Hitung-hitungan Dana Jumbo Haji Isam Kuasai 30% Saham BYAN, Berapa Modalnya?
Rencana pengusaha Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam menguasai 30% atau sebanyak 10 miliar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik konglomerat Low Tuck Kwong bakal membutuhkan dana jumbo. Apabila dihitung berdasarkan harga saham dan jumlah saham yang dibidik, nilai transaksi tersebut dapat mencapai puluhan triliun rupiah.
Meski begitu, hitung-hitungan dana Haji Isam lewat PT Jhonlin Baratama untuk menguasai 30% saham konglomerat RI menunjukkan selisih jumbo. Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal menghitung nilainya sekitar Rp 126,4 triliun atau sekitar US$ 7 miliar berdasarkan harga 90 hari terakhir.
Sementara berdasarkan harga transaksi yang sebelumnya beredar US$ 3 miliar untuk seluruh 62,25% saham dan diprorata ke porsi 30%, kata Fauzan, nilainya hanya sekitar Rp 25,4 triliun atau US$ 1,4 miliar. Dana itu hanya sekitar 80% lebih rendah dari basis 90 hari perdagangan BYAN.
| Basis harga | Harga/saham | Estimasi nilai 30% (10.000.000.500 lembar) | Setara USD* |
| Rata-rata 90 hari/3 bulan terakhir (basis yang diminta klien) | IDR12,643 | IDR126.4trn | ~USD7.0bn |
| Penutupan 17 Sept (sehari sebelum pengumuman CSPA) | IDR11,525 | IDR115.3trn | ~USD6.4bn |
| Penutupan 18 Sept (usai ARA +19,96%) | IDR13,825 | IDR138.3trn | ~USD7.7bn |
| Implied dari rumor US$3bn untuk 62,25% (harga transaksi yang beredar di media) | ~IDR2,538 | ~IDR25.4trn | ~USD1.4bn |
Sumber: Proyeksi Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal
“Gap ini sempat narik perhatian pasar, karena si harga transaksi yang sebelum ada MoU ambil 30% (bila benar) jauh di bawah semua basis harga pasar, termasuk harga penutupan sehari sebelum pengumuman resmi,” kata Fauzan ketika dihubungi Katadata, Senin (21/9).
Fauzan juga menyoroti pergerakan saham BYAN karena sempat melonjak sekitar 35%, dari Rp 10.200 pada 15 September menjadi Rp 13.825 pada 18 September. Pola serupa terjadi pada 18 Agustus ketika saham BYAN sempat menyentuh Rp 17.275 atau naik 43,66% dalam sepekan, sebelum anjlok 14,9% ke Rp 14.700 pada perdagangan berikutnya setelah manajemen menepis rumor yang beredar.
Menurut Fauzan, pola pergerakan yang cepat berbalik atau whipsaw itu perlu dicermati pelaku pasar. Momentum yang terbentuk berdasarkan rumor pada saham BYAN secara historis dapat berbalik dengan cepat.
Pemberitaan soal BYAN juga beberapa kali muncul seiring dengan kabar dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Dari sisi fundamental dan operasional, Fauzan mengingatkan pelaku pasar untuk berhati-hati. Moody's pada 18 September memangkas outlook BYAN menjadi negatif, sementara peringkat Corporate Family Rating (CFR) tetap di level Ba1. Perubahan tersebut menyusul pernyataan force majeure BYAN pada 14 September terkait RKAB 2026 yang belum disetujui untuk tiga anak usahanya.
“Kalau tidak ada revisi kuota, produksi pada tahun 2026 diperkirakan anjlok menjadi 39 juta ton dari 68 juta ton pada 2025. EBITDA juga berpotensi turun dari US$1,1 miliar menjadi US$ 700 juta,” kata Fauzan.
Di sisi lain, Fauzan mengatakan valuasi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) saat ini mencapai 8,5 kali price to book value (PBV), jauh di atas rata-rata perusahaan sejenis, yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang sebesar 1,57 kali.
Menariknya, harga saham berdasarkan nilai akuisisi yang sebelumnya beredar, yakni sekitar Rp 2.538 per saham untuk pembelian 62% saham, setara dengan PBV sekitar 1,9 kali. Level itu relatif mendekati rata-rata PBV perusahaan dengan bisnis serupa.
“Kalau pasar sih ekspektasi berarti dua, penyelesaian RKAB dan kelanjutan proses akuisisi ke arah yang lebih menguntungkan minoritas (misalnya lewat mekanisme tender offer di harga pasar, bukan harga diskon 80%),” ucap Fauzan.
Di samping itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melihat saham BYAN diperdagangkan dengan dua narasi yang berlawanan. Di satu sisi, masuknya Jhonlin sebagai calon pemegang 30% saham memunculkan ekspektasi perubahan kepemilikan, potensi sinergi bisnis, serta peluang perubahan valuasi saham.
“Di sisi lain, risiko fundamental belum hilang krn revisi RKAB masih menentukan volume produksi & earnings 2026–2027,” ucap Liza dalam analisisnya, dikutip Selasa (22/9).
Liza juga mengatakan kenaikan saham BYAN hingga menyentuh ARA 19,96% lebih mencerminkan euforia atas aksi korporasi dibandingkan perbaikan kinerja laba. Menurutnya, ada tiga katalis utama yang perlu dicermati pasar selanjutnya, yakni persetujuan RKAB pengungkapan harga transaksi untuk pembelian 30% saham, serta kejelasan struktur pengendalian perusahaan pasca transaksi.
“Bottom line: upside story BYAN sekarang memang makin menarik, tapi semakin tinggi harga naik sebelum 3 hal tadi jelas, semakin besar pula gap antara market expectation dan fundamental yang sudah terealisasi,” tulis Liza.
BYAN Kantongi Kuota Produksi hingga 20 Juta Ton
Adapun sebelumnya Pemerintah menambah kuota produksi tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) hingga 20 juta ton. Tambahan kuota ini datang setelah emiten milik Low Tuck Kwong itu menyatakan force majeure, di tengah manuver Haji Isam mengakuisisi 30% atau sebanyak 10 miliar saham BYAN.
Merujuk pemberitaan Stockbit Sekuritas yang mengutup Reuters, Direktur Jenderal Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pemerintah memberikan tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15–20 juta ton kepada Bayan Resources. Tri mengatakan persetujuan atas tambahan kuota produksi tersebut telah diterbitkan pada Senin (21/9).
Seminggu sebelumnya, produksi batu bara BYAN sempat terganjal persetujuan pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tak menerbitkan persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tiga anak usaha BYAN.
Moody’s Ratings pun langsung memangkas prospek BYAN menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Namun lembaga rating itu masih mempertahankan peringkat korporasi atau corporate family rating (CFR) PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di level Ba1.
Asisten Wakil Presiden Moody’s Ratings, Anthony Prayugo mengatakan perubahan prospek emiten tambang batu bara itu mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi batu bara.
Menurut Anthony, ketidakpastian tersebut berpotensi membatasi produksi dan menekan laba Bayan apabila tidak segera terselesaikan. Meski tertekan, Anthony menilai metrik kredit Bayan masih kuat. Neraca keuangan perseroan yang bebas utang menjadi salah satu penopang utama kondisi kredit BYAN.
“Namun ketidakpastian yang terus berlanjut seputar persetujuan kuota RKAB menimbulkan risiko penurunan terhadap kemampuannya untuk mencapai pertumbuhan produksi,” tambah Prayugo, dalam pengumuman Moody’s, Jumat (18/9).
