Astra (ASII) Gelontorkan Capex Rp 17 Triliun demi Perkuat UNTR di Semester I
Emiten raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp 16,9 triliun hingga semester pertama 2026. Realisasi itu baru mencapai 47,47% dari total rencana capex yang disiapkan perseroan tahun ini sebesar Rp 35,6 triliun.
Alokasi capex itu diarahkan untuk mendukung dan memperkuat bisnis anak usaha Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR). Akan tetapi, pada realitasnya, kinerja UNTR justru menjadi yang terburuk di antara anak-anak usaha Astra lainnya.
Head of Corporate Investor Relations ASII, Tira Ardianti mengatakan, dana capex selama semester pertama itu digunakan perseroan untuk mengakuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam lewat anak usaha UNTR.
“Sisanya merupakan capex rutin yang digunakan untuk pembelian alat berat yang mendukung bisnis kontraktor untuk UNTR,” kata Tira dalam acara Media Day Astra di Menara Astra, Jakarta, Rabu (23/9).
Ke depan, sisa capex perusahaan akan dialokasikan untuk belanja perusahaan yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan. Ia juga mengatakan perusahaan akan melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan alokasi dana capex benar-benar digunakan untuk produktivitas perusahaan.
Adapun ASII resmi mengakuisisi tambang emas Arafura Surya Alam lewat anak usaha UNTR yaitu Danusa Tambang Nusantara senilai US$ 540 juta atau setara dengan sekitar Rp 8,85 triliun hingga Rp 8,9 triliun. Akuisisi 100% saham pemilik tambang emas Proyek Doup di Sulawesi Utara itu telah rampung diselesaikan pada Februari 2026.
Namun, kinerja bisnis UNTR tahun ini justru menjadi yang terburuk di antara anak-anak usaha Astra lainnya. Penjualan alat berat Komatsu UNTR anjlok 21% menjadi 2.689 unit hingga Agustus 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, UNTR dapat menjual 3.408 unit Komatsu.
Kinerja Keuangan Grup Astra Semester I
Empat emiten anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) telah merilis laporan keuangan semester pertama 2026. Tiga di antaranya mencatatkan kenaikan laba, sedangkan satu lainnya mengalami penurunan tajam.
Keempat emiten tersebut adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Astra Graphia Tbk (ASGR), dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Kinerja yang beragam itu menjadi cerminan kondisi bisnis Astra di berbagai sektor, mulai dari perkebunan, otomotif, teknologi hingga pertambangan.
Dari empat emiten, AALI mencatat pertumbuhan laba tertinggi dengan kenaikan 56,5% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1,10 triliun dari Rp 702,12 miliar. Disusul ASGR yang membukukan laba Rp 138,44 miliar, naik 30,4% YoY dari Rp 106,19 miliar, serta; AUTO yang mencatat kenaikan laba 22,6% YoY menjadi Rp 1,16 triliun dari Rp 938,96 miliar.
Berbeda dengan tiga emiten tersebut, UNTR justru mengalami tekanan paling besar. Laba bersihnya merosot 88,2% YoY menjadi Rp 956,28 miliar dari Rp 8,13 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Sementara itu, ASII mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 12,53 triliun pada semester pertama 2026. Angka tersebut turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year (YoY) yang mencapai Rp 15,51 triliun.
Anjloknya laba Astra disebabkan turunnya kontribusi bisnis solusi pertambangan dan alat berat yang dijalankan lewat anak usaha UNTR. Hal itu terjadi seiring dengan turunnya penjualan emas dan perlambatan bisnis batu bara.
