield aset AS. Indonesia juga harus bersaing dengan negara-negara emerging market dan Asia lainnya dalam menarik dana global.
Jika selisih imbal hasil obligasi Indonesia terhadap aset AS semakin menyempit, Indonesia berpotensi perlu menawarkan yield yang lebih tinggi agar tetap menarik bagi investor asing. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan biaya pembiayaan dan menambah tekanan terhadap fiskal.
“Kalau spread yield obligasi Indonesia vs AS makin tipis, Indonesia bisa kalah bersaing memperebutkan dana global sehingga perlu memberi sweetener berupa yield yang lebih tinggi,” ujar Liza.
Di sisi lain, tekanan tersebut masih dapat diredam apabila kondisi global dan domestik mulai mendukung. Liza melihat penurunan US10Y, pelemahan DXY, stabilnya rupiah, valuasi saham yang menarik, serta pertumbuhan laba emiten dapat menjadi katalis pembalikan arus dana asing.
Dari sisi domestik, kepercayaan investor terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) dan arah kebijakan fiskal juga menjadi faktor penting. Kejelasan mengenai rencana setoran Rp 120 triliun dari Danantara ke APBN maupun alternatif kebijakan fiskal yang dapat mengurangi kebutuhan pembiayaan tanpa meningkatkan kekhawatiran terhadap defisit dinilai dapat membantu memperbaiki persepsi investor asing.
Untuk periode satu hingga tiga bulan ke depan, Liza memperkirakan IHSG masih bergerak volatil dengan arus dana asing cenderung mixed-to-negative. Tekanan dapat meningkat apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin sehingga suku bunga AS tetap tinggi dan dolar AS menguat.
Sementara itu, jika data inflasi dan tenaga kerja AS mulai melunak, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat berkurang sehingga membuka ruang bagi perbaikan arus dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di dalam negeri, Liza memperkirakan Bank Indonesia masih menahan suku bunga acuan di level 5,75% dengan bias hawkish. Namun, apabila rupiah menembus kisaran Rp 17.700-Rp 18.000 per dolar AS disertai peningkatan outflow, peluang kenaikan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 6% akan semakin besar.
Kenaikan BI Rate dapat membantu stabilisasi rupiah dan menjaga daya tarik aset rupiah. Tetapi di sisi lain langkah itu juga berpotensi meningkatkan biaya modal dan menekan aktivitas ekonomi.
