Bisnis NAYZ Berbelok ke Telekomunikasi seusai Saiko Masuk, Backdoor Listing?

Karunia Putri
6 Oktober 2026, 11:22
Telekomunikasi
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/tom.
Ilustrasi perawatan fasilitas menara telekomunikasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) mulai memperluas bisnisnya ke industri telekomunikasi setelah Saiko Consultancy Pte Ltd menjadi pemegang saham pengendali perseroan. Padahal, selama ini NAYZ dikenal sebagai emiten yang bergerak di bisnis makanan bayi.

Perubahan arah bisnis tersebut terlihat dari rencana NAYZ mengambil alih 5,69 juta saham Bangkok Tellink Co Ltd (BTL) dari Saiko Consultancy. Nilai transaksi tersebut mencapai US$ 125 juta atau sekitar Rp 2,23 triliun.

Bangkok Tellink adalah perusahaan teknologi telekomunikasi dan solusi digital terintegrasi yang berbasis di Thailand. Perusahaan tersebut didirikan dan dipimpin oleh Nusttanakit Sasiarnon yang juga menjabat sebagai direktur NAYZ sejak rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan, Jumat (2/10) lalu.

Saiko Consultancy merupakan perusahaan holding asal Singapura yang menjadi pengendali baru NAYZ. Aksi perubahan pengendali itu terjadi pada 19 Agustus 2026. Kala itu, Saiko Consultancy mengambil alih 750.000.000 saham NAYZ yang mewakili 29,41% dari total modal ditempatkan dan disetor dalam perseroan dari PT Asia Intrainvesta. 

Di NAYZ, Nusttanakit juga tercatat sebagai pemilik manfaat akhir melalui Saiko Consultancy yang menggenggam 29,41% saham perseroan.

“Penandatanganan Perjanjian Pengalihan Saham Bersyarat antara Saiko Consultancy Pte Ltd selaku penjual dan perseroan selaku pembeli, sehubungan dengan rencana perseroan untuk mengambil alih sebanyak 5.692.500 saham yang mewakili 75% dari seluruh modal saham yang telah diterbitkan Bangkok Tellink Co Ltd,” tulis Nusttanakit dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip pada Selasa (6/10).

Dalam transaksi tersebut, sebanyak 20% dari saham BTL yang hendak diambil alih akan dibayar secara tunai setelah penyelesaian transaksi. Sementara itu, 80% sisanya akan dikontribusikan Saiko Consultancy kepada NAYZ sebagai setoran modal dalam bentuk selain uang (inbreng) untuk pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Penyelesaian transaksi masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan sebagaimana diatur dalam perjanjian, termasuk persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) independen NAYZ.

Saiko sebelumnya juga menyiapkan dana maksimal Rp 87,68 miliar untuk melaksanakan penawaran tender wajib (mandatory tender offer/MTO) atas saham publik NAYZ. Aksi tersebut dilakukan setelah Saiko Consultancy mengambil alih saham pengendali NAYZ pada 19 Agustus 2026.

Untuk menjalankan tender wajib tersebut, Saiko menunjuk anak usahanya PT Saiko Consultancy Grand (SCG) sebagai pelaksana.

Pengumuman rencana akuisisi Bangkok Tellink langsung direspons positif oleh pasar. Saham NAYZ melonjak 9,59% ke level Rp 80 pada perdagangan Senin (5/10). Reli berlanjut pada perdagangan Selasa (6/10). Saham NAYZ melesat 10% ke level Rp 88. Alhasil, saham itu telah melonjak 27,54% dalam sepekan.

Namun jika dilihat secara fundamental, pada semester pertama 2026, NAYZ membukukan rugi Rp 2,97 miliar, membengkak 156,03% dibandingkan rugi Rp 1,16 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut tertekan oleh penurunan pendapatan perseroan. Pendapatan NAYZ merosot dari Rp 17,80 miliarmenjadi Rp3,64 miliar secara tahunan atau year on year. Beban keuangan perseroan meningkat dari Rp 30,06 juta menjadi Rp 40,17 juta secara tahunan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...